Pages

Tampilkan postingan dengan label vintage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vintage. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

Summer Dress for Dance Performance

Bulan Juni adalah bulan sibuk bagi para orang tua di Perancis (dan juga di beberapa negara lain). Hal ini dikarenakan akhir tahun ajaran jadi banyak kegiatan yang akan berakhir dan hampir semuanya membuat acara. Misalnya sekolah atau tempat les menari yang biasanya membuat pertunjukan akhir tahun (dance performance). 

Di tempat les anak saya, kostum pertunjukan menari ditangani oleh penjahit profesional. Kata profesional di sini ditujukan kepada para penjahit yang mengantongi ijazah sekolah mode dan/atau sekolah menjahit yang mempunyai spesialisasi di bidang pembuatan kostum (dance, theatre, film, pertunjukan, dll). Tahun ini, dari dua tarian yang dibawakan oleh anak saya, hanya satu kostum yang ditangani oleh ibu penjahit profesional. Sedangkan kostum yang satu lagi diserahkan oleh para orang tua. Kuncinya cuma satu, harus gaun warna putih, titik. Tentunya ada sebagian anak yang memiliki gaun warna putih jadi tidak perlu membeli baru. Tapi tidak demikian dengan anak saya. Jadi akhirnya saya membuatkan gaun putih.


Tujuan utamanya memang untuk pertunjukan menari, jadi bisa membuat kostum biasa, tidak perlu gaun yang spesial (toh hanya sekali pakai). Tapi, membayangkan proses dan waktu pembuatannya, saya berpikir kenapa tidak sekalian saja membuat gaun yang bisa dipakai untuk sehari-hari khususnya untuk musim panas tahun ini. Jadi, di suatu hari yang cerah, meluncurlah saya ke toko Mondial Tissus untuk membeli kain katun double gauze warna putih.
Kain katun double gauze banyak diminati oleh para penjahit rumahan karena teksturnya unik dan kainnya terasa lembut di kulit (cocok untuk anak-anak bahkan bayi). Pilihan warnanya pun banyak dan sekarang mulai ada yang bermotif lucu-lucu.
Sesuai keinginan anak saya, gaun dibuat dengan model yang sederhana. Polanya menggunakan Burda vintage Super Easy 6968 dan ukuran yang dipakai adalah 7. 
Bila Anda menggunakan pola jadi untuk menjahit baju anak, penentuan ukuran tidak harus sesuai dengan usia anak karena yang lebih penting adalah hasil pengukuran lingkar dada, lingkar pinggang dan lingkar pinggul. Jadi, ukur dulu anak Anda, lalu cocokkan dengan tabel yang ada di pola. Terkadang ada anak yang sangat kurus sehingga bisa menggunakan ukuran di bawahnya. Atau sebaliknya. 



Pola ini dimodifikasi sesuai kebutuhan yaitu dengan memperpanjang bodice sampai sekitar 6 cm di bawah pinggang, memperpanjang skirt sampai di bawah lutut, lalu memasang invisible zipper yang lebih panjang. Untuk membuat bodice lebih nyaman, saya menambahkan lining dengan bahan kain silk cotton warna putih.

Project ini terbilang mudah dan cepat. Dalam waktu sekitar dua atau tiga jam, gaun ini bisa selesai. Yang kadang membuat lama adalah penambahan lining. Namun karena lining di sini hanya di bodice, maka prosesnya tidak terlalu panjang.

Katun double gauze : Mondial Tissus
Katun silk : Les Coupons de Saint Pierre
Invisible Zipper : YKK dari Pasar Sunan Giri Jakarta


Rabu, 27 April 2016

Mesin Jahit Vintage

Seperti yang kita tahu, mesin jahit rumahan di jaman baheula itu terkenal kokoh dan tidak gampang rusak. Hasil jahitannya rapi dan cantik. Sistemnya yang mekanik cenderung lebih mudah diatasi bila ada masalah. Namun berhubung body dan semua (or, hampir semua) printilan di dalamnya terbuat dari metal, bobotnya jadi lebih berat dibanding mesin-mesin portable jaman sekarang. Jadi masuk akal kalau ada yang bilang bahwa mesin-mesin jahit jaman kita kurang kuat/kurang tahan lama karena banyak parts-nya dari bahan non-metal (plastik misalnya). Tapi perlu diketahui juga bahwa hal ini merupakan salah satu cara produsen mengikuti selera, kondisi dan daya beli pasar. Mesin jahit rumahan di jaman sekarang lebih ringan supaya lebih mudah dipindah-pindahkan. Untuk pemakaian rumahan, sebagian orang memilih mesin jahit yang lebih ringan karena mungkin saja mereka menjahitnya pindah-pindah, misalnya dari ruang makan ke ruang belajar, dari rumah sendiri ke rumah teman, etc. Kalau bobot mesin jahit seperti Singer jadul punya ibu mertua saya, terus terang saya juga ngga mau bolak balik angkat. Turun berok >_<

*mesin jahit mertua*

Kalau ngga salah, saya pernah membaca di artikel asing tentang mesin jahit rumahan di jaman awal-awal baru keluar. Itu katanya berat bangettts dan mahal bangetttss... Katanya lagi, harganya waktu itu melebihi harga rumah. Saya lupa bacanya dimana jadi anggap aja tulisan saya di paragraf ini sekedar gosip, hihi...

Bicara tentang mesin jahit jadul, setelah saya browsing ke berbagai forum anglophone (http://sewing.patternreview.com, http://artisanssquare.com, http://www.thesewingforum.co.uk), ada beberapa model lama yang sampai saat ini masih menjadi favorit banyak orang, terutama para quilters, yang tentunya disebabkan oleh ketangguhannya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Bernina Record 530, 730, 830 dan 930 (mereka sebut "thirty something")
  • Singer Featherweight
  • Elna Grasshopper
Itu baru sebagian saja. Merk lain seperti Kenmore, Viking (Husqvarna), Pfaff dan Riccar pun mempunyai model-model lama dengan ketangguhan serupa. Banyak orang yang meyakini bahwa mesin jahit rumahan jaman dulu itu dibuat untuk masa penggunaan yang panjang dan untuk meng-handle beragam jenis kain dari yang tipis sampai yang tebal. Maka tidaklah heran bila tahan lama dan kualitas jahitannya mantap, mesinnya pun bisa dilungsurkan ke anak atau bahkan ke cucu.

Belum lama ini saya memiliki kesempatan untuk "berkenalan" dengan Bernina Record 830. Kebetulan saat itu saya memiliki sedikit masalah dengan mesin jahit Brother yang biasa digunakan di rumah. Untuk itu, nasib membawa saya kepada Bernina tersebut dan kemudian saya menjadikannya sebagai mesin jahit kedua di rumah (sebenarnya ketiga karena mesin jahit pertama saya, Selecline, masih ada di rumah namun sudah jadi milik anak-anak saya).



Bernina Record 830 ini termasuk yang paling tangguh di jamannya. Masa jayanya sekitar tahun 70-an sampai awal tahun 80. Perawatannya sederhana. Cukup rajin memberikan minyak dan membersihkan dari debu atau kotoran yang menyangkut, mesin ini akan selalu siap bekerja. Kebetulan (lagi) saya mendapatkannya dari seorang mekanik Bernina. Jadi semua hal sudah dicek dan diperbaiki oleh yang bersangkutan sebelum diserahterimakan ke saya.

Hasil jahitan mesin ini cantik dan rapi. Project pertama yang saya buat dengan mesin yang diberi nama Toclo :D ini adalah dress berbahan denim (akan dibahas di postingan terpisah). Seperti yang telah dibahas dalam forum-forum menjahit asing, Bernina ini sangat solid untuk menjahit bahan denim. Yang perlu diperhatikan adalah setting tension yang harus disesuaikan (trial dan error dulu di sepotong kain denim sisa/bekas untuk melihat tension sudah pas atau belum).


Setelah project ini selesai, saya merasa bahwa Bernina ini menampakkan sedikit kejanggalan. Jahitannya menjadi agak loncat-loncat, suaranya agak berbeda, kemudian kadang ada benang dari spool atas yang putus. Saya sempat deg-degan. Kemudian saya ingat bahwa mesin mekanik harus rajin diminyaki. Ada yang bilang di forum, kalau suaranya mulai aneh, kasihlah minyak. Akhirnya saya melihat panduan yang ada (dalam bentuk PDF) serta foto-foto di grup Vintage Bernina Sewing Machine di Facebook. Dengan hati-hati saya memberikan minyak ke point-point yang ditunjukkan di dua referensi tersebut. Begitu mesin digunakan kembali, hasilnya cantik seperti sedia kala dan suara mesinnya halus lagi. Ternyata benar! Hidup mesin mekanik!

*minyak khusus untuk mesin jahit*




Kalau misalnya Anda saat ini sedang mempertimbangkan untuk membeli mesin jahit, coba survey juga ke pasaran mesin-mesin jahit jaman dulu (dengan atau tanpa meja khusus). Mesin jahit lama yang beredar di Indonesia di bawah merk Singer dan Butterfly kemungkinan besar juga memiliki ketangguhan yang sama dengan mesin-mesin yang saya singgung di atas. Mungkin ada baiknya bertanya juga kepada para penjahit senior yang sudah lama menjalankan bisnisnya. Kalau untuk membuat pakaian dan/atau craft, mesin jahit mekanik standar sudah mencukupi. 




Selasa, 19 Januari 2016

Burda Vintage, Vintage Fashion

Tahun lalu, Burda mengeluarkan dua majalah edisi khusus bertema vintage. Yang pertama tentang mode di era tahun 50-an. Kemudian sehubungan dengan permintaan pelanggan, mereka sempat mencetak ulang edisi tersebut. Kemudian di akhir tahun mereka menerbitkan majalah vintage yang kedua, yang membahas mode di era tahun 60-an.


Bagi yang tertarik dengan vintage fashion, tentu saja penerbitan majalah-majalah edisi khusus ini sangatlah menarik. Dan kelihatannya Burda, seperti halnya perusahaan pola pakaian yang lain, memanfaatkan juga peningkatan minat akan vintage style yang tidak hanya menjadi wabah di bidang dekorasi namun juga ke fashion.


Ada yang tertarik dengan vintage fashion?

Saya sendiri cukup tertarik dengan model pakaian vintage terutama di era tahun 20-an dan 60-an. Selebihnya, saya kurang tertarik (ya, tahun 50-an boleh lah). Pada flea market khusus couturier biasanya bisa ditemukan pola-pola vintage. Selain itu, saya mencoba juga hunting ke eBay dan Leboncoin. Kadang saya menemukan pola lama yang tidak tercantum tahun keluarnya. Dan kadang saya menemukan juga pola lama dari negara tetangga (Belgia misalnya).



Di gudang mertua, saya menemukan majalah-majalah lama seperti Modes et Travaux dan Prima era tahun 80-an dan 90-an. Majalah-majalah ini menyisipkan pola-pola pakaian sebagai bonus. Ibu mertua pun dengan senang hati memberikan majalah-majalah itu kepada saya. Sayangnya tidak semua model menarik hati jadi saya hanya menyimpan beberapa saja.


Kadang saya berpikir, apakah majalah-majalah lama Indonesia juga menyisipkan pola pakaian? Kalau iya, apakah saya bisa menemukannya? *lirik kanan kiri* *cari pola kebaya jadul*