Pages

Tampilkan postingan dengan label jacket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jacket. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Agustus 2023

Jacket corona

iyaa..jaket ini saya jahit di masa corona virus (COVID-19) lagi gencar menyerang di 169-an negara. Sedih mendengar berita banyak korbannya.😔
Tapi sudahlah, jangan larut dalam berita mencekam tsb, saya butuh "pelarian" dan herannya saat "pengurungan diri" alias lockdown  mengembalikan sewjo yang sempat melempem.
Pilihan jatuh di jaket ACM Moderne. Pola dan kain sudah saya miliki sejak beberapa tahun, mojok tanpa saya sentuh. Sekaranglah saatnya mengeksekusi.


Jahit di size M, kain gabardine sekitar 1m80, kancing hanya pakai dari stok yang ada, secara selama lockdown tidak ada toko yang buka, jadi saya pikir nanti bisa di ganti kancing yang cocok kalau sudah bisa pilih kancing di toko. 


#postphone 2020

Jumat, 15 Maret 2019

Alteration pada Blazer

Baju kekecilan atau baju kebesaran ? Biasa ya. Entah karena perubahan badan, atau kita beli bajunya pas sale dan tidak sempat dicoba, atau tiba-tiba bajunya menyusut setelah dicuci, atau dapat lungsuran baju keren dari kakak (atau baju vintage dari ibu). Untuk alasan apapun, hal ini sering terjadi pada kita dan umumnya kita bisa membawa baju tersebut ke tukang permak untuk diperbesar (sedikit, tergantung kampuhnya) atau diperkecil. Tapi sebenarnya bisa atau tidak sih kita modifikasi sendiri ? Tentu bisa.

Alterasi baju merupakan salah satu kegiatan yang saya suka. Memperkecil, memperbesar, termasuk memperbaiki tentunya. Entah kenapa, kegiatan ini memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Rasanya seperti satu kesuksesan kecil begitu bajunya selesai dimodifikasi dan menjadi lebih pas di badan. 

Definisi dari alterasi atau alteration menurut kamus Cambridge :

"a change or changes made to the size or shape of a piece of clothing so that it fits better"

Beberapa kali saya membantu teman dalam memperkecil maupun memperbesar pakaian. Umumnya mereka memberikan pakaian jenis gaun atau atasan dengan jahitan standar. Jadi secara tingkat kesulitan, saya cukup yakin bisa. Untuk pakaian pribadi, selain memperbesar kebaya dan atasan, saya juga sudah memperbesar rok. Maklum ya, badan tambah besar jadi banyak baju yang harus diperbesar, haha...

Eniwei, Januari lalu, saya menyelesaikan alterasi blazer hitam yang dibeli bulan September 2018. Size baju ini sebenarnya sesuai dengan saya. Tapi di bagian lingkar dada dan lingkar lengan terlihat lebih besar. Lalu, bagian pundaknya terlalu turun, terlihat kurang bagus di badan saya. Blazer ini dibeli secondhand. Merk lokal bagus, terkenal dengan kualitasnya. Kondisi blazer seperti baru bahkan bagian kantung belum dibuka jahitan temporernya (kadang bagian kantung dari baju-baju RTW itu dijahit temporer, kita bisa dedel begitu akan dipakai). Saat itu saya butuh blazer hitam dan tidak ada satu pun yang saya bawa dari Jakarta. So, kebetulan ada yang cocok, saya ambil walau agak kebesaran. 


Lalu akhirnya saya putuskan untuk melakukan sedikit alterasi pada blazer tersebut. Sedikit, soalnya saya tidak mau blazer-nya terlalu pas di badan.

Dengan melihat satu kelas alterasi dari Angela Wolf di Craftsy (sekarang berubah nama menjadi Bluprint), saya berhasil memperkecil bagian-bagian yang kebesaran itu. Ribet ngga sih? Iya, ribet. Karena blazer itu potongannya tidak sederhana. Ada beberapa pieces yang dijahit sambung bila modelnya memiliki princess seams (seperti dalam case saya). Untuk itu, bagian yang didedel (dan nantinya dijahit ulang) lebih banyak daripada atasan sederhana. Selain itu, untuk menaikkan bagian pundak, saya harus menggeser dulu shoulder pad, tidak bisa langsung potong bagian yang terlalu turun itu. Jadi intinya, walau pakai judul "ngecilin sedikit", yang dibongkar sama besarnya dengan "ngecilin banyak". Noh... >_<

Tingkat kesulitan dari alterasi ini terlihat nyata dalam kelas Angela Wolf. Namun saya tetap kekeuh marekeuh untuk mencoba. Apalagi saya lihat bahwa modifikasi yang harus dilakukan tidak akan menyentuh kantung dan bagian pergelangan lengan (karena menurut saya dua bagian itu lebih sulit dirubah). Lagipula, setelah menyelesaikan kelas alterasi tersebut, saya makin yakin untuk melakukannya. Nekad tapi pakai ilmu dan panduan, boleh lah ya...


Hasilnya seperti pada foto ini. Kebayang ngga tadinya bagian ujung pundak (pertemuan dengan lengan) jatuh 2 cm lebih rendah dari itu. Sayangnya tidak ada perbandingan foto "before and after". Yang jelas, saya hepi berat setelah blazer ini selesai karena jatuhnya lebih pas di badan. Plus, pengalaman ini saya nilai sangat berharga. Di kemudian hari, kalau saya menemukan jaket vintage keren yang kebesaran, boleh lah dipermak sendiri, huhuyy...


Jumat, 24 Agustus 2018

Hampton Jean Jacket

Spring is here !🌸🌸🌼🌺
uhmmh...tepatnya minggu terakhir summer saat blog ini di posting 😅

Yaaay ! Tercapai cita-cita untuk punya dan jahit sendiri jaket jeans idaman ! Oh yeeaah !
Padahal jaket jean termasuk model yang klasik dan banyak di jual di toko😜, tapi saya bercita-cita jahit sendiri, supaya bisa memilih sendiri warna dan Jenis kain ( no stretch, puhleaseee..🙏🏼),  bisa mengatur panjang jaket dan panjang lengan sesuai keinginan. And yessss ! Begitu lihat pola Hampton jean jacket dari Alina Sewing Design Co, saya amati dengan cermat pola & deskripsi nya, pilihan saya jatuh ke pola ini. Semua yang saya inginkan ada di pola Hampton;  model jaket jeans klasik, dua pocket , no stretch. Pola ini di draft dengan cermat,  instruksinya bisa saya katakan di tulis dengan sangat detail setiap langkah dan di lengkapi dengan gambar/ilustrasi yang membantu dan apalagi  ada Sew along 👉di sini . Sebelum memilih Hampton saya juga sempat lihat pola Maisa Design Jacket dari Named Clothing, sayangnya bukan modelitu kurang cocok dengan keinginan saya ( tapi saya yakin well-drafted).


 
Hampton jean jacket saya jahit di kain  denim blue dark, no stretch &  medium weight. Kain ini saya beli dua tahun yang lalu di Marché du Tissu ( pasar kain annual), di simpan utk proyek yang tepat. Yang wajib di lakukan pada saat awal untuk treat kain denim adalah mencuci nya. Sebaiknya sih 2-3 X sebelum kain di potong, supaya kondisi kain menjadi lebih lemas dan menghindari nanti di kemudian hari setelah di jahit jadi sedikit melar,  juga kalau ada luntur bisa menguranginya . Terbukti dengan jeans Safran saya, yang di cuci ( pre wash) hanya satu kali sebelum jahit, setelah jahit, pakai dan di cuci 3-4X, jadi sedikit melar, berasa jeans agak longgar di bandingkan saat  jahit pertama.  Bisa jadi ini berhubungan dengan kualitas kain denim itu sendiri 🤔. 

Well, itu teorinya , tapi untuk jaket Hampton ini, saya cuci hanya 1X, dengan pertimbangan karena jaket I don't mind kalau agak melar dan lagian ini adalah kain jeans coton, so small risque.

Size dan modifikasi 
Saya pilih size 12 ( setelah jadi bisa turun ke size 10 atau bahkan size 8  jika tidak ingin tutup jaket ), tapi karena ini pertama kali nya saya jahit pola ini, lebih memilih untuk jahit di size agak besar dengan pertimbangan bahwa model jaket ini bisa tetap di kenakan walaupun sedikit besar.
Kain denim cotton , medium-weight 1m75 yang saya butuhkan untuk ukuran saya. Warna biruuuu tua (levi's look like color😎), yaaah saya sangat ingin memiliki jaket jeans dengan warna seperti ini tanpa embel-embel atau asesoris lain yang di jahit di jaket, tanpa ada model sobek sana sini. 🙊
Modifikasi pola :
  • Shorten sleeve 6,5cm 
  • shorten bodice 4cm 
  • 1" swayback
Tadinya saya ingin mengurangi lebar cuff juga ( 5cm original), tapi mengingat biasanya saat mengenakan lengan panjang saya lebih suka menggulung lengan tsb, jadi saya biarkan cuff seperti aslinya sebagai guide saat menyingsingkan menggulung lengan jaket.

Collar
Saya menggunakan interfacing vlieseline H180. Menurut saya agak stiff, but it's acceptable.

Kancing
Kancing saya pakai button jeans 17mm Prym, 14 biji. Tadinya saya mau pakai kancing jeans dari Wawak, tapi saya tidak menemukan bungkusan lainnya 🤦🏻‍♀️ ( 1 bungkus isi 12 biji), jadi saya pakai saja kancing Prym, 2 bungkus ( 1 bungkus isi 8 biji). Proses pemasangan kancing easy peasy, dengan awl  (pelubang) untuk membuat lubang kecil di jaket ( di posisi kancing akan di pasang) dan plier Prym . What a happiness pasang kancing jeans dengan plier, tidak membutuhkan palu, cukup di tekan kuat plier tsb dan kancing akan terpasang dengan rapi dan manis di jaket.

Perlu di ingat, tandai tempat pemasangan kancing dengan benar, supaya nanti saat melubangi dan pasang kancing tidak keliru penempatan kancing tsb. Kalau salah pasang, bisakah di cabut kancing nya dan rubah tempat pasang❓Good question ! Saya sendiri belum pernah coba, yang pasti akan ada bekas lubang pertama. 🤔
Untuk proses kancing, siapkan pencil untuk menandai, awl untuk melubangi jaket & plier  (tidak perlu di palu 🔨, cukup di tekan yang kuat).

Buttonholes aka lubang kancing
Proses jahit buttonholes lancar di bagian jaket yang ketinggian lipatannya sama rata, tapi sedikit kendala di bagian jaket yang permukaan nya tidak rata atau lipatan di bagian tertentu mempunyai ketebalan lebih. Untuk mengakali supaya foot presser buttonholes #3C tidak 'ngambek', saya selipkan lipatan potongan kain jeans yang tidak terpakai di belakang/bagian bawah foot presser, untuk memberi keseimbangan tinggi permukaan jaket, supaya sensor di foot presser buttonholes bisa 'mengukur dan mendeteksi' ketebalan kain & kemudian foot buttonholes bisa "menarik" kain di bawahnya dan lubang kancing yang di hasilkan akan rapi. 🤔 bingung tak gambarannya ? 😅 Intinya, posisi kain di bawah foot presser harus rata antara sisi kain yang tepat berada di bawah jarum (foot presser) dan bagian kain yang berada di bawah sensor foot presser. Saya sempat membongkar aka dedel 😣buttonholes yang saya buat pertama di bagian paling atas jaket, satu sisi agak tebal karena ketebalan lipatan seam allowance di antara kain.
Benang saya pakai benang Gutermann jeans untuk top thread dan Gutermann regular polyester di bobbin, jarum jeans #90/12.  Model buttonhole #54 , foot #3C di mesin jahit yang saya pakai.

Topstitching
Saya pakai benang Gutermann no.30 ( dari Wawak) sebagai top thread dan Gutermann regular polyester di bobbin (bawah),  jarum Topstitch Schmetz #90/12, stitch width 3.5.
 Tension saat jahit bagian yang sangat tebal di setting ke angka 6.25.
Kalau untuk jahit normal, pakai tension standar ikut angka di screen mesin jahit 5.25.

Saat jahit topstitching ini saya menyempatkan untuk mencoba metode lap seam menggunakan lap-seam presser foot  #71. Proses jahit lancar dan rapi sampai kepada bagian yang sangat tebal tidak rapi - well, saya kesulitan mengatasi bagian lipatan kain yang sangat tebal untuk masuk di dalam lubang foot #71 yang saya gunakan itu. Sayangnya saya tidak ada foto/video saat proses ini. Hasilnya secara umum bagus, rapi dan cepat, mungkin saya harus mencoba lagi. Karena ini adalah pertama kalinya saya menjahit di mesin dengan menggunakan foot #71 dan di kain denim yang bisa jadi tebal saat di lipat.  Saya pikir kalau di kain katun biasa tidak akan ada kendala.

Saya cukup senang dengan hasil akhir jahit Hampton. Dengan model klasik seperti ini saya bayangkan bisa dijahit di jenis kain lain juga dan warna lain. aahh...jadi ingin jaket warna hitam model seperti ini, tapi tidak menggunakan kancing jeans. Mengkhayal dulu aah..

Note.
(tidak ada sponsor/promosi brand!) 😁 Semua brand yang saya sebutkan di atas kebetulan merupakan brand dari alat bantu yang saya punya dan pakai untuk kebutuhan menjahit).

Rabu, 07 Februari 2018

Nicole bolero

Pola Nicole bolero dari Coralie Bijasson sudah nangkring di container sejak Juni 2016 di antara koleksi pola. Seharusnya saya jahit dua tahun lalu untuk sebuah acara,tapi..tidak dijahit 😛
Awal bulan ini tiba-tiba saya teringat dan ingin mencoba jahit pola ini, mengingat ada potongan kain lurex  wool like  sekitar 1M30 di stash yang sangat cukup untuk jahit Nicole bolero.

Model Nicole bolero yang simple ini mirip model Chanel jacket . Gampang di padu padankan dengan dress basic atau di padankan dengan blouse/tshirt dan jeans.
Kalau mengikuti instruksi dari pola asli (yang menurut saya sedikit membingungkan di step pasang lining di bagian depan bolero🤔), tidak ada petunjuk untuk menambahkan interfacing dan sleeve head di kain yang akan digunakan. Tapi saya memilih menggunakan interfacing dan sleeve head di bolero ini sekaligus untuk latihan membuat jacket semi-tailor. Kainnya bahan polyester termasuk heavy weight 420gr/m², yang agak susah di ajak 'kerjasama 🤦🏻‍♀️, kainnya yang berjuntaian itu lho. Jadi cocoklah saya kasih interfacing, sedikit membantu supaya menjaga helaian benang kain tidak rontok , ujung-ujungnya bisa hilang seam allowence. Lihat detail di photo !
Saya pakai dua jenis interfacing, H180 dan G785. Pinggiran kain saya pasang stay tape fusible. Terlebih karena kain ini agak sedikit stretch, dengan stay tape menjaga supaya kain tidak 'melebar'.
click photo utk zoom


 Pola saya tambahkan panjang bodice 1,5cm, supaya tidak terlalu pendek karena saya kurang suka bolero jatuh di atas waist. Lengan saya kurangi 1,5cm dan lupa menambah sedikit width di ujung lengan akibatnya lengan bolero jadi agak ngepas di tangan saya. Noted, next time tambahkan sekitar 1cm di masing-masing ujung lengan.
Bolero ini menurut saya very well draft ! Fit nya nyaman di badan, jadi ingin mencoba jahit pola-pola lainnya dari Coralie Bijasson yang ada di stash.