Pages

Tampilkan postingan dengan label sewing machine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sewing machine. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

Obras dan Semi Obras

Kita ngobrol tentang obras mengobras yuk! Kadang di forum maupun di grup menjahit, ada satu dua orang yang bertanya tentang perbedaan hasil semi obras dari mesin jahit portable dan hasil obras dari mesin obras. Nah, di postingan ini saya hendak menunjukkan perbedaan hasil tersebut. Tapi ini khusus untuk mesin-mesin portable ya.

Mesin yang saya gunakan di sini adalah Brother 1034D untuk obras dan Brother Innovis 30 untuk menjahit. Kain yang saya gunakan adalah katun dengan ketebalan normal (midweight).

Sebelumnya, saya hendak menjelaskan bahwa ada dua sepatu jahit yang dipergunakan oleh mesin jahit saya untuk menampilkan hasil semi obras. Sepatu-sepatu tersebut adalah overcasting foot dan side cutter foot. Overcasting foot itu merupakan bawaan dari mesin jahit Brother Innovis saya dan biasa dipakai untuk semi obras pada mesin jahit portable. Sedangkan side cutter foot adalah sepatu tambahan atau dibeli terpisah dari mesin jahit dan gunanya juga untuk semi obras namun pada saat yang bersamaan, sepatu ini memotong kain sesuai arah jahitan semi obras mirip dengan mesin obras. 

Kiri: overcasting foot, kanan: side cutter foot

Bila mesin jahit Anda ada fungsi semi obras, silakan dicek dulu macam-macam jahitan yang bisa dipergunakan dengan sepatu overcasting. Di mesin jahit saya, ada tiga jenis jahitan untuk sepatu tersebut yaitu nomor 7, 8 dan 9. Dan untuk percobaan ini saya menggunakan jahitan nomor 9 (lihat foto, di bagian yang dilingkari hijau).


Untuk side cutter foot, sesuai instruksi di buku manual, jenis jahitan yang bisa digunakan juga sama yaitu nomor 7, 8 dan 9, namun bisa juga jenis jahitan nomor 1 (jahit lurus di sisi kiri - bukan di tengah). Untuk percobaan ini, saya menggunakan jenis jahitan yang sama dengan overcasting foot yaitu nomor 9.

Nah, setting untuk mesin obras adalah 4-4-4-4. Anda sebaiknya tes dulu untuk mendapatkan setting yang sesuai dengan kain. O iya, saya memakai 4 benang ya. 



HASIL


Kita mulai dari bawah, yaitu hasil semi obras dari overcasting foot. Cukup rapi, namun kalau kita tidak menjahitnya pas di pinggir, maka kita perlu menggunting sisa kainnya di sebelah kanan jahitan.

Hasil semi obras dari side cutter foot juga cukup rapi. Dan kita tidak perlu lagi memotong maupun merapikan sisa kain di pinggir kanan.

Hasil obras 4 benang, rapi dan cukup rapat. 

Kalau dari sisi waktu pengerjaan, yang paling cepat adalah menggunakan mesin obras. Jadi kalau misalnya kita menjahit dress panjang dan akan menggunakan semi obras, siapkan stok sabar dan konsentrasi yang banyak untuk merealisasikan semi obras tersebut karena bisa lama (dress panjang : penjahitan dan obras/semi obrasnya juga panjang).

***

Nah, semoga gambar-gambar di atas bisa memberikan pencerahan kepada Anda khususnya bila Anda sedang dalam kebingungan antara membeli mesin obras atau mesin jahit portable yang bisa semi obras.

Pendapat pribadi saya:

  • Untuk menjahit produk craft, fungsi obras maupun semi obras tidak terlalu diperlukan karena umumnya setiap pinggiran jahitan akan tertutup oleh lapisan kain dalam atau tertutup bias binding.
  • Untuk menjahit pakaian, bila hasil akhirnya akan dipakai sendiri, semi obras dari mesin jahit portable sudah mencukupi. Sedangkan bila hasil akhirnya untuk dipakai orang lain (permak atau konveksi rumahan), akan lebih baik bila kita menggunakan mesin obras supaya hasil terlihat lebih profesional dan tentunya lebih cepat prosesnya.


Rabu, 27 April 2016

Mesin Jahit Vintage

Seperti yang kita tahu, mesin jahit rumahan di jaman baheula itu terkenal kokoh dan tidak gampang rusak. Hasil jahitannya rapi dan cantik. Sistemnya yang mekanik cenderung lebih mudah diatasi bila ada masalah. Namun berhubung body dan semua (or, hampir semua) printilan di dalamnya terbuat dari metal, bobotnya jadi lebih berat dibanding mesin-mesin portable jaman sekarang. Jadi masuk akal kalau ada yang bilang bahwa mesin-mesin jahit jaman kita kurang kuat/kurang tahan lama karena banyak parts-nya dari bahan non-metal (plastik misalnya). Tapi perlu diketahui juga bahwa hal ini merupakan salah satu cara produsen mengikuti selera, kondisi dan daya beli pasar. Mesin jahit rumahan di jaman sekarang lebih ringan supaya lebih mudah dipindah-pindahkan. Untuk pemakaian rumahan, sebagian orang memilih mesin jahit yang lebih ringan karena mungkin saja mereka menjahitnya pindah-pindah, misalnya dari ruang makan ke ruang belajar, dari rumah sendiri ke rumah teman, etc. Kalau bobot mesin jahit seperti Singer jadul punya ibu mertua saya, terus terang saya juga ngga mau bolak balik angkat. Turun berok >_<

*mesin jahit mertua*

Kalau ngga salah, saya pernah membaca di artikel asing tentang mesin jahit rumahan di jaman awal-awal baru keluar. Itu katanya berat bangettts dan mahal bangetttss... Katanya lagi, harganya waktu itu melebihi harga rumah. Saya lupa bacanya dimana jadi anggap aja tulisan saya di paragraf ini sekedar gosip, hihi...

Bicara tentang mesin jahit jadul, setelah saya browsing ke berbagai forum anglophone (http://sewing.patternreview.com, http://artisanssquare.com, http://www.thesewingforum.co.uk), ada beberapa model lama yang sampai saat ini masih menjadi favorit banyak orang, terutama para quilters, yang tentunya disebabkan oleh ketangguhannya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Bernina Record 530, 730, 830 dan 930 (mereka sebut "thirty something")
  • Singer Featherweight
  • Elna Grasshopper
Itu baru sebagian saja. Merk lain seperti Kenmore, Viking (Husqvarna), Pfaff dan Riccar pun mempunyai model-model lama dengan ketangguhan serupa. Banyak orang yang meyakini bahwa mesin jahit rumahan jaman dulu itu dibuat untuk masa penggunaan yang panjang dan untuk meng-handle beragam jenis kain dari yang tipis sampai yang tebal. Maka tidaklah heran bila tahan lama dan kualitas jahitannya mantap, mesinnya pun bisa dilungsurkan ke anak atau bahkan ke cucu.

Belum lama ini saya memiliki kesempatan untuk "berkenalan" dengan Bernina Record 830. Kebetulan saat itu saya memiliki sedikit masalah dengan mesin jahit Brother yang biasa digunakan di rumah. Untuk itu, nasib membawa saya kepada Bernina tersebut dan kemudian saya menjadikannya sebagai mesin jahit kedua di rumah (sebenarnya ketiga karena mesin jahit pertama saya, Selecline, masih ada di rumah namun sudah jadi milik anak-anak saya).



Bernina Record 830 ini termasuk yang paling tangguh di jamannya. Masa jayanya sekitar tahun 70-an sampai awal tahun 80. Perawatannya sederhana. Cukup rajin memberikan minyak dan membersihkan dari debu atau kotoran yang menyangkut, mesin ini akan selalu siap bekerja. Kebetulan (lagi) saya mendapatkannya dari seorang mekanik Bernina. Jadi semua hal sudah dicek dan diperbaiki oleh yang bersangkutan sebelum diserahterimakan ke saya.

Hasil jahitan mesin ini cantik dan rapi. Project pertama yang saya buat dengan mesin yang diberi nama Toclo :D ini adalah dress berbahan denim (akan dibahas di postingan terpisah). Seperti yang telah dibahas dalam forum-forum menjahit asing, Bernina ini sangat solid untuk menjahit bahan denim. Yang perlu diperhatikan adalah setting tension yang harus disesuaikan (trial dan error dulu di sepotong kain denim sisa/bekas untuk melihat tension sudah pas atau belum).


Setelah project ini selesai, saya merasa bahwa Bernina ini menampakkan sedikit kejanggalan. Jahitannya menjadi agak loncat-loncat, suaranya agak berbeda, kemudian kadang ada benang dari spool atas yang putus. Saya sempat deg-degan. Kemudian saya ingat bahwa mesin mekanik harus rajin diminyaki. Ada yang bilang di forum, kalau suaranya mulai aneh, kasihlah minyak. Akhirnya saya melihat panduan yang ada (dalam bentuk PDF) serta foto-foto di grup Vintage Bernina Sewing Machine di Facebook. Dengan hati-hati saya memberikan minyak ke point-point yang ditunjukkan di dua referensi tersebut. Begitu mesin digunakan kembali, hasilnya cantik seperti sedia kala dan suara mesinnya halus lagi. Ternyata benar! Hidup mesin mekanik!

*minyak khusus untuk mesin jahit*




Kalau misalnya Anda saat ini sedang mempertimbangkan untuk membeli mesin jahit, coba survey juga ke pasaran mesin-mesin jahit jaman dulu (dengan atau tanpa meja khusus). Mesin jahit lama yang beredar di Indonesia di bawah merk Singer dan Butterfly kemungkinan besar juga memiliki ketangguhan yang sama dengan mesin-mesin yang saya singgung di atas. Mungkin ada baiknya bertanya juga kepada para penjahit senior yang sudah lama menjalankan bisnisnya. Kalau untuk membuat pakaian dan/atau craft, mesin jahit mekanik standar sudah mencukupi.