Pages

Tampilkan postingan dengan label sewing pants. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sewing pants. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

Summer Clover Pants

Di musim panas, saya lebih suka mengenakan celana panjang ringan yang longgar atau ya sekalian saja celana kulot lebar seperti kulot Burda yang sering saya pakai. Nah, kali ini saya hendak membuat celana panjang santai dengan menggunakan pola Clover dan Colette Patterns. Celana ini jatuhnya tepat di pinggang, bukan di hip, dan menggunakan zipper di samping. Jadi tidak perlu membuat fly front, atau dengan kata lain, proses pembuatannya lebih cepat.


Kalau saya melihat hasil jahitan para sewing bloggers di luar, rata-rata Clover yang mereka buat itu pas di badan. Keren sih, tapi saya pastinya lebih prefer yang agak longgar.  Lalu, berhubung saya tidak ingin membuat muslin, jadi untuk Clover pertama ini saya langsung membuatnya di kain yang ingin dikenakan. 

Fitting pertama, saya melihat bahwa celananya terlalu besar. My mistake, ukuran yang dipilih adalah 14 karena saya takut kekecilan. Jadi setelah fitting pertama ini, saya harus mengecilkan 1,5 cm untuk seam samping dan 1 cm untuk crotch. Untuk ke depannya, saya harus mengambil ukuran 12 (atau malah 10 kalau mau pas sekali di badan).





Fitting kedua, sudah lumayan dan sesuai dengan yang saya mau. Lalu berhubung ada perubahan di lebar celana, maka waist band juga harus disesuaikan.




Panjang celana saya ambil yang di atas mata kaki supaya lebih santai dan lebih adem di musim panas. Lalu, saya pilih versi polanya yang pakai kantung sisip di bagian perut. Kantung ini kecil tapi bagi saya sudah cukup untuk menyisipkan tissu dan tiket bus.

O iya, bahan kain yang saya pakai adalah satin cotton warna hijau mint yang ringan dan nyaman sekali di badan. Bahan ini pun sangat mudah dijahit. Untuk kantung, saya menggunakan sisa kain katun dari project anak. Benang obras sengaja digunakan yang warnanya berbeda (pink muda) supaya ada sedikit unsur unik walau tidak kelihatan dari luar, hihi... Dan invisible zipper, awalnya saya pakai warna putih. Tapi kemudian zipper ini macet di bagian sambungan waist band dan pants, sepertinya agak stucked karena ketebalan sambungan jahitan. Karena saya tarik dengan paksa, akhirnya zipper putih ini rusak terbagi dua. Saya menggantikannya dengan zipper warna pink tapi sebelumnya bagian sambungan yang "tebal" tadi dipertipis dulu dengan menggunting sedikit seam.

Celana ini sudah beberapa kali saya pakai untuk mengantar anak ke kegiatannya dan juga untuk berjalan-jalan ke ibukota. Nyaman sekaliiii.... Adem pula.

Kain katun satin : Mondial Tissus
Kain katun patchwork (kantung) : Mondial Tissus
Invisible zipper : Jakarta
Pelapis waist band : Vlieseline G700


Senin, 11 Juni 2018

Alexandria Peg trousers

holla...🙋🏻 hop !
Urgent membutuhkan celpan alias celana panjang untuk musim semi panas-dingin,hihihi.. iya, musim semi mendekati musim panas, yang cuacanya naik turun , kadang panas, kadang semriwing, terkadang hujan petir 🙍.
Singkat kata saya butuh celana panjang warna uni, dikarenakan punya banyak blouse/top yang bermotif.
Pilihan jatuh ke pola Alexandria Peg Trousers dari Named Clothing Pattern , seperti di sini  sudah 3X jahit dengan sukses 💃🏻 di jenis kain yang berbeda, untuk musim yang berbeda, ini adalah Alexandria trousers jeans yang ke-empat. Otomatis menggunakan pola yang sudah sering dipakai itu, tapi kali ini saat potong kain saya tambahkan ¼" di crotch belakang untuk mengantisipasi "smile" lines yang mungkin siap 'menghadang' my bottom 😛dan saya tambahkan panjang 1cm untuk hem.
Kain saya pakai jeans light cotton (140g/m²)  dari toko kain lokal Mondial Tissus (ref. 148921).  Yang kalau saya pegang tanpa melihat label, bisa saya katakan seperti kain chambray atau mid-weight tencel..whatever.. ini kain seperti kain katun warna denim.  So, kain sepanjang 1m30 (yaaaay! irit jadi orang pendek 😅), cut di size 38.
Proses jahit tidak susah menurut saya, karena tidak membutuhkan teknik jahit yang ribet. Di waistband jahit buttonholes untuk tempat lewat drawstring nanti, tetapi bisa di skip buttonholes kalau memilih hanya pakai elastik saja di pinggang.
(old favorite) Inari white linen tee & Alexandria trousers
 Kali ini karena saya lagi rajin, saya pakai keduanya, elastik di pinggang dan drawstring. Di Alexandria peg trouser yang lain, saya hanya pakai elastik saja.

Jumat, 05 Mei 2017

Jamie Jeans, finally!

Saya 'ngidam' pola Jamie jeans by Named Clothing ini entah sejak kapan. Tapi karena harga polanya (printed version plus ongkir) lebih mahal dari pola indie yang lain dan saat itu pun saya belum memiliki ketrampilan yang baik dalam menjahit celana jeans, maka saya redam keinginan itu. Lalu saya melihat satu pola skinny pants (Black Magic) di majalah Ottobre akhir tahun 2014 yang membuat saya ingin mencoba menjahit celana jeans. Dari situ bergeraklah secara perlahan perjalanan dan proses belajar saya dalam menjahit pakaian favorit kami sekeluarga. Hingga sampailah pada Jamie jeans ini, akhirnyaaaa...

Jamie jeans ini didesain untuk jenis celana skinny jadi bahan kain yang disarankan adalah yang stretch, khususnya yang memiliki elastisitas 15-20%. Modelnya berbeda dengan skinny jeans yang ada di pasaran yaitu di bagian depan ada dua bagian yang dijahit satu, kemudian desain kantungnya yang unik. Secara umum, pola yang dikeluarkan oleh Named sesuai untuk orang yang berbadan tinggi. Tentunya tetap masih bisa untuk orang yang berbadan rata-rata atau di bawahnya asalkan kita tahu di bagian mana pola tersebut harus dimodifikasi.  


Berhubung anak sulung saya sedang membutuhkan celana jeans baru (urgent!), jadi Jamie jeans perdana dibuat untuk dia. Ukuran yang diambil adalah 36. Walau anak saya termasuk tinggi, namun demi mengantisipasi, saya menambah panjang 2 cm saat memotong kain. Bahan denim stretch yang dipakai sama dengan yang saya gunakan untuk membuat skinny jeans Black Magic. Pocket bag menggunakan kain motif bunga yang saya ambil dari rok anak saya yang sudah kekecilan (homemade sekitar 4 tahun yang lalu).

Tahapan konstruksi, saya banyak melihat sew-along di site Indie Sew.

Di awal-awal konstruksi, saya memperkirakan bahwa kesulitan hanya akan ada di bagian penjahitan kantung depan karena tidak sama dengan kantung celana jeans lain yang sudah pernah saya buat. Namun ternyata ada juga sedikit kebingungan pada urutan penjahitan fly front, crotch dan seam. Kalau dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, penjahitan dimulai dari bagian fly front dulu sampai selesai topstitching crotch, baru deh seam dalam dan samping. Tapi untuk Jamie ini terbalik, seam dalam dan samping dulu, baru deh fly front dan crotch. Hal ini sempat membuat saya 'kagok' dan kesulitan saat topstitching di bagian crotch karena saya merasa kurang lebar space jahit saya. Gawatnya lagi, saya memilih benang topstitching yang berbeda dengan warna bahan kain denim (akibat terlalu pede). Akhirnya satu dari 2 topstitching line yang dilakukan di bagian ini, saya menggunakan benang biru tua supaya satu line saja yang terlihat agak tak rapi (satu lagi tak kentara karena birunya sama dengan si denim). 

Metode fitting yang saya pakai di sini adalah baste and fit seperti yang dicontohkan di site Indie Sew. Bedanya adalah saya tidak mengikutsertakan waistband dalam proses pengepasan. Hasilnya, pinggang harus dikurangi 2 cm kanan dan kiri. Panjangnya justru pas (untung sudah ditambah 2 cm). Selebihnya tidak ada masalah.

Pemasangan waistband juga mengalami sedikit modifikasi tapi bukan karena ada masalah melainkan karena selera pribadi yaitu dengan memberikan bias binding pinky di bagian dalam.



Hasilnya setelah modifikasi, ternyata bagian depan (perut bawah) agak 'lega' ya. Kemudian, bagian kaki belakang agak memutar ke arah depan. Kenapee... Selebihnya sih oke-oke saja.



Secara keseluruhan, catatan saya untuk Jamie kedua nanti adalah:

  • Langkah konstruksi fly front-crotch-seam mengikuti Morgan jeans saja.
  • Khusus untuk topstitching bagian fly front lebih baik mengikuti cara di booklet Named, jangan ikut yang di site Indie Sew (hasilnya kurang bagus menurut saya).
  • Benang topstitching pakai yang biru tua saja. Lebih aman dan kalau melihat contoh yang dibuat Named juga tetap kelihatan bagus.
  • Bagian depan celana yang dekat dengan fly front dikurangi 2 cm (masing-masing kanan kiri) dari arah fly front-nya (belum tahu bagaimana tapi worth it untuk dicoba).

O iya, untuk celana jeans ini, untuk pertama kalinya saya menggunakan benang topstitching dan benang jahit khusus jeans yang satu paket dari Gutermann. Terus terang saya suka sekali dengan warna benang topstitching ini. Perfect di atas biru tua si denim. Lalu, untuk pertama kalinya juga saya menggunakan ritsleting YKK khusus untuk celana panjang (Tasca Trousers). Ritsleting ini cocok juga untuk celana jeans khususnya yang warna denimnya bukan biru muda. Untuk denim biru muda, YKK mempunyai produk ritsleting khusus yang tertulis "super jeans" (paling kanan dalam foto paling bawah).




Detil bahan material:

  • Kain denim stretch: Les Coupons de Saint Pierre
  • Kain lining: recycle dari rok 
  • Bias binding: sisa project batik anak
  • Benang jeans Gutermann: Mondial Tissus
  • Ritsleting YKK: Eurodif
  • Fusible interfacing untuk waistband: Vlieseline H200
  • Jarum jahit: Schmetz jean size 100
  • Jarum topstitching: Schmetz topstitching 100
  • Kancing: jeans ukuran 17mm dari Mercerie Carefil







Jumat, 28 April 2017

Celana Panjang Pria

Suatu hari, saya menerima permintaan dari seorang teman untuk menjahitkan celana panjang bagi suaminya. Polanya dari dia sendiri karena dulu pernah ada yang mengajarkan cara membuatnya dan dia sudah mencoba membuat satu celana jeans dari pola tersebut. Kali ini dia ingin saya yang menjahitnya. Modelnya lebih untuk celana jeans namun sekarang sang suami ingin celana panjangnya dari bahan corduroy. Ok deh...


Teknik menjahit yang saya pergunakan sama dengan cara menjahit celana jeans, termasuk topstitching. Namun saya tidak memasang rivet karena rasanya tidak terlalu perlu untuk corduroy. Benang topstitching pun sebenarnya tidak perlu yang khusus karena beda dengan jeans yang benar-benar menonjolkan warnanya (benang topstitching lebih tebal dari benang biasa dan biasanya berwarna beda dengan kain denimnya). Kain corduroy yang diberi topstitching benang biasa dalam warna senada sudah kelihatan cantik karena jenis kainnya itu sendiri. Kalian coba sendiri deh... bingung jelasinnya >_< Eniwei, untuk celana panjang pertama (abu-abu), saya menggunakan benang topstitching khusus karena pas ada. Sedangkan untuk celana panjang kedua (ungu), saya tidak menggunakan benang topstitching khusus.


Celana panjang yang dipesan ada dua potong dengan dua bahan corduroy yang berbeda warna. Berhubung saya terbiasa dengan sistem muslin, namun waktu yang ada tidaklah memadai, jadi saya bilang ke teman kalau celana panjang pertama akan berupa wearable muslin dan suaminya harus datang fitting minimal satu kali. Dia ok. Untungnya kain corduroy yang dia beli bukan termasuk yang mahal jadi saya agak tenang, hihi...

Problem pada saat proses penjahitan :

  • Pola waistband tidak menambahkan bagian overlap (yang ada fly front). Saya baru sadar saat hendak memasang si waistband itu ke celana. Kurang panjang bok! Selain itu, corner yang terbentuk dari penjahitan dua potong waistband sudah saya gunting (dengan tujuan mempertajam tampilan ujung setelah dibalik). Jadi untuk memaksimalkan seam allowance kanan kiri pun sulit. Dan saya tidak bisa potong kain lagi karena bahannya pas. Solusinya, memaksimalkan seam allowance bawah (diperkecil sampai 0.5 cm) dan kemudian mengakali pendeknya bagian dalam dengan bias binding. Bingung  ngga? Yang jelas, cara ini berhasil namun lebar waistband sedikit lebih kecil dari yang seharusnya

  • Panjang celana yang tidak cocok antara depan dan belakang. Ketidakcocokannya hanya sekitar 2-3 cm namun buat saya sudah cukup mengganggu. Sekali lagi, bahan kain yang ada sangatlah pas sehingga saya tidak mengharapkan adanya surprise seperti ini. Akhirnya hem celana panjang dibuat lebih kecil dari rencana awal. Sedangkan untuk celana kedua, dengan cara sambungan dimana saya memotong kain yang sama (sisa-sisa kain) dan menjadikannya semacam binding yang dilipat ke dalam. Teknik ini pernah saya lihat waktu masih tinggal di Jakarta. Saat itu saya memperpanjang celana ke penjahit. Begitu barangnya kelar, oh, ternyata diperpanjang dengan memasang binding yang dilipat ke dalam (jadi tidak kelihatan dari luar).

Peres keringat dulu... :D Memang tidak menyenangkan kalau bahan kain yang dipakai itu pas-pasan ya. 

Lanjut... 

Celana panjang ini untuk pria namun tidak ada salahnya kan untuk memberikan beberapa sentuhan cantik yaitu :
  • Kantong dari bahan bermotif
  • Bias binding waistband bagian dalam juga dari bahan bermotif
Lumayan deh, klien senang waktu melihat sentuhan cantik tersebut. 

Oh iya, kalau kalian ingin melakukan hal yang sama, pastikan bahwa bahan bermotif yang digunakan ada kecocokan warna (matching, coordinated, whatever...) dengan kain utamanya. Selain itu, kalau untuk celana panjang pria tentunya jangan memilih warna yang terlalu girly ya. Lalu satu lagi, jangan sampai memilih bahan bermotif yang berpotensi luntur. Ngga asyik banget kan...




Tambahan: Setelah klien fitting (sambil membawa anak bungsunya yang lucu seperti boneka :D ), semua tampak baik-baik saja. Namun setelah celananya jadi dan dipakai beberapa kali, mereka minta saya modifikasi pinggang. Kelihatannya seperti halnya celana berbahan denim, celana panjang corduroy juga menjadi lebih luwes setelah beberapa kali pemakaian. Dengan begitu, pinggang terasa lebih longgar. Akhirnya saya permak pinggangnya, mengambil 1 cm dari kanan dan kiri.




Bahan katun corduroy dari Tissus Jaures
Bahan bermotif untuk kantung dari Mercerie Carefil
Benang abu-abu Gutermann polyester dan super strong dari Eurodif
Benang ungu polyester dari Mercerie Carefil
Retsleting pants dari Mercerie Carefil 
Kancing jeans dari eBay