Pages

Tampilkan postingan dengan label self drafted pattern. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label self drafted pattern. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2020

Batik Keris Skirt

Suatu hari, teman saya meminta untuk dijahitkan rok batik dari bahan yang dia beli di Batik Keris Jakarta. Motif dan warnanya cukup klasik dan cocok untuk dipakai sehari-hari. Teman saya juga meminta supaya roknya diberikan dua kantung tersembunyi kanan dari kiri supaya dia bisa menaruh kunci apartemen dan telepon genggam. Dia juga meminta supaya pinggangnya dikasih karet elastik sehingga lebih fleksibel akan perubahan berat badan, khususnya lingkar pinggar.

* elastik

Setelah beberapa bulan berlalu, saya akhirnya sempat menjahitkannya. Polanya dibuat sendiri menyesuaikan dengan jenis kain (katun jenis poplin), panjang lebar kain, model serta panjang yang diharapkan teman saya itu. Intinya sih gathered skirt dengan kantung ya. That's all. Memang kedengarannya sederhana tapi saya cukup deg-degan karena belum pernah membuat ban pinggang dengan elastik. Akhirnya saya menaruh elastik hanya di bagian kanan dan kiri jadi tidak full sekeliling pinggang. Hasilnya, lumayan juga. Rok batik ini bisa dipakai untuk lingkar pinggang 82-100 cm.



Syukurlah teman saya suka. Katanya rok tersebut adem waktu dipakai liburan di Jakarta.

Selasa, 23 April 2019

Tunik Jumputan

Bulan Januari yang lalu, seorang teman minta dibuatkan tunik simple dari bahan jumputan. Dari permintaan itu, saya menggambar beberapa model lalu saya kirim ke yang bersangkutan untuk dipilih. Akhirnya ditentukan model super sederhana ini dengan dua kantong invisible di dua sisi.

Model ini sangat sederhana jadi saya bisa membuat polanya sendiri. Namun khusus bagian lengan, saya menggunakan pola pakaian yang sudah jadi (hm, tapi saya lupa pola yang mana, heuu...).

Dari tiga ukuran yang diberikan (lingkar dada, lingkar pinggang dan lingkar pinggul) oleh teman tsb, saya mencocokkannya dengan tabel ukuran di buku Bapak Soekarno. Lalu, ukuran S lah yang dipakai untuk membuat pola.







Bahan kain jumputan dari Jumput-jumpit Yogyakarta (Instagram : @jumput_jumpit).

Rabu, 27 Februari 2019

Mint Green Light Top

Kain ini sudah lama ada di lemari saya, hasil dari sale di toko Mondial Tissus. Bahannya jenis knit dengan lapisan dalam bertekstur seperti handuk/terry tapi halus. Setelah berhasil mendapatkan rib knit dengan warna sama, saya mulai membuat atasan ini. Desainnya sederhana, model kimono sleeves namun lengannya agak panjang. Lalu bagian belakang dibuat juga lebih panjang dibanding depan. 




Secara umum hasilnya oke. Tapi rib knit yang dijahit di bagian bawah baju tampaknya agak membebani kain yang tergolong ringan. Mungkin juga karena modelnya yang melebar di bawah.  Next time, dibikin lurus standar saja. Rib knit akan memberi kesan melengkung ke dalam jadi sudah cukup manis.

Atasan ini cocok dikenakan di musim peralihan panas ke dingin atau sebaliknya. Namun bisa juga dipakai di musim panas. Kurang cocok dikenakan di musim dingin khususnya untuk saya yah.

Bahan kain :
  • Mint green knit dari Mondial Tissus
  • Rib knit dari Marché du Tissus




Kamis, 15 Maret 2018

Camisole

Berhubung ada pesanan berupa camisole dress, jadi saya trial dulu untuk diri sendiri. Pola dibuat menggunakan panduan dari buku Soekarno (tingkat dasar) di bagian pola dasar gaun dan pola sackdress. Namun ada beberapa modifikasi dari saya. Ukuran yang dipakai adalah ukuran standar dari buku itu juga, yaitu L besar.

Trial pertama menggunakan kain cotton silk hasil sale di Les Coupons de Saint Pierre entah tahun kapan dan menggunakan invisible zipper. Trial kedua menggunakan scarf Zara dua bahan (crepe dan jersey) yang dibeli tahun 2012 (tidak pernah dipakai) dan tanpa zipper.








Modifikasinya (diaplikasikan di trial kedua) dan beberapa catatan :
  • Kupnat di pundak dipindah ke samping sebelum pola dasar dibuat menjadi kamisol. Lalu kupnat samping itu bisa diabaikan (tidak dijahit) kalau mau. Secara umum, saya lebih suka tanpa kupnat (fyi, dari pola dasar di awal, saya juga meniadakan kupnat bodice depan dan belakang, jadi cenderung lurus dari titik lingkar badan/dada ke arah titik lingkar pinggul)
  • Bawah kerung lengan naik 1 1/2 cm. Ini sudah tertulis di buku Soekarno tapi hati-hati, di bagian front tertulis naik 1/2 cm sementara di bagian back tertulis 1 1/2 cm. Menurut saya ini salah cetak dan saya menaikkan semua 1 1/2 cm
  • Penempatan tali/strap digeser ke arah samping kanan kiri sekitar 1 cm
  • Desain pakai yang standar saja, tidak perlu ikut yang di buku
  • Bagian front antara ketiak dan tali/strap dibuat agak melengkung untuk menyesuaikan bentuk area itu yang juga tidak flat lurus
  • No zipper needed! Karena sudah bisa masuk kok ke badan
  • Kalau bahan light sekali, lebih bagus jahitan samping berupa french seam. Tapi tidak wajib juga
  • Sebagian kamisol yang beredar di pasaran menggunakan bias binding namun saya memilih memakai facing. Jadi polanya tinggal copy di bagian tersebut tapi lebih pendek tentunya. Jangan lupa understitching !
Hasil, fitting cukup ok, terutama di bagian dada dan bawah ketiak. So, bisa lah untuk dalaman baju atau untuk tidur, zzzz.... zzz...


Handy Stitching Organizer

Tahun ini, saya mulai belajar bordir dengan tangan. Niatnya sih hanya untuk menghias pakaian yang saya buat, misalnya sedikit bordir di kerah, di kantung atau di dada. Lalu bulan ini ada kelas dasar yang saya ikuti untuk persiapan kelas bordir tradisional Brittany di bulan Mei. Semua kebutuhan stitching untuk kelas tersebut dimasukkan ke satu pouch yang harusnya untuk kosmetik. Cukup memadai, tapi setelah dipikir-pikir, saya merasa butuh satu organizer ber-pocket yang bisa menampung beberapa kebutuhan dasar dan bisa dibawa-bawa. Maka dibuatlah organizer ini.


Kain yang digunakan adalah sisa-sisa dari project menjahit sebelumnya kecuali kain utama (dulu beli di garage sale - jadi itu sisa kain yang aslinya punya orang lain). Bias binding juga dari sisa project  yaitu selimut patchwork quilting di postingan ini. Kebetulan warnanya "nyambung" dan panjangnya pas dengan kebutuhan. Pelapis dalamnya adalah Decovil Light dan kain batting yang suka dipakai untuk project patchwork (bukan yang fusible ya, kebetulan saya ada sisa yang ukurannya pas). Jadi organizer ini cukup solid untuk menampung kebutuhan saya, namun tidak kaku. Soft organizer lah...

Detail di dalam organizer :
  • Pocket besar berkancing untuk menaruh apa saja. Di sini saya memasukkan beberapa benang bordir yang sedang digunakan untuk project bordir
  • Lalu di pocket berelastik di bawah, saya memasukkan needle threader, gunting bordir, jarum bordir & jahit dan benang untuk basting. Kantung ini memang terbatas ukurannya jadi benang basting disisipkan saja di elastik tanpa masuk ke pocket. Di pocket ini bisa dijepitkan beberapa clip (merah) dan kebetulan saya butuh dua saja
  • Karena kadang sewing pins juga dipakai, maka saya membuat 2 fitur tambahan, yaitu kain putih (sisa fleece) untuk menyimpan pin serta satu mini pincushion yang dipasang kancing (jadi bisa dilepas dan disimpan di pocket besar bila perlu
  • Di sisi sebelah pincushion, saya menaruh D-ring untuk menggantung satu thimble karena kadang berguna juga untuk bordir tangan


Jadi kalau Anda ingin membuat personalized & customized organizer untuk menjahit, sesuaikan desain dengan kebutuhan Anda. Listing dulu semua kebutuhan dasar yang diperlukan. Lalu nanti saat mendesain, Anda lihat lagi list itu.



Lumayan deh, saya sekarang kalau membordir atau menjahit tangan di depan tivi atau di perjalanan, saya bisa ambil organizer ini dan mulai bekerja. Paling saya tinggal menambah lampu & kaca pembesar saja, maklum mata tua.

Sekilas tentang project bordir saya ada di foto di bawah ini. Nanti Insya Allah akan diposting lagi kalau sudah jadi. Ini bakal lama karena, hiks, kecil-kecil stitching-nya. 


Selasa, 21 November 2017

Dress Klasik

Waktu saya membongkar tumpukan kain di rumah, ternyata ada satu potong kain sisa project blazer anak yang potongannya masih cukup besar. Dipikir-pikir, bikin apa ya?

Akhirnya saya membuat sheath dress dengan pola dasar yang saya pelajari waktu kursus membuat kebaya. Pola ini saya modifikasi dengan menambah panjang sampai selutut dan juga memperpendek lebar bahu (entah kenapa saya merasa kepanjangan waktu fitting dress ini). 






Rasanya panjang lengan mau saya pendekkan. Kelihatan terlipat-lipat karena seperti tertahan di lekukan siku. Panjangnya nanggung sih, sementara bahannya bukan yang jenis jatuh melambai. Hemming bawah dan lengan dilakukan dengan tangan (slip stitch). Jadi terlihat halus, terkesan tidak ada jahitan. 

Furing dipasang hanya di bodice, tidak di lengan. Metode pemasangannya dengan cara :
  • hemming dulu bagian bawah furing (lipat dua kali, jahit mesin)
  • menyambung bagian facing dengan bagian atas furing, right side together, juga dengan mesin
  • menyambung bagian jahitan zipper sampai bawah, right side together, juga dengan mesin
  • menyambung bagian kerung lengan, jahit tangan
Lumayan lah hasilnya untuk acara-acara yang terkesan agak formal. Dan ternyata setelah diingat-ingat, kain ini memang dibeli (tepatnya November tahun lalu) untuk membuat dress musim dingin bermodel klasik. Tapi waktu itu, sebelum sempat dieksekusi, kainnya keburu ditaksir oleh si kecil yang kepingin punya blazer. Yey, akhirnya jadi dress juga deh. Memang ya, kalau sudah takdir, walau agak belok-belok sedikit, akhirnya sampai juga ke tujuan. Jadi, semangat terus yaa...!

Bahan:
  • Kain flanel cotton polyester dari Mondial Tissus
  • Furing kain pongé (polyester) dari Mondial Tissus

Rabu, 18 Oktober 2017

Seersucker Little Dress

Late post.

Tahun ajaran baru di Perancis dimulai pada bulan September. Seperti biasanya, saya membuatkan baju khusus untuk hari pertama masuk sekolah bagi sang anak bungsu. Polanya dari hasil buatan terdahulu dan hanya memodifikasinya menjadi dress berelastik di pinggang dengan satu kantong di depan.




Taa-daa...! 



Bahan:
  • Kain katun seersucker dari Mondial Tissus
  • Kancing dari Indonesia
  • Elastik juga dari Indonesia


Senin, 25 September 2017

Jumpsuit Anak

Latepost, Juni 2017

Menjahit jumpsuit untuk anak sebenarnya tidaklah sulit bila modelnya sudah disepakati bersama. Yang repot memang bila keinginan berubah-ubah sementara waktu terbatas. 

Kali ini, setelah pusing melihat beragam model, saya memutuskan untuk membuat percampuran antara 2 pola yang ada. Pertama, bagian atas jumpsuit yang menggunakan pola sendiri (kimono sleeve top) namun dimodifikasi dengan membuat kancing depan. Kedua, bagian bawah yang memakai pola dari majalah B Inspired (sebenarnya itu pola jumpsuit tapi model bagian atasnya kurang disukai oleh sang klien jadi saya ambil hanya bagian pants-nya), dimodifikasi dengan menambah panjang. Lalu, saya menambahkan ikat pinggang kain sesuai permintaan klien.

Voilà, akhirnya jadi juga dan cepat.

Bahan: 
  • katun motif sepeda, lightweight - cenderung seperti voile, Antiqua Fabrics (Jakarta)
  • katun polos merah, lightweight jenis batiste, Sigrid A Little Mercerie
  • elastik & kancing dari Jakarta




Minggu, 09 April 2017

Kebaya Jumputan

Sebagai salah satu busana tradisional Indonesia, kebaya banyak dikenakan di acara-acara resmi maupun kasual, misalnya acara kenegaraan, pernikahan, wisuda, arisan, dan lain-lain. Tentunya model, jenis kain dan aksesoris disesuaikan dengan tingkat formalitas acara, misalnya untuk hang out atau ke kantor, model kebaya dibuat lebih kasual, terkesan simpel serta berbahan kain katun yang ringan. 

Saya sendiri tidak sering mengenakan kebaya namun apa salahnya untuk memiliki beberapa potong untuk acara-acara gathering atau kumpul-kumpul dengan sesama orang Indonesia di sini.

Kebaya kutu baru yang saya buat di percobaan pertama menggunakan panduan dari buku Penuntun Membuat Pola Busana Tingkat Dasar karya Soekarno. Berdasarkan hasil tersebut, saya berniat untuk membuat lagi satu kebaya yang sama namun menggunakan bahan kain jumputan.


Dari pola hasil percobaan pertama tersebut, saya melakukan modifikasi lagi terutama di bagian kerung lengan karena terus terang saya agak kurang sreg di bagian tersebut. Kemudian saya membuat muslin ini. 


Setelah saya mencoba muslin tersebut, saya membuat beberapa modifikasi lagi (langsung di atas kain muslin) yaitu:
  • Mengambil 1.5 cm di kanan kiri jahitan bodice (jadi, diperkecil)
  • Menurunkan pundak 1 cm
  • Memperbesar kerung lengan 1.5 cm
Setelah semua ok, muslin tersebut saya gunakan sebagai pola saat memotong kain jumputan. Alhasil semua jadi lebih cepat dan lebih praktis. Lalu sebelum mulai menjahit, muslin disatukan ke kain jumputan karena saya memanfaatkannya sebagai lapisan/furing. Tekniknya lebih ke arah underlining. Ini saya lakukan hanya untuk bodice, tidak pada lengan (jadi lengannya tanpa furing).

Teknik underlining menggunakan muslin ini ternyata memang lebih praktis bagi saya. Semua tanda yang harus dijahit sudah ada di kain muslin, jadi saya tidak perlu memindahkan ke kain jumputan. 


Kemudian untuk pola lengan, saya meminjam pola Saiph Tunic by Papercut Patterns karena saya cocok sekali dengan lengan ini. Namun supaya pas dengan kebaya, saya memodifikasi (memperkecil) kerung lengannya, menyesuaikan dengan kerung lengan bodice kebaya. 

Proses penjahitan bagian kerah sampai bawah menggunakan tangan. Demikian juga untuk penjahitan hem. Karena menggunakan underlining, penjahitannya pun hanya mengenai si kain muslin/lining, tidak mengenai kain jumputan. Hasil dari luar terlihat lebih rapi.

Kain jumputan yang dibeli berukuran standar (berapa ya?) jadi untuk kebaya ini saya tidak bisa membuat lengannya sampai pergelangan tangan (kainnya tidak cukup - badan saya panjang termasuk tangan). So panjang lengan sampai bawah siku saja. Tak apa lah.

Walau masih ada kekurangan, saya sudah cukup mengagumi kebaya ini karena prosesnya yang panjang kalau dilihat dari waktu pertama kali saya mulai belajar membuat polanya. Selain itu, motif dan warna kainnya cantik, sesuai dengan warna kulit dan keinginan saya. Posisi darts sudah pas jatuh di tempatnya untuk pemakaian kebaya tanpa bustier (yah, cuma untuk kumpul-kumpul saja kan, bukan untuk ke acara resmi). Lalu, fitting secara keseluruhan memang agak "lega" supaya memudahkan gerakan saya. Lapisan muslin sebagai underlining membuat kebaya ini bisa dikenakan di luar musim panas karena kain double seperti ini kan menghangatkan badan.

Untuk berikutnya, kalau mau membuat kebaya serupa namun dari bahan brokat, ada baiknya saya membuat fitting lebih pas di badan. Berarti saya harus memodifikasi lagi polanya. Yak yuk lah ndak apa... Namanya juga belajar ya.



Kain jumputan (dan batik di bawahnya) dari @jumput_jumpit (Instagram).


Rabu, 29 Maret 2017

Essential Oil Case

Berhubung sebulanan terakhir ini kami sekeluarga sedang mempelajari penggunaan essential oils (EO) untuk kebutuhan kesehatan dan perawatan kulit, jadi saya pun membeli beberapa EO yang kami butuhkan. Kemudian  saya ingin mempunyai tempat atau case yang praktis untuk menyimpan dan membawa beberapa botol EO tersebut. Oleh karena itu, saya membuat case yang simple dan sederhana.

Bahan kainnya hanya menggunakan sisa-sisa yang ada alias fabric scraps. Kemudian bagian lapisan dalamnya adalah H630 (di-fuse di kain outer) dan Decovil 1 (di-fuse di kain inner). 

Decovil 1 ini tergolong kaku namun sangat cocok untuk membuat dompet atau case. Kakunya tidak berlebihan khususnya kalau bertujuan untuk menjaga botol-botol EO dari benturan. 

Di sini saya membuat catatan untuk kain inner. Kalau kainnya katun dengan ketebalan biasa (oxford, poplin atau patchwork type), di bagian lipatan dalam case terlihat sedikit gelombang kerut (foto case pertama). Ini saya lihat di 2 case yang saya buat di awal-awal trial. 

Kemudian saya mencoba kain katun yg lebih tebal, sejenis gabardine sisa membuat veste Mona. Hasilnya lebih bagus. Bagian lipatan dalam tidak ada gelombang. Rapi. 


So far saya cukup puas dengan EO case sederhana ini walau hanya mampu memuat 3 botol kecil ukuran 5 ml - 10 ml. Cucok lah utk dibawa dalam tas.

Case pertama dan saya pakai untuk sehari-hari


Case kedua (yang bawah)


Rok denim A-line

Sebenarnya rok ini dibuat sebagai wearable muslin untuk bawahan bodice Elisalex yang ada di postingan akhir tahun lalu (lihat di sini). Polanya dibuat sesuai panduan dari buku Cal Patch yang berjudul Patternmaking Simplified. Awalnya saya mencoba-coba untuk membuat rok A-line ini dengan menggunakan sisa kain katun poplin yang ada di rumah. Setelah dirasa ok, baru saya membuat versi lebih panjang sedikit, diperlebar A-nya dan menggunakan kain yang berbeda (denim). Dari versi denim ini, saya membuat bawahan Elisalex merah.

Si rok denim ditelantarkan di akhir tahun lalu sehingga pada akhirnya saya pun bertekad menjadikannya sebagai satu rok manis yang akan dikenakan tahun ini. Tahap pertama, dikasih kantung (patch pocket) dengan desain yang saya suka. Kemudian di kantong itu saya bermain dengan piping bermotif bunga-bunga kecil. Ritsleting saya pilih berwarna ungu lavender yang masih masuk dengan bunga-bunga kecil nuansa pink muda di piping. Lalu, di beberapa tempat saya memberikan sentuhan topstitching dengan benang berwarna pink fuchsia. Haduh, rame juga ya... haha...

Sentuhan terakhir adalah menambahkan waistband, dua lubang untuk ikat pinggang dan kancing plus lubang kancingnya. Selesai! Cucok untuk jalan-jalan dengan atasan sederhana sehingga terkesan jadul, hahaha...

*sambil bernyanyi lagu alm Chrisye, "Engkau masih anak sekolah... Satu SMA... Belum tepat waktu untuk begitu beginiiii..." *




Bahan:

  • Kain denim dari Marché du Tissu (Stoffen Spektakel)
  • Piping dari Mimirose Paris (ALMe)
  • Benang topstitch (Coats) dari Craftsy Shop

Rabu, 28 Desember 2016

Sweat-shirt Kembaran

Di tempat kami, kalau ada yang ingin membuat baju tapi tidak mau investasi untuk kain yang mahal, kita bisa mencarinya di Les Coupons de Saint Pierre (Paris) karena toko ini menjual banyak jenis kain dalam potongan 3 m dengan harga murmer. Jadi kalau baru belajar menjahit, bisa ambil satu potong kain katun 3 m seharga 10 euros yang kadang di-sale menjadi 5 euros. Atau, kalau ingin membuat pakaian yang cuma untuk dipakai di rumah (untuk tidur, masak, bersih-bersih, main), bisa juga cari kainnya ke toko ini. Pokoknya toko ini banyak pilihan dan cocok untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau ingin membeli kain mahal jenis silk sampai kain lace Calais, di sana juga ada lho... 

Salah satu kain yang saya beli di toko itu adalah kain katun light molleton yang sesuai untuk membuat sweat-shirt. Bahannya stretch dan nyaman dikenakan. Dengan 3 meter kain ini, saya sudah membuat satu sweat-shirt untuk diri sendiri dan satu lagi untuk si kecil.



Kalau Anda baru belajar menggunakan mesin obras, project membuat sweat-shirt termasuk mudah. Kita tidak memerlukan mesin jahit sama sekali. Hanya mesin obras.
  • Pola sweat-shirt dewasa: I am Sweat-Shirt size L by I am Patterns.
  • Pola sweat-shirt anak: self drafted (copy dari satu RTW size 8-10 yo).
  • Aplikasi hati: Frou Frou

Kamis, 18 Agustus 2016

Kimono sleeve outfits - untuk anak-anak

Late post lagi. Juli 2016.

Saya lagi suka sekali sama kimono sleeve top (atau dress). Buat saya, lengan jenis ini simpel dan mudah dibuat. Hasilnya pun manis dan longgarnya pas. Untuk itu saya ingin juga membuatkan untuk anak-anak. 

Bagi si sulung yang sudah memakai pakaian ukuran dewasa small, saya bisa menggunakan pola yang sebelumnya (majalah Prima tahun 1993). Tapi untuk si anak bungsu, saya belum ada polanya. Setelah mencoba untuk mencari pola siap pakai, saya menemukannya di Salme Patterns. Model seperti di bawah ini tapi sekarang sudah tidak ada ya, karena mereka tidak menjualnya lagi (terakhir sekitar dua minggu lalu masih ada dan di-sale).

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya nekad mau membuat sendiri. Modelnya kan sederhana, cenderung kotak saja. Apalagi untuk anak-anak, rasanya resiko gagal kecil. So, saya ukur-ukur deh badan si kecil dan mulai membuat pola di kertas. Kemudian, saya membuat muslinnya dari sepotong kain sisa. Setelah si kecil mencoba muslin tsb, saya memodifikasi sedikit langsung di situ. Kemudian si kain muslin itu yang saya jadikan pola (setelah didedel tentunya). 

Project pertama dari pola ini adalah atasan berbahan viscose. Project kedua, dress berbahan yang sama hanya berbeda warna di motif. Sukses! Senangnya... Jadi, teman-temin, kalau suka juga dengan model simpelnya kimono sleeve top atau boxy top, coba bikin sendiri aja. Pasti bisa *optimis*. Jangan lupa bikin versi trialnya dulu ya.

*perdana nyoba Entomology Pins - cucok utk bahan kain yg tipis dan gloyor




Rabu, 27 April 2016

Sewing machine cover

Beberapa model mesin jahit jaman sekarang memberikan cover rigid (solid) sebagai bagian dari aksesoris standar. Namun ada juga beberapa model yang memberikan cover berbentuk plastik. Kalau mesin jahit jaman dulu, ada yang mempunyai cover solid (biasanya kayu), ada yang sudah menjadi satu dengan mejanya sehingga dapat dimasukkan ke dalam, namun ada juga yang hanya dilengkapi dengan koper penyimpan yang tidak berfungsi sebagai cover BILA kita memposisikan si mesin di atas meja (kalau bentuknya koper, mesin jahit harus diangkat dan dimasukkan ke dalamnya, bukan sekedar ditutupi - bingung ngga?).

Nah, kalau Anda mempunyai mesin jahit tanpa cover dan selalu/sering memposisikannya di atas meja, untuk menghindari debu, kita bisa membuat sewing machine cover berbahan kain. Ide-ide cover sudah banyak ditemukan di internet. Ada yang sederhana, ada yang berkantong, ada yang menggunakan patchwork dan quilting, dan ada juga yang satu set dengan sewing machine mat, thread catcher (tempat sampah khusus potongan benang) dan juga pincushion.


Cover yang saya buat cukup sederhana. Bahannya menggunakan 3 macam kain katun yang ada di rumah. Untuk bagian depan, atas dan belakang, saya menggunakan lapisan semacam dacron tapi hanya sisa-sisa dari project selimut. Untuk bagian kanan dan kiri, saya menggunakan lapisan kain keras (pislin?) - kode angkanya H250 di bawah merk Vlieseline/Vilene.

Satu kantong dibuat di bagian depan dan dibagi menjadi dua. Yang paling besar untuk menyisipkan meja sambungan mesin jahit sedangkan kantong yang kecil bisa untuk apa saja. Ada aksen sedikit di kantong, yaitu piping berwarna kuning mustard. Finishing di bagian bawah menggunakan bias tape warna coklat tua.



Project ini dikerjakan secara kilat karena tingkat kebutuhannya cukup tinggi. Jadi memang ada beberapa ketidaksempurnaan, hiks, tapi secara fungsi tetap memuaskan. Tinggal membuat sewing machine mat dan thread catcher yang matching-tching...



Jumat, 18 Maret 2016

KCW Februari 2016

Kids Clothes Week (KCW) bulan February lalu bertemakan mainan. Seperti biasanya, kita dibebaskan untuk memilih apakah akan mengikuti tema atau tidak. So, saya pun membebaskan diri untuk menjahit baju si kecil sesuai minat dan kebutuhan dia.

Empat potong pakaian yang saya buat untuk si kecil lebih untuk musim semi karena kebetulan dia tidak ada kebutuhan khusus untuk sisa musim dingin kali ini. 


Atasan dari pola Ice Cream Dress/Top by Oliver and S

Atasan ini dibuat dengan memanfaatkan sisa-sisa kain katun yang ada di tumpukan rak. Semua berasal dari online seller di Indonesia kecuali kain pink polos yang berasal dari toko Les Coupons de Saint Pierre.






Atasan jersey rayon dengan pola buatan sendiri

Atasan ini dibuat berdasarkan inspirasi dari Our Fave Top by Tessuti Fabrics. Berhubung bahannya jersey, jadi semua penjahitan menggunakan mesin obras. Cepat dan praktis.

Dan ternyata si kecil sangat suka. Atasan ini pun cocok dipakai untuk latihan menari (sebagai lapisan luar body dan tight khusus danse).

Kain dari Tissus Bennytex, Bobigny.



Dress motif ikan paus dengan pola buatan sendiri

Pola dress ini dibuat sesuai keinginan si kecil (model lurus, kantong kanguru dimana kedua tangan bisa saling bertemu di dalamnya). Bentuknya lebih cocok disebut tunik dan dipakai di atas legging.

Kain katun dari Eurodiff.