Pages

Tampilkan postingan dengan label sewing for children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sewing for children. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2020

Mousie Blousie

Sudah lama saya ingin membuat Mousie Blousie ini tapi baru kesampaian bulan Oktober yang lalu. Polanya dari kelas online Heather Ross di learning platform Creativebug (jangan lupa, Creativebug ini sistemnya langganan per bulan atau per tahun, dan bisa juga beli video kelas online yang kita suka). 

Bahannya adalah kain katun dari Jakarta yang sempat saya buat menjadi rok si bungsu dan sekarang sudah kekecilan. Jadi judulnya adalah repurpose atau reuse. Piping bunga-bunga, kebetulan ada di stok saya. Demikian juga kancingnya (kancing depan untuk dekorasi, kancing belakang untuk opening).

Ukuran yang saya pakai adalah 24 bulan. 



Cute ya ? Ini cuma blus alias atasan. Tapi kalau kita mau memodifikasi menjadi dress, bisa juga lho.


Rabu, 24 Juli 2019

Marieke Playsuit

Pola ini sudah lama nge-hits di dunia perjahitan online dan saya juga sudah lama tertarik. Tapi baru sekarang ini saya membelinya karena kebetulan ada sepotong kain dari Ellen Troyes yang sudah dipilih oleh si kecil untuk dirinya sendiri dan dia minta dibuatkan playsuit. Jadilah saya mengambil pola Marieke Kids dari brand Ikatee ini.

Kainnya 1 meter dari bahan viscose yang cukup lemas dan jatuhnya bagus. Lalu saya menambahkan passepoil (piping) di pinggiran kantung dan sambungan yoke di punggung. Ukuran yang saya ambil adalah 12. Memang jadinya agak kebesaran tapi ya sudahlah... 


Terus terang pengalaman pertama saya dengan Ikatee ini sangat mengesankan. Awalnya saya bingung dengan instruksi sambungan yoke di punggung. Saya malah sempat berpikir bahwa polanya salah. Ternyataaa... saya yang ndak paham, haha... Setelah muter otak dan bolak balik baca instruksinya baik yang english maupun yang french (iya, ada dua bahasa), akhirnya saya paham cara penjahitannya. Dan semua potongan pola tersambung pas dan rapi, tidak ada kesalahan pada pola. Selain itu, yang  bikin senang adalah variasi polanya yang banyak. Jadi kesimpulannya, pola ini jempol deh... 

Kancingnya dibuat dengan alat kancing bungkus ukuran, hm, berapa ya... Lupa. Tapi yang jelas, sekitar 12 mm. Interfacing yang saya pakai adalah vlieseline H180 berwarna hitam, disetrika di potongan kain yang digunakan untuk lubang kancing dan kancing.

Bagaimana ? Lumayan juga untuk cuaca panas di rumah.





Selasa, 23 April 2019

Baby Bibs

Wah, sudah lama ya saya tidak menjahit baby bibs. Jadi begitu ada teman yang melahirkan, langsung deh saya menawarkan untuk membuatkan beberapa baby bibs plus burp cloths. Semangat 45, hihi...



Pola-pola yang dipakai adalah gratisan (thank you !). Sedangkan bahan kain (katun biasa, katun jersey dan katun terry) dari sisa-sisa yang ada di rumah. Inilah salah satu fabric scraps project yang saya suka. Bongkar tumpukan sisa kain, pilih-pilih, jahit, jadi deh. Oh iya, untuk kancing snap plastik, kebetulan saya masih ada stok dari jaman membuat popok kain. Sedangkan kancing snap plastik transparan yang saya pakai untuk bib berbahan jersey, saya membelinya online dari Rascol. Kancing seperti ini cocok untuk jenis kain cenderung lemas. Untuk model bib dengan tali, saya menggunakan sisa bias binding yang ada di rumah.

Link untuk pola bib sederhana seperti yang saya buat : The Monday Blog.
Link untuk burp cloths : So Sew Easy.

Jumat, 15 Maret 2019

Menjahit Kain PUL untuk Wetbag

Bulan Januari yang lalu, kelas si kecil mengadakan perjalanan ke gunung dimana murid-murid menginap di sana selama seminggu. Acara ini umum diadakan oleh sekolah-sekolah selama musim dingin, tentunya tergantung budget dan kebijakan sekolah masing-masing. Dalam acara ini, murid-murid belajar ski dan juga belajar tentang alam yang ada di sekitar lokasi menginap termasuk sejarah kota/desa tersebut dan/atau kota terdekat.

Beberapa minggu sebelum si kecil berangkat, saya membuatkan satu wetbag besar untuk menampung baju-baju kotornya. Selain itu, saya juga membuatkan satu toiletries bag dengan motif sesuai dengan selera si kecil. Kebetulan semua bahan ada di lemari jadi saya tidak perlu membeli lagi.

Bahan :
  • Kain PUL motif monyet dkk (zoo)
  • Kain PUL motif dinosaurus dkk
  • Zipper plastik gigi besar
  • Zipper plastik standar
  • Benang warna senada
Alat bantu menjahit : walking foot & Clover wonder clips




Fyi bagi yang belum tahu. Kalau menjahit bahan kain waterproof atau semi waterproof, sebaiknya tidak menggunakan jarum pentul agar tidak meninggalkan lubang di bagian yang harusnya tidak berlubang. Sekarang sudah banyak penjepit yang bisa kita pakai untuk alat bantu saat menjahit. Selain merk Clover Jepang, ada juga merk lain yang harganya lebih bersahabat.

Walking foot dipakai supaya memudahkan kita dalam menjahit kain PUL yang cenderung sulit di sisi yang ada lapisan waterproof-nya. Option lain adalah menggunakan teflon foot. Atau Anda bisa menggunakan teknik selotip Scotch Magic yang ditempel di lapisan bawah sepatu jahit standar.

Bahan kain PUL tidak terlalu memerlukan finishing karena tidak fraying (tidak brudul pinggiran kainnya). Di sini saya hanya memotong kain tersebut dengan gunting zigzag lalu dijahit sambung biasa dengan potongan kain yang lain.

Jarak jahitan yang saya pakai adalah 3.

O iya, model wetbag dan toiletries bag dibuat menyerupai boxy pouch. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. 







Selasa, 20 November 2018

Kebaya dan Dress Batik

September lalu, dalam satu minggu yang cukup padat, saya berhasil "kebut-kebutan" dengan mesin jahit untuk membuat dua pakaian anak ukuran 8-9 tahun. Yang satu berupa kebaya kutu baru, yang satu lagi berupa dress batik.





Pola bodice dibuat dengan menggunakan panduan dari buku Esmod (Children's Garments) yang kemudian dimodifikasi menjadi kebaya kutu baru. Secara umum, prosesnya hampir sama dengan pembuatan kebaya di postingan ini. Bedanya hanya di penambahan ukuran dan adanya kupnat belakang. Bahan kain adalah brokat biasa yang dibeli dari Indonesia. Warnanya salem kalem dan cocok dengan warna kulit pemakainya. Liningnya juga dari Indonesia yaitu kain satin salem. 

Kebaya ini dikenakan saat ada acara bertema Indonesia namun pemakainya memadukan kebaya tersebut dengan celana jeans (supaya bisa lari-lari, hihi...).


Sedangkan untuk dress batik, polanya masih menggunakan Metropolitan Dress by Lil Luxe Collection. Modelnya sama persis dengan yang ada di postingan ini, bedanya hanya di ukuran dan motif kain. Kain batiknya merupakan hadiah dari keluarga di Indonesia. Liningnya menggunakan kain silk cotton putih dari Les Coupons de Saint Pierre

Seperti biasanya, satu potong kain batik itu panjangnya sudah standard. Nah, untuk Metropolitan Dress kali ini, saya memakai ukuran 9 tahun untuk bodice namun memaksimalkan panjang dress-nya sesuai kain. Panjang lengannya juga disesuaikan dengan sisa bahan. Jadi, kalau Anda menggunakan satu potong kain batik untuk membuat dress anak umur 9 tahun, masih bisa lho dengan model lebar bawah seperti ini. 




Selasa, 10 Juli 2018

Nani Iro Little Dress

Menyambung postingan yang sebelumnya, untuk pertunjukan akhir tahun di salah satu kegiatan yang diiikuti oleh si kecil, saya membuatkan gaun dengan menggunakan kain katun double gauze Nani Iro seri Planet. Kain ini adalah hadiah dari pengajar kegiatan anak saya tersebut dan panjangnya pas untuk satu potong pakaian kecil (1 meter, lebarnya kecil).




Pola yang dipakai adalah Caroline Party Dress dari Mouse House dengan ukuran 10 dan dengan modifikasi sebagai berikut:

  • Memperkecil lengan dan memberikan bias floral untuk finishing hem
  • Membuat skirt sesuai dengan ketersediaan kain (sisa kain dari bodice tidak cukup untuk skirt lebar seperti pada pola aslinya)
  • Menambah kantung (self drafted) tapi hanya di satu sisi 
  • Kerah diganti dengan vintage lace collar
  • No lining at all





Hasil akhirnya menampilkan dress yang cantik tapi panjangnya membuat badan anak jadi terlihat aneh. Akhirnya saya memperpendek dengan cara melipat hem sampai di atas lutut. Cucok !


Summer Dress for Dance Performance

Bulan Juni adalah bulan sibuk bagi para orang tua di Perancis (dan juga di beberapa negara lain). Hal ini dikarenakan akhir tahun ajaran jadi banyak kegiatan yang akan berakhir dan hampir semuanya membuat acara. Misalnya sekolah atau tempat les menari yang biasanya membuat pertunjukan akhir tahun (dance performance). 

Di tempat les anak saya, kostum pertunjukan menari ditangani oleh penjahit profesional. Kata profesional di sini ditujukan kepada para penjahit yang mengantongi ijazah sekolah mode dan/atau sekolah menjahit yang mempunyai spesialisasi di bidang pembuatan kostum (dance, theatre, film, pertunjukan, dll). Tahun ini, dari dua tarian yang dibawakan oleh anak saya, hanya satu kostum yang ditangani oleh ibu penjahit profesional. Sedangkan kostum yang satu lagi diserahkan oleh para orang tua. Kuncinya cuma satu, harus gaun warna putih, titik. Tentunya ada sebagian anak yang memiliki gaun warna putih jadi tidak perlu membeli baru. Tapi tidak demikian dengan anak saya. Jadi akhirnya saya membuatkan gaun putih.


Tujuan utamanya memang untuk pertunjukan menari, jadi bisa membuat kostum biasa, tidak perlu gaun yang spesial (toh hanya sekali pakai). Tapi, membayangkan proses dan waktu pembuatannya, saya berpikir kenapa tidak sekalian saja membuat gaun yang bisa dipakai untuk sehari-hari khususnya untuk musim panas tahun ini. Jadi, di suatu hari yang cerah, meluncurlah saya ke toko Mondial Tissus untuk membeli kain katun double gauze warna putih.
Kain katun double gauze banyak diminati oleh para penjahit rumahan karena teksturnya unik dan kainnya terasa lembut di kulit (cocok untuk anak-anak bahkan bayi). Pilihan warnanya pun banyak dan sekarang mulai ada yang bermotif lucu-lucu.
Sesuai keinginan anak saya, gaun dibuat dengan model yang sederhana. Polanya menggunakan Burda vintage Super Easy 6968 dan ukuran yang dipakai adalah 7. 
Bila Anda menggunakan pola jadi untuk menjahit baju anak, penentuan ukuran tidak harus sesuai dengan usia anak karena yang lebih penting adalah hasil pengukuran lingkar dada, lingkar pinggang dan lingkar pinggul. Jadi, ukur dulu anak Anda, lalu cocokkan dengan tabel yang ada di pola. Terkadang ada anak yang sangat kurus sehingga bisa menggunakan ukuran di bawahnya. Atau sebaliknya. 



Pola ini dimodifikasi sesuai kebutuhan yaitu dengan memperpanjang bodice sampai sekitar 6 cm di bawah pinggang, memperpanjang skirt sampai di bawah lutut, lalu memasang invisible zipper yang lebih panjang. Untuk membuat bodice lebih nyaman, saya menambahkan lining dengan bahan kain silk cotton warna putih.

Project ini terbilang mudah dan cepat. Dalam waktu sekitar dua atau tiga jam, gaun ini bisa selesai. Yang kadang membuat lama adalah penambahan lining. Namun karena lining di sini hanya di bodice, maka prosesnya tidak terlalu panjang.

Katun double gauze : Mondial Tissus
Katun silk : Les Coupons de Saint Pierre
Invisible Zipper : YKK dari Pasar Sunan Giri Jakarta


Selasa, 03 Juli 2018

Kulot Denim & Kebaya Anak

Postingan double nih, hihi..

Kulot ini dibuat terkait dengan kebutuhan mendadak dari si kecil. Sama seperti postingan kulot di sini, polanya menggunakan Oliver and S. Sementara itu bahan denimnya menggunakan sisa jeans Morgan saya di postingan ini. Cocok sekali bahan ini untuk pakaian anak karena tipis dan kebetulan potongan sisa kainnya pas untuk celana kulot. Hmm, panjangnya pas, tapi lebarnya sih tidak. Jadi saya mesti memodifikasi pola supaya kain yang terbatas ini tetap bisa dibuat menjadi kulot.

Lipat sana, lipat sini. 

Beberapa darts di pola terpaksa dihilangkan dimana hal ini merubah model yang aslinya melebar seperti layaknya rok lebar. Sedangkan hasil sesuai modifikasi akan lebih menyerupai celana yang sedikit melebar. Tapi saya berhasil mempertahankan lipatan di depan tengah dimana hal ini tetap menjaga wujud akhir kulot.





Nah, kalau yang kebaya kecil ini dibuat karena si kecil kepingin kembaran dengan mamanya. Jadi ya kainnya juga dari sisa-sisa kebaya mamanya. Pola dibuat sesuai dengan panduan pola dasar dari buku Esmod yang lalu dimodifikasi seperti pada waktu kursus kebaya. Karena ini untuk anak kecil, jadi saya tidak membuat darts sama sekali. 



Kancing di bagian bef dibuat praktis dan ringkas dari sisi pemakaian (lagi-lagi karena yang akan memakai baju ini adalah anak kecil). Caranya adalah dengan menggunakan snap buttons yang sudah dijahit di ribbon panjang. Pita berkancing ini dijual meteran jadi kita tinggal potong sesuai kebutuhan. Cara memasangnya hanya dengan menjahit si pita di bagian yang sudah ditentukan untuk kancing. Jahit lurus saja. Tapi hati-hati dengan jarak antara sepatu mesin jahit dengan kancing yang di pita. Karena pasti bersentuhan. Untuk amannya, gunakan sepatu khusus ritsleting krn cenderung langsing.

Fyi, di toko, pita berkancing ini ada yang warna putih juga. Di sini saya memakai warna hitam karena cuma punya yang itu.

Lucu sekali kebayanya begitu jadi. Imut. Tapi sepertinya saya membuat baju ini terlalu pas di badan si kecil. Jadi tahun depan tidak akan bisa dipakai. 





Rabu, 18 Oktober 2017

Seersucker Little Dress

Late post.

Tahun ajaran baru di Perancis dimulai pada bulan September. Seperti biasanya, saya membuatkan baju khusus untuk hari pertama masuk sekolah bagi sang anak bungsu. Polanya dari hasil buatan terdahulu dan hanya memodifikasinya menjadi dress berelastik di pinggang dengan satu kantong di depan.




Taa-daa...! 



Bahan:
  • Kain katun seersucker dari Mondial Tissus
  • Kancing dari Indonesia
  • Elastik juga dari Indonesia


Senin, 25 September 2017

Ice Cream Dress for gift

Late post, June 2017

Pola Ice Cream Dress (bisa jadi atasan saja) merupakan salah satu pola favorit saya. Modelnya sederhana, tapi cara membuatnya tidak sesederhana itu. Agak kompleks tapi tidak sampai ke tingkat advance. Selain itu, yang membuat saya suka adalah terbukanya kebebasan kita dalam memadukan motif dan warna dari bahan kain yang kita pilih. Hasil akan terlihat berbeda tergantung dari perpaduan tersebut. 

Kali ini saya membuat satu dress untuk kado. Size yang dipakai adalah 6 tahun. 





Bahan:

  • Katun motif bunga dari Mondial Tissus (koleksi lama sekali)
  • Katun polkadot hijau dari Sukie (Jakarta)



Jumpsuit Anak

Latepost, Juni 2017

Menjahit jumpsuit untuk anak sebenarnya tidaklah sulit bila modelnya sudah disepakati bersama. Yang repot memang bila keinginan berubah-ubah sementara waktu terbatas. 

Kali ini, setelah pusing melihat beragam model, saya memutuskan untuk membuat percampuran antara 2 pola yang ada. Pertama, bagian atas jumpsuit yang menggunakan pola sendiri (kimono sleeve top) namun dimodifikasi dengan membuat kancing depan. Kedua, bagian bawah yang memakai pola dari majalah B Inspired (sebenarnya itu pola jumpsuit tapi model bagian atasnya kurang disukai oleh sang klien jadi saya ambil hanya bagian pants-nya), dimodifikasi dengan menambah panjang. Lalu, saya menambahkan ikat pinggang kain sesuai permintaan klien.

Voilà, akhirnya jadi juga dan cepat.

Bahan: 
  • katun motif sepeda, lightweight - cenderung seperti voile, Antiqua Fabrics (Jakarta)
  • katun polos merah, lightweight jenis batiste, Sigrid A Little Mercerie
  • elastik & kancing dari Jakarta




Kamis, 31 Agustus 2017

Jahit baju anak

OMG! 🙊  Tak terasa sudah berada di hari terakhir bulan Agustus.😵  aaah..kenapa waktu berlalu secepat ini ?
Saya masih punya beberapa proyek jahit yang belum terealisasikan 😐.
Tapi ingin mencoba jahit baju  tshirt untuk bayi, memanfaatkan sisa kain yang ada. Iyup, ini salah satu misi saya, jahit baju anak pakai kain sisa -- untung aja kainnya saya simpan.
Ini baru pertama kali saya jahit baju bayi, maka di pilihlah pola gratis . Setelah googling, pilihan saya jatuh ke Barcelona jogpant dan Ringer tee  karena   ada sisa kain jersey/tshirt yang lumayan banyak, sisa jahit ini dan tshirt Heyjune pattern (not blogged) & plaintain tshirt ( pakai di sini). 
Kedua pattern ini termasuk sederhana, cepat dan mudah di jahit karena semuanya hanya menggunakan mesin obras. yaaay ! 💃
Ringer Tee & Barcelona jogpants
Total saya jahit tiga tshirt (akan  menyusul satu lagi) size 3-6M dan dua jogpant size 6M. Duuh...ternyata asyik juga jahit baju bayi- irit kain.😛
Proyek selanjutnya ingin jahit dress... 🙈

Jumat, 05 Mei 2017

Jamie Jeans, finally!

Saya 'ngidam' pola Jamie jeans by Named Clothing ini entah sejak kapan. Tapi karena harga polanya (printed version plus ongkir) lebih mahal dari pola indie yang lain dan saat itu pun saya belum memiliki ketrampilan yang baik dalam menjahit celana jeans, maka saya redam keinginan itu. Lalu saya melihat satu pola skinny pants (Black Magic) di majalah Ottobre akhir tahun 2014 yang membuat saya ingin mencoba menjahit celana jeans. Dari situ bergeraklah secara perlahan perjalanan dan proses belajar saya dalam menjahit pakaian favorit kami sekeluarga. Hingga sampailah pada Jamie jeans ini, akhirnyaaaa...

Jamie jeans ini didesain untuk jenis celana skinny jadi bahan kain yang disarankan adalah yang stretch, khususnya yang memiliki elastisitas 15-20%. Modelnya berbeda dengan skinny jeans yang ada di pasaran yaitu di bagian depan ada dua bagian yang dijahit satu, kemudian desain kantungnya yang unik. Secara umum, pola yang dikeluarkan oleh Named sesuai untuk orang yang berbadan tinggi. Tentunya tetap masih bisa untuk orang yang berbadan rata-rata atau di bawahnya asalkan kita tahu di bagian mana pola tersebut harus dimodifikasi.  


Berhubung anak sulung saya sedang membutuhkan celana jeans baru (urgent!), jadi Jamie jeans perdana dibuat untuk dia. Ukuran yang diambil adalah 36. Walau anak saya termasuk tinggi, namun demi mengantisipasi, saya menambah panjang 2 cm saat memotong kain. Bahan denim stretch yang dipakai sama dengan yang saya gunakan untuk membuat skinny jeans Black Magic. Pocket bag menggunakan kain motif bunga yang saya ambil dari rok anak saya yang sudah kekecilan (homemade sekitar 4 tahun yang lalu).

Tahapan konstruksi, saya banyak melihat sew-along di site Indie Sew.

Di awal-awal konstruksi, saya memperkirakan bahwa kesulitan hanya akan ada di bagian penjahitan kantung depan karena tidak sama dengan kantung celana jeans lain yang sudah pernah saya buat. Namun ternyata ada juga sedikit kebingungan pada urutan penjahitan fly front, crotch dan seam. Kalau dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, penjahitan dimulai dari bagian fly front dulu sampai selesai topstitching crotch, baru deh seam dalam dan samping. Tapi untuk Jamie ini terbalik, seam dalam dan samping dulu, baru deh fly front dan crotch. Hal ini sempat membuat saya 'kagok' dan kesulitan saat topstitching di bagian crotch karena saya merasa kurang lebar space jahit saya. Gawatnya lagi, saya memilih benang topstitching yang berbeda dengan warna bahan kain denim (akibat terlalu pede). Akhirnya satu dari 2 topstitching line yang dilakukan di bagian ini, saya menggunakan benang biru tua supaya satu line saja yang terlihat agak tak rapi (satu lagi tak kentara karena birunya sama dengan si denim). 

Metode fitting yang saya pakai di sini adalah baste and fit seperti yang dicontohkan di site Indie Sew. Bedanya adalah saya tidak mengikutsertakan waistband dalam proses pengepasan. Hasilnya, pinggang harus dikurangi 2 cm kanan dan kiri. Panjangnya justru pas (untung sudah ditambah 2 cm). Selebihnya tidak ada masalah.

Pemasangan waistband juga mengalami sedikit modifikasi tapi bukan karena ada masalah melainkan karena selera pribadi yaitu dengan memberikan bias binding pinky di bagian dalam.



Hasilnya setelah modifikasi, ternyata bagian depan (perut bawah) agak 'lega' ya. Kemudian, bagian kaki belakang agak memutar ke arah depan. Kenapee... Selebihnya sih oke-oke saja.



Secara keseluruhan, catatan saya untuk Jamie kedua nanti adalah:

  • Langkah konstruksi fly front-crotch-seam mengikuti Morgan jeans saja.
  • Khusus untuk topstitching bagian fly front lebih baik mengikuti cara di booklet Named, jangan ikut yang di site Indie Sew (hasilnya kurang bagus menurut saya).
  • Benang topstitching pakai yang biru tua saja. Lebih aman dan kalau melihat contoh yang dibuat Named juga tetap kelihatan bagus.
  • Bagian depan celana yang dekat dengan fly front dikurangi 2 cm (masing-masing kanan kiri) dari arah fly front-nya (belum tahu bagaimana tapi worth it untuk dicoba).

O iya, untuk celana jeans ini, untuk pertama kalinya saya menggunakan benang topstitching dan benang jahit khusus jeans yang satu paket dari Gutermann. Terus terang saya suka sekali dengan warna benang topstitching ini. Perfect di atas biru tua si denim. Lalu, untuk pertama kalinya juga saya menggunakan ritsleting YKK khusus untuk celana panjang (Tasca Trousers). Ritsleting ini cocok juga untuk celana jeans khususnya yang warna denimnya bukan biru muda. Untuk denim biru muda, YKK mempunyai produk ritsleting khusus yang tertulis "super jeans" (paling kanan dalam foto paling bawah).




Detil bahan material:

  • Kain denim stretch: Les Coupons de Saint Pierre
  • Kain lining: recycle dari rok 
  • Bias binding: sisa project batik anak
  • Benang jeans Gutermann: Mondial Tissus
  • Ritsleting YKK: Eurodif
  • Fusible interfacing untuk waistband: Vlieseline H200
  • Jarum jahit: Schmetz jean size 100
  • Jarum topstitching: Schmetz topstitching 100
  • Kancing: jeans ukuran 17mm dari Mercerie Carefil







Blazer Anak

Pada saat anak ingin memakai blazer sementara di tiga toko yang kami datangi tidak ada yang menjualnya, yuk ah bikin... Tapi karena agak mepet deadline-nya (ahaha, yang kasih deadline juga si kecil lah...), sementara stok kain yang cocok untuk blazer tidaklah banyak, akhirnya dengan berat hati saya merelakan sepotong kain yang sebenarnya hendak dibuat untuk dress musim dingin, hik... Demi anak, demi anak...

Pola menggunakan sumber majalah B Inspired (sekarang ganti nama menjadi B Trendy) dari Made by Oranges edisi Spring-Summer 2016 size 128.




Kalau dilihat modelnya, kelihatannya sederhana. Namun bagi saya yang belum pernah menjahit kerah blazer, berarti kesulitannya ada pada penjahitan kerah dong ya... Iyaaa... *tertunduk pingsan* Apalagi majalah B Inspired ini tidak memiliki ilustrasi gambar dalam step-by-step penjahitannya. Jadi hanya instruksi tertulis (dalam 4 bahasa: Inggris, Perancis, Jerman, Belanda). Setelah pusing tujuh keliling, akhirnya saya sedikit modifikasi polanya supaya sang kerah terlihat mirip dengan model aslinya, hehehe...

Hasil akhir, ya seperti ini. Tentu saya tidak puas dengan kerahnya. Tapi next time akan lebih baik *berdoa siang malam*. Atau untuk yang berikutnya, kita bikin yang tanpa kerah saza... yang ala-ala Channel gitu...



Bahan kain:

  • Poly cotton flannel dari Mondial Tissus
  • Rayon lining motif kucing dari Antiqua Fabrics (IG dan FB, Indonesia)



Yang jelas, seperti biasanya, si kecil happy dan langsung memakainya untuk ke supermarket, kemudian juga ke tempat Nenek. Berasa seperti wanita karir ya, Dek...