Pages

Tampilkan postingan dengan label sewing magazine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sewing magazine. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2018

La Mia Boutique dan Patrones

Kalau jalan-jalan ke negara lain, suvenir apa yang kita beli? Biasanya sih hiasan magnet, gantungan kunci, bola salju, kaos, dll. Tapi kalau kita suka menjahit, bisa lho membeli majalah lokal yang isinya khusus tentang menjahit. 

Misalnya di Italy ada majalah La Mia Boutique yang cukup terkenal di kalangan home sewist. Di dalamnya ada beragam model pakaian dan pola untuk membuatnya. Menurut saya, model-model yang ditampilkan dalam La Mia Boutique ini tergolong stylish dan chic sehingga untuk beberapa model akan kurang cocok dikenakan untuk sehari-hari. Itu menurut saya lho ya, mungkin Anda akan memiliki pendapat yang  berbeda.  









Di Spanyol ada majalah menjahit yang bernama Patrones. Majalah ini kadang memuat model-model pakaian aktual dari beragam merk pakaian ready-to-wear misalnya American Vintage, IKKS, El Corte Ingles, Antik Batik, dll. Menurut saya, secara umum model-model yang ada di Patrones lebih kasual dan lebih cocok untuk dipakai sehari-hari atau ke pesta yang tidak terlalu resmi. Contoh untuk foto di bawah ini (cover) yang menampilkan jaket perfecto dari merk IKKS. 








Nah, apakah Anda jadi tertarik untuk mencari majalah menjahit lokal sebagai suvenir dari kunjungan di negara lain ? Bahasanya mungkin tidak kita pahami tapi kalau kita sudah cukup lama menjahit, pola yang ada tetap bisa kita gunakan. Atau ya, disimpan sebagai suvenir saja.

Berikut ini informasi tambahan tentang berbagai majalah menjahit busana yang ada di Perancis (per November 2018) :

  • Burda Style : ada beragam versi misalnya Burda biasa, Burda Plus (size besar), Burda Easy, Burda Kids, Burda Baby. Asal negaranya Burda, Anda tahu lah ya
  • La Maison Victor : dari Belgia, terbit dalam 3 bahasa (Perancis, Belanda dan Jerman), instruksi disertai ilustrasi
  • Ottobre : dari Finlandia, ada dua edisi yaitu dewasa perempuan dan anak, instruksi tidak disertai ilustrasi
  • Tendances Couture : isinya koleksi pola grup Simplicity, instruksi disertai ilustrasi
  • Fait Main : satu grup dengan Burda
  • Couture Actuelle : Patrones versi bahasa Perancis
  • Ma Boutique Perso : La Mia Boutique versi bahasa Perancis
  • Fashion Style : Knipmode (Belanda) versi bahasa Perancis
  • Elena Couture : dari Jerman
  • Diana Couture : dari Jerman
  • Modes et Travaux : ini asli Perancis dan sudah eksis sejak lama, tapi sebenarnya majalah ini bertema umum untuk wanita yang terkadang menyisipkan pola menjahit atau menerbitkan edisi khusus menjahit yang berisi full pola menjahit

Dan masih banyak lagi majalah menjahit yang terbit di Perancis. Beberapa di antaranya memiliki spesifikasi yang lain misalnya patchwork, quilt, craft atau bordir. Pokoknya kalau sempat mampir ke kios koran dan majalah, lihat semua majalah yang ditawarkan di bagian craft (loisirs). Pasti Anda akan betah dan kemudian bingung dalam memilih, hihi... Harganya berapa ? Antara 6 - 11 euros per majalah, tidak mahal kan. 

PS. Majalah Patrones di atas adalah edisi summer 2016, sementara La Mia Boutique terbitan Agustus-September 2018.

Kamis, 18 Agustus 2016

Kimono sleeve outfits - untuk anak-anak

Late post lagi. Juli 2016.

Saya lagi suka sekali sama kimono sleeve top (atau dress). Buat saya, lengan jenis ini simpel dan mudah dibuat. Hasilnya pun manis dan longgarnya pas. Untuk itu saya ingin juga membuatkan untuk anak-anak. 

Bagi si sulung yang sudah memakai pakaian ukuran dewasa small, saya bisa menggunakan pola yang sebelumnya (majalah Prima tahun 1993). Tapi untuk si anak bungsu, saya belum ada polanya. Setelah mencoba untuk mencari pola siap pakai, saya menemukannya di Salme Patterns. Model seperti di bawah ini tapi sekarang sudah tidak ada ya, karena mereka tidak menjualnya lagi (terakhir sekitar dua minggu lalu masih ada dan di-sale).

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya nekad mau membuat sendiri. Modelnya kan sederhana, cenderung kotak saja. Apalagi untuk anak-anak, rasanya resiko gagal kecil. So, saya ukur-ukur deh badan si kecil dan mulai membuat pola di kertas. Kemudian, saya membuat muslinnya dari sepotong kain sisa. Setelah si kecil mencoba muslin tsb, saya memodifikasi sedikit langsung di situ. Kemudian si kain muslin itu yang saya jadikan pola (setelah didedel tentunya). 

Project pertama dari pola ini adalah atasan berbahan viscose. Project kedua, dress berbahan yang sama hanya berbeda warna di motif. Sukses! Senangnya... Jadi, teman-temin, kalau suka juga dengan model simpelnya kimono sleeve top atau boxy top, coba bikin sendiri aja. Pasti bisa *optimis*. Jangan lupa bikin versi trialnya dulu ya.

*perdana nyoba Entomology Pins - cucok utk bahan kain yg tipis dan gloyor




Senin, 11 Juli 2016

Summer Outfits for Kiddo

Dalam rangka menambah isi lemari si kecil plus menghabiskan sisa-sisa dan/atau stok bahan panjang semeter, saya membuatkan beberapa potong baju dari beragam pola. Yang kelar akhir bulan lalu adalah:


Pakaian yang pertama, dibuat dengan bahan kain sisa membuat celemek makan jaman si kecil di sekolah TK. Bahan ini dari katun halus yang dibeli di Mondial Tissus beberapa tahun lalu. Aksen untuk lehernya dari katun potongan kecil yang juga halus, dibeli di satu community garage sale yang diselenggarakan oleh satu sekolah swasta dekat tempat tinggal kami.

Pola ini sebenarnya mudah, tapi terus terang saya agak kesulitan dalam membuat yang pas karena di polanya tidak ada tanda dimana memposisikan bagian leher di bagian bodice. Biasanya kan ada tuh notch... Tapi kok ini engga ya... Apa saya kurang teliti yaa...




Pakaian kedua dibuat dengan sisa kain atasan Saiph Tunic ini dengan aksen kerah dan lengan dari bahan corduroy (sisa juga, dari tiga project). Berhubung sisa kain bunga-bunga tidak cukup lebar, jadi lebar gaun pun diperkecil. Hal ini tidak masalah sama sekali, hanya jadinya mengurangi "kemekaran" si gaun. Hasil akhir, saya sukak! Pingin bikin lagi dari bahan yang lain.

Dari dua project di atas, yang terhitung sebagai percobaan pertama saya menggunakan buku Petites Filles à Croquer, maka saya bisa memberi sedikit review yaitu pola yang diberikan di buku ini kurang jelas (notches, etc) dibandingkan dengan buku Vêtements Amples. Memang beda penulis sih.

Ok, sekarang pakaian ketiga. Ayayay... Agak berat. Majalah B-Inspired ini mirip Burda. Penjelasannya tanpa ilustrasi jadi saya agak kebingungan. Tapiiii... kalau kita sudah biasa menjahit pakaian, pada akhirnya kita akan pakai logika saat konstruksi. Maka saya pun berlogika ria plus memodifikasi sedikit ruffle lengan pakaian ini (diperpendek karena bahannya kurang - sisa bahan dari project Tania Culottes, dibeli dari Antiqua Fabrics Indonesia).



Di project ini, saya pun mencoba lagi narrom hem foot. Dan kali ini saya berhasil berkat video tutorial yang dikirimkan oleh teman saya (makasih, Mbak Ina!). Ternyata cukup mudah asalkan hati-hati tentunya. 



Hasil akhirnya pun tidak mengecewakan hanya saja lubang lengan agak kebesaran untuk lengan anak saya yang krempeng, hik... Selain itu, modelnya yang panjang di belakang dan pendek di depan ternyata kurang cocok untuk anak saya karena kalau dia pakai celana panjang agak hipster sebagai padanannya, udel pun keliatan, heu... Next time harus diperpanjang bagian depannya dan diperkecil rongga lengannya. Ah, kapan ya bikin yang kedua...



Oh iya, majalah B-Inspired itu lumayan lho model-modelnya. Dan bahasa yang mereka pakai ada beberapa, salah satunya bahasa Inggris. Plus, range size-nya cukup panjang, jadi anak sulung saya yang sudah masuk remaja pun masih bisa. Tentunya untuk beberapa model saja ya, ngga semua.

Selasa, 17 Mei 2016

Kimono Sleeve Tops

Bulan lalu saya membuat satu atasan/top sederhana berlengan pendek dengan menggunakan pola di majalah Tendances Couture Spring 2016. Entah kenapa saya suka dengan model sederhana seperti ini. Mungkin karena juga sederhana cara membuatnya dan cuma tiga pieces - satu depan dan dua pieces belakang - plus bias binding.


Untuk percobaan pertama, saya memakai bahan kain katun jenis popeline yang dibeli dari satu toko online di Indonesia (tapi sudah lupa namanya berhubung jaraknya kelamaan antara kain dibeli dan dibikin jadi baju). 


Review: asli simple banget. Di sini saya menggunakan bias tape yang dibuat dari bahan kain yang sama. Tapi kalau kita mau menggunakan bias tape yang tersedia di pasaran, bisa juga. Cuma ada sedikit note untuk next project kalau menggunakan pola ini, yaitu pemilihan bahan. Popeline rasanya kurang pas karena tidak "jatuh" alias cenderung kaku (memang biasanya popeline lebih dipakai untuk membuat kemeja).

Size: 44 (LD 96, LPinggang 78, LPinggul 102 - cm).

Modifikasi: tidak ada sama sekali, hanya penggunaan pengait sebagai closure (kl di majalahnya diinstruksikan memakai kancing).

Kemudian minggu lalu saya menyelesaikan satu atasan simple juga tapi dari pola yang berbeda yaitu dari majalah Prima tahun 1993. Modelnya mirip sekali dengan yang saya buat di atas, kimono sleeve simple top. Sebenarnya sudah lama saya tertarik dengan pola ini dan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dan berhubung minggu lalu ada sedikit waktu setelah menyelesaikan satu pesanan teman, saya segera menjahit atasan ini. Bahan yang digunakan adalah rayon atau viscose yang juga sudah teronggok lama di lemari saya. Kain ini dikirim oleh ibunda sekitar 3 tahun yang lalu. Motifnya bunga-bunga kecil yang tidak terlalu menonjol dari sisi warna.


Review: idem dengan di atas, simple sekali. Tapi berhubung kainnya jenis rayon maka agak sulit dikendalikan baik saat pemotongan bahan maupun saat dijahit (walaupun saya sudah menyemprotnya dengan starch khusus untuk memperkaku si kain). Namun hasilnya jatuh lebih bagus di badan (seperti pada umumnya pakaian dari kain rayon).

Size: 44 (LD 96, LPinggang 75, LPinggul 103 - cm)

Modifikasi: kalau melihat model aslinya, harusnya seperti ini nih (gambar di bawah). Tapi saya bikin persis seperti pola Tendances Couture di atas, jadi bagian belakang dibuat dua pieces plus closure berupa kaitan.


Kalau dibandingkan keduanya, untuk ukuran badan saya, terlihat bahwa pola dari Tendances Couture lebih lebar dan bagian leher lebih terbuka. Terus terang saya lebih suka bila bagian leher lebih ke atas (berarti lebih menutup). Jadi mungkin kalau nanti saya ingin membuat atasan model ini lagi, saya memilih pola yang dari majalah Prima.


Model atasan seperti ini katanya lagi jadi trend. Loose, tanpa kupnat, ala boxy top gitu deh. Kalau Anda mau mencoba membuat polanya, coba lirik tulisan ini. Penulisnya membuat atasan serupa dengan yang saya buat tapi men-draft polanya sendiri. Tapi kalau Anda mau cari pola jadi yang mirip, mungkin bisa lirik ke sumber-sumber berikut ini:

Masih banyak yang lain sih, coba deh googling... Selamat menjahit!


Rabu, 16 Maret 2016

Tendance Couture Spring 2016

Dari sekian banyaknya majalah sewing di Perancis, Tendance Couture termasuk yang digemari karena pola-polanya berasal dari perusahaan besar Simplicity dan di dalam majalahnya ada panduan menjahit berupa ilustrasi gambar. Kalau dari tampilan cover luarnya sih, hm, biasanya kurang menarik. Tapi kalau sudah buka-buka di dalamnya, pasti ada satu dua model yang sesuai. 

Tendance Couture edisi spring 2016 berisi pola-pola basic untuk sehari-hari (di rumah maupun di kantor). Yuk kita lihat!









`