Pages

Tampilkan postingan dengan label Indonesian textile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian textile. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Projects Half Done - Maret 2018

Jadi seperti yang terjadi pada sebagian penjahit yang membuat pakaian untuk diri sendiri, saya juga suka memulai satu project dan kemudian meninggalkannya karena berbagai alasan. Maksudnya, ya project tidak selesai. Minggu lalu saya menyelesaikan dua karena mulai "begah" dengan projects half done yang berserakan di rumah.

Yang pertama adalah atasan simple dengan pola yang sama seperti di postingan ini. Bahannya menggunakan sisa lining (satin polyester) dari project trench ini. Kebetulan minggu lalu saya menemukan toko yang menjual bias binding in satin dalam warna yang sesuai dengan keinginan. Maka, selesailah finishing atasan ini.

Note: bahannya yang licin dan super lemas agak menyulitkan jadi harus dikerjakan dengan hati-hati.



Kedua, light jacket dari bahan tenun Bali Endek dengan lining dari katun vintage. Pola aslinya dari veste Mona tapi saya modifikasi sedikit di bagian dekat leher (dibuat melengkung). Berhubung kain utama memiliki motif, jadi saya berusaha mencocokkan supaya harmonis dan itu tidak mudah, heu... 

Note: jahitan yang saya buat untuk menyatukan kain utama dan lining di bagian pergelangan tangan tampaknya harus dibuka lagi dan dibuat lebih baik (jatuhnya jadi tidak kaku, harus terlihat lebih organik).


Sabtu, 03 Maret 2018

Rok Batik Wiron

Salah satu kesulitan kami yang tinggal jauh dari ibu pertiwi adalah saat kami memerlukan pakaian bernuansa tradisional untuk acara-acara tertentu. Karena kalau kami pesan ke kampung halaman, ongkos kirimnya jadi mahal. Belum lagi kalau ada kesalahan ukuran. Untuk itu, saya pribadi merasa harus bisa membuat sendiri pakaian bernuansa tradisional walaupun sederhana dan simple. Salah satunya adalah bawahan batik berwiron yang tentunya sekarang ini sudah banyak yang dibuat menjadi rok ber-zipper.

Niatan untuk membuat rok batik wiron sudah muncul sejak tahun 2016 namun akhirnya saya merealisasikannya tahun lalu saat seorang teman meminta bantuan untuk membuatkan satu. Dengan modal informasi terbatas dari internet, satu rok batik wiron milik teman sebagai contoh, plus satu lagi milik ibunda saya, akhirnya saya pun mencoba. Sejauh ini, saya sudah membuat 5 bawahan batik wiron. Dua di antaranya untuk saya sendiri, sisanya pesanan teman-teman (contohnya di bawah ini).



Beberapa panduan dasar yang saya temukan adalah:
  • Untuk wiron Yogya, bagian pinggirannya (tumpal) kelihatan dari depan, jadi dilipatnya ke arah luar. Sementara untuk wiron Solo, bagian pinggirannya itu dilipat ke dalam, jadi tidak kelihatan
  • Jumlah lipatan wiron ganjil
  • Wiron untuk perempuan, lipatannya di bagian kiri. Sementara untuk lelaki, lipatannya di bagian kanan. Bingung ndak? 
  • Lebar lipatan wiron sekitar 2 jari untuk perempuan, 3 jari untuk laki-laki
Lalu penerapannya, untuk lebar lipatan wiron, saya sendiri menerapkan 2-3 cm, tergantung panjang kain dan jumlah lipatan yang saya mau. Lalu jumlah lipatannya antara 5-9, juga tergantung panjang kainnya. Katanya, semakin banyak lipatan, penampakannya akan terlihat makin cantik. Tapi capek juga ya bok melipatnya...

Cara membuat rok batik wiron di sini adalah hasil dari observasi saya terhadap dua rok yang sudah jadi (seperti yang sudah saya mention di atas) dan beberapa modifikasi seperlunya. Jadi kalau memang cara saya tidak sesuai dengan pakem yang asli, mohon dimaafkan yaa... Yang jelas, pembuatan rok wiron di tulisan ini tidak memotong kain sama sekali. Jadi suatu hari, jahitan bisa dibuka dan kain batik bisa kembali utuh. Ya paling ada lubang-lubang kecil bekas jahitan :)

Pertama-tama, yang harus dipersiapkan adalah:
  • Kain batik panjang (perhatikan motifnya karena biasanya ada bagian atas dan bagian bawah, jangan sampai terbalik)
  • Zipper warna senada dengan kain, panjang 20 cm
  • Benang warna senada dengan kain
  • Kancing jepret (atau kancing kait seperti yang dipakai di rok dan celpan)
Lalu, yang harus diukur adalah:
  • Lingkar pinggang
  • Lingkar pinggul
  • Panjang rok (kalau panjang rok yang ingin dibuat ternyata lebih dari lebar kain yang tersedia - biasanya ini terjadi pada orang yang tinggi- maka kainnya harus ditambah dengan kain yang lain, umumnya polos, sebelum proses pembuatan lipatan wiron)
  • Panjang belahan wiron (ini sesuai preferensi saja, saya pakai sekitar 30 cm dari bawah)
Lalu, mulai lipat wiron sebanyak yang dimau. Gunakan setrika untuk menghasilkan lipatan yang rapi. Kalau sudah jadi, jepit wiron supaya tidak terbuka lagi. Penjepitan bisa menggunakan jepit rambut atau wonderclip-nya Clover. Atau, bisa juga diamankan dengan peniti.



Kembali ke ukuran panjang rok, bila ternyata kainnya kepanjangan, di tahap ini kita bisa melipatnya ke arah dalam. Setrika supaya rapi, jelujur sedikit untuk menjaga lipatan (atau bisa juga diberi pin, tapi saya pribadi lebih suka menjahit jelujur). Bagian yang terlipat wiron juga ikutan dilipat ke dalam ya. 


Sekarang kita akan membentuk kainnya menjadi rok dan dimulai dengan ukuran lingkar pinggung. Jadi misalnya:



  • Lingkar pinggul 94 cm
  • Lebar lipatan wiron 3 cm dimulai dari sisi kiri (garis-garis merah)
  • Lipatan dua kali di sisi kanan dengan lebar antara 3-5 cm (garis-garis hijau) - ini tidak wajib, saya hanya suka dengan adanya lipatan ini di sisi yang berlawanan dengan wiron, terkesan rapi cantik dan juga bisa membantu memperpendek panjang kain (bila terlalu panjang, sementara badan pemakainya kecil sekali)
Lalu, ujung sisi kiri akan menimpa ujung sisi kanan sebanyak 2 - 3 cm dan bagian yang tertutup akan dijahitkan zipper di sisi atas.



Optional: Saat melipat sisi kiri ketemu sisi kanan, kita bisa membuat agak miring ke atas. Tujuannya supaya hasil akhir bawah kain agak mengecil/menyudut. Tapi kalau kita mau membuat lurus-lurus saja juga tidak apa. Malah hasil akhirnya, kita lebih mudah untuk melangkah.

Di tahap berikutnya, kita bisa mulai memasang zipper di bagian sisi kain yang tidak ada wironnya. Cara penempatan zipper bisa langsung di ujung kain atau agak turun sedikit. Nanti bagian kosong antara ujung kain dan zipper diberi kancing jepret. 

Ini contoh pemasangan zipper di ujung atas kain

Di tutorial ini, cara kedua yang saya pilih karena kain terlalu panjang dan harus dilipat sehingga ada bagian lekukan lebih tebal (yang berwiron) dan akan membuat sulit dalam pemasangan zipper. Jadi saya menurunkan posisi zipper sampai ke bagian yang tidak kena lekukan wiron.

Ini pemasangan zipper yang turun dari atas sesuai posisi lipatan wiron (lihat di atas telunjuk saya)

Mari ke tahap berikut:
  • Ujung atas zipper dilipat sedikit dan dijelujur terlebih dahulu ke kain sebelum dijahit permanen dengan mesin
  • Jahit zipper ke bagian yang tidak ada lipatan wiron, dalam hal ini sisi kanan kain (jelujur dulu, baru kemudian dengan mesin)
  • Jahit zipper ke bagian yang satu lagi (jelujur dulu, baru lanjut dengan mesin), dengan melibatkan satu lipatan wiron yang paling bawah - maksudnya, lipatan terakhir itu yang dijahit dengan zipper (lihat foto di bawah). Lipatan terakhir itu sebaiknya menutupi keseluruhan zipper sehingga tidak terlihat dari luar setelah jadi
  • Buat jahitan untuk menutup bagian bawah zipper, lalu menyambung ke bawah sampai ke bagian bukaan belahan (dalam gambar di bawah, belahan adalah 30 cm dari bawah, namun panjang ini bisa disesuaikan dengan keinginan)

Lipatan terakhir menutup zipper

Setelah kedua sisi dijahit

Penjahitan di akhir zipper lalu turun ke bawah sampai ke batas belahan 30 cm dari bawah

Ilustrasi 30 cm dari bawah

Jahitan dari zipper sampai belahan ditandai dengan pink seam ripper dan panda tape measure 

Tampilan keseluruhan 



Tahap selanjutnya adalah membuat jahitan kupnat. Cara yang paling mudah adalah dengan mencobakan kain yang separuh jadi itu di badan calon pemakainya. Karena dari situ, kita tinggal menandai bagian yang akan dijahit kupnat plus pinggang yang mengecil. Tapi, kalau calon pemakai tidak ada di dekat kita, berikut ini cara yang saya pakai.

Lingkar pinggul dikurang lingkar pinggang, hasilnya didistribusikan untuk :

  • 2 kupnat depan
  • 2 kupnat belakang 
  • 2 pinggang kanan kiri

Secara umum, lebar kupnat adalah 3 cm. Jika lingkar pinggang adalah 70 cm, maka hitungannya :
94 - 70 = 24
24 - ( 4 kupnat x 3 cm) = 12
12 ini dibagi dua untuk pinggang kanan dan kiri = 6
Kalau saya perhatikan satu contoh rok wiron milik teman, jahitan kupnatnya ada 5, bukan 4. Jadi maksudnya, hitungan di atas hanya untuk panduan saja. Pada akhirnya kita bisa menyesuaikan sendiri.

Panjang kupnat, saya memakai 12 cm seperti di buku Bapak Soekarno. Semua saya tandai dengan kapur jahit, lalu saya jelujur dahulu. Setelah jahit jelujur, kita bisa mencobakan ke calon pemakai. Nanti penyesuaiannya dapat dilakukan lagi di situ.

Setelah jadi kupnat dkk, jangan lupa pasang kancing jepret (atau kancing kait) bila diperlukan. Saya lebih suka kancing jepret yang ukurannya agak besar, minimal diameter 12 mm. Jumlahnya tergantung kebutuhan. Di tutorial ini, saya pasang dua kancing jepret berukuran diameter 13 mm.


Optional tapi essential: Lipatan wiron perlu dijaga supaya tetap rapi dan tidak mengganggu kita saat menjahit. Jadi  kita bisa mengamankannya dengan jahitan kecil seperti di foto berikut. Jahitan kecil seperti itu bisa dibuat beberapa buah dari atas ke bawah.



Jahitan kecil seperti titik di atas jempol saya


Ok, sekian dulu ya... Kalau ada yang bingung, silakan tanya saja. Anda bisa juga merujuk kepada rok batik wiron yang ada di pasaran. Perhatikan cara penjahitannya dan sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Happy sewing !


Kamis, 09 November 2017

Karya Oscar Lawalata

Bulan September yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri acara Festival Couleurs d'Indonésie di Paris. Acara ini diselenggarakan oleh KBRI Paris dan tahun ini mereka dibantu oleh komunitas Diaspora Indonesia di Perancis. Inti acara FCI ini lebih kepada promosi kebudayaan Indonesia dan juga perkenalan akan produk-produk buatan atau merk Indonesia.


Di acara ini, saya melihat pameran busana karya Oscar Lawalata dengan tema nusantara. Dua tahun sebelumnya, saya juga ke acara FCI ini dan pada waktu itu Oscar Lawalata membawa karya tenun serta batik. Sebagian besar dalam bentuk kain yang dipajang dengan cantik. Nah, kali ini karya yang dipamerkan lebih kepada pakaian jadi. Dan buat saya pribadi, desain-desainnya cukup menarik sebagai sumber inspirasi menjahit.

Yuk, kita lihat bersama di bawah ini.














Senin, 02 Oktober 2017

Mirota Batik

Wah, ini pasti juga semua orang kenal. Mirota Batik atau Hamzah Batik. Setiap kali ke Yogyakarta, pasti saya ke toko ini untuk mencari oleh-oleh. Kali ini, saya pun mendatangi tempat populer tersebut tepat di hari pertama tiba di Yogyakarta.


Bagi saya, selalu menyenangkan untuk melihat demonstrasi proses membatik. Sang ibu pembatik terkesan amat sangat sabar dan tentunya sangat berpengalaman.


Di lantai atas ada cantolan baju dari kayu dan berbentuk mesin jahit. Lucu !


Sudut ini cukup menarik bagi saya karena sebagian besar kain batik berwarna sogan. Senang!




Dan kunjungan kali ini, saya melirik perlengkapan membatik. Rasanya ini saat yang tepat untuk mengadopsi beberapa malam dan canting, serta pewarnanya.

Ok, berikut ini beberapa kain yang ada di Mirota. Betapa beratnya menahan diri untuk tidak compulsive buying, heu...



*kain dari serat nanas*



Bagi pecinta batik dan saudara-saudaranya (lurik, jumputan), segala aya dah di Mirota... Cuma harus siap-siap mumet karena banyaknya pengunjung yang ada di dalam toko ini. Penuh sekalih... Paling enak memang pas jam buka (kalau tidak salah jam 9). Namun sekitar sejam-an kemudian, mulai ramai sekali.

Note. Bila Anda ingin alternatif toko yang menyediakan suvenir serta kain batik dkk, cobalah kunjungi :

Jl. Panembahan No. 58
Panembahan, Kraton
Yogyakarta
Tel. 0274-375208

Toko ini direkomendasikan oleh staf penginapan kami (kebetulan berlokasi di area yang sama). Saat saya mampir ke sana, terlihat beberapa kain batik, lurik, jumputan dan yang lainnya. Saya mengadopsi sebuah angkin jumputan seharga Rp. 60.000,- dengan kualitas yang bagus.

Sekilas di Beringharjo

Pasar Beringharjo, siapa yang tidak kenal? Pasti Anda semua tahu pasar ini, tempat belanja batik di Yogyakarta yang merupakan salah satu tempat favorit para wisatawan yang berkunjung ke kota pelajar. Bahkan sangat favorit bagi mereka yang pandai dan senang menawar harga, hihi... Lokasinya yang dekat pusat kota, terutama dekat Jalan Malioboro, membuat saya tidak berpikir panjang untuk singgah.

Kesempatan pertama, saya tiba pagi sekitar jam 8. Masih sepi (ya iya lahh... :D ). Jadi akhirnya saya foto-foto sedikit (padahal ada tanda dilarang foto - maap yak). 



Bagi yang suka batik siap pakai, tentu ada beberapa pilihan yang bisa dilihat. Dari model yang sederhana seperti daster rumahan, gamis sampai dengan pakaian kantor. Beberapa modelnya cukup modern tapi harus jeli mencari. Saya menemukan dress pendek dengan bagian pundak berlubang, seperti yang sedang jadi trend itu.




Bagi saya yang lebih memilih kain panjang, akhirnya pilihan jatuh pada kain batik semi sutra yang meteran di toko Roroys Textile. Kalau saya tidak salah ingat, harganya Rp. 40.000,- per meter. Sayangnya waktu saya tanya "semi sutra itu artinya campuran sutra dengan serat apa? dan persentase komposisinya bagaimana?", penjual tidak bisa menjawab. 

Dugaan saya, dengan harga itu, kandungan sutra-nya pasti sedikit. Atau, mungkin saja sutra buatan atau yang kita kenal dengan nama rayon. Bisa juga, sutra sintetik dari polyester karena saya merasa kehalusan bahannya sama dengan kain polyester silk yang saya beli di Les Coupons de Saint Pierre (sekitar 15 euros / 3 meter). Yang jelas, beda dengan scarf sutra milik saya, baik yang batik hadiah pernikahan, maupun yang dari pusat kerajinan sutra di Lyon.








Hari kedua, saya mampir sekitar jam 10-11, dan itu sudah ruame tenan... Wisatawan lokal maupun asing sudah memadati kios-kios batik. Oleh karena itu, saya hanya melihat satu toko yang tidak jauh dari Roroys (lupa namanya) karena pilihan kain cukup banyak dan harga cukup kompetitif, misalnya kain batik cap warna cerah harganya sekitar Rp. 60.000,-.


Rasanya lain kali kami ke sana lagi sambil bawa koper beroda ya.