Pages

Tampilkan postingan dengan label jeans. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeans. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2018

Jamie Jeans in Black

Rencananya saya ingin membuat lanjutan tips menjahit celana jeans yang dilengkapi dengan foto proses penjahitan. Namun berhubung saya tidak sempat mendokumentasikan secara detail, maka sampai detik ini postingan yang dimaksud masih belum tuntas. Maafkan... *sungkem*

Sambil menunggu, berikut ini saya tampilkan satu celana jeans yang belum lama saya jahit. Kali ini dalam kain denim berwarna hitam dari Mondial Tissus. Polanya masih sama, Jamie Jeans dari Named. Ini merupakan Jamie Jeans kedua dan masih bukan untuk saya, heu... Ukuran yang saya ambil masih sama yaitu 36. Kenapa? Karena saya melihat Jamie yang pertama masih kebesaran di bagian perut sang pemakai. Jadi saya ingin melihat untuk kondisi sekarang, dimana pemakainya tambah besar, apakah akan lebih pas di badan (walau source dan elastisitas kain denimnya berbeda).


 

Untuk kali ini, saya memberikan sedikit sentuhan personal di kantung belakang, yaitu bordir ala-ala glazig. Saya pikir kalau kain dasarnya hitam sementara benang bordirnya menyala, hasilnya akan kelihatan cukup indah. Top stitching menggunakan benang berwarna fuchsia supaya harmonis dengan benang bordir. O iya, motif bordir disesuaikan dan dimodifikasi sesuai kemampuan saya yang terbatas.


Nah, berikut ini penampakannya saat dikenakan. Not bad. Agak kerut di bagian yoke tapi tak apalah... 


Jumat, 24 Agustus 2018

Hampton Jean Jacket

Spring is here !🌸🌸🌼🌺
uhmmh...tepatnya minggu terakhir summer saat blog ini di posting 😅

Yaaay ! Tercapai cita-cita untuk punya dan jahit sendiri jaket jeans idaman ! Oh yeeaah !
Padahal jaket jean termasuk model yang klasik dan banyak di jual di toko😜, tapi saya bercita-cita jahit sendiri, supaya bisa memilih sendiri warna dan Jenis kain ( no stretch, puhleaseee..🙏🏼),  bisa mengatur panjang jaket dan panjang lengan sesuai keinginan. And yessss ! Begitu lihat pola Hampton jean jacket dari Alina Sewing Design Co, saya amati dengan cermat pola & deskripsi nya, pilihan saya jatuh ke pola ini. Semua yang saya inginkan ada di pola Hampton;  model jaket jeans klasik, dua pocket , no stretch. Pola ini di draft dengan cermat,  instruksinya bisa saya katakan di tulis dengan sangat detail setiap langkah dan di lengkapi dengan gambar/ilustrasi yang membantu dan apalagi  ada Sew along 👉di sini . Sebelum memilih Hampton saya juga sempat lihat pola Maisa Design Jacket dari Named Clothing, sayangnya bukan modelitu kurang cocok dengan keinginan saya ( tapi saya yakin well-drafted).


 
Hampton jean jacket saya jahit di kain  denim blue dark, no stretch &  medium weight. Kain ini saya beli dua tahun yang lalu di Marché du Tissu ( pasar kain annual), di simpan utk proyek yang tepat. Yang wajib di lakukan pada saat awal untuk treat kain denim adalah mencuci nya. Sebaiknya sih 2-3 X sebelum kain di potong, supaya kondisi kain menjadi lebih lemas dan menghindari nanti di kemudian hari setelah di jahit jadi sedikit melar,  juga kalau ada luntur bisa menguranginya . Terbukti dengan jeans Safran saya, yang di cuci ( pre wash) hanya satu kali sebelum jahit, setelah jahit, pakai dan di cuci 3-4X, jadi sedikit melar, berasa jeans agak longgar di bandingkan saat  jahit pertama.  Bisa jadi ini berhubungan dengan kualitas kain denim itu sendiri 🤔. 

Well, itu teorinya , tapi untuk jaket Hampton ini, saya cuci hanya 1X, dengan pertimbangan karena jaket I don't mind kalau agak melar dan lagian ini adalah kain jeans coton, so small risque.

Size dan modifikasi 
Saya pilih size 12 ( setelah jadi bisa turun ke size 10 atau bahkan size 8  jika tidak ingin tutup jaket ), tapi karena ini pertama kali nya saya jahit pola ini, lebih memilih untuk jahit di size agak besar dengan pertimbangan bahwa model jaket ini bisa tetap di kenakan walaupun sedikit besar.
Kain denim cotton , medium-weight 1m75 yang saya butuhkan untuk ukuran saya. Warna biruuuu tua (levi's look like color😎), yaaah saya sangat ingin memiliki jaket jeans dengan warna seperti ini tanpa embel-embel atau asesoris lain yang di jahit di jaket, tanpa ada model sobek sana sini. 🙊
Modifikasi pola :
  • Shorten sleeve 6,5cm 
  • shorten bodice 4cm 
  • 1" swayback
Tadinya saya ingin mengurangi lebar cuff juga ( 5cm original), tapi mengingat biasanya saat mengenakan lengan panjang saya lebih suka menggulung lengan tsb, jadi saya biarkan cuff seperti aslinya sebagai guide saat menyingsingkan menggulung lengan jaket.

Collar
Saya menggunakan interfacing vlieseline H180. Menurut saya agak stiff, but it's acceptable.

Kancing
Kancing saya pakai button jeans 17mm Prym, 14 biji. Tadinya saya mau pakai kancing jeans dari Wawak, tapi saya tidak menemukan bungkusan lainnya 🤦🏻‍♀️ ( 1 bungkus isi 12 biji), jadi saya pakai saja kancing Prym, 2 bungkus ( 1 bungkus isi 8 biji). Proses pemasangan kancing easy peasy, dengan awl  (pelubang) untuk membuat lubang kecil di jaket ( di posisi kancing akan di pasang) dan plier Prym . What a happiness pasang kancing jeans dengan plier, tidak membutuhkan palu, cukup di tekan kuat plier tsb dan kancing akan terpasang dengan rapi dan manis di jaket.

Perlu di ingat, tandai tempat pemasangan kancing dengan benar, supaya nanti saat melubangi dan pasang kancing tidak keliru penempatan kancing tsb. Kalau salah pasang, bisakah di cabut kancing nya dan rubah tempat pasang❓Good question ! Saya sendiri belum pernah coba, yang pasti akan ada bekas lubang pertama. 🤔
Untuk proses kancing, siapkan pencil untuk menandai, awl untuk melubangi jaket & plier  (tidak perlu di palu 🔨, cukup di tekan yang kuat).

Buttonholes aka lubang kancing
Proses jahit buttonholes lancar di bagian jaket yang ketinggian lipatannya sama rata, tapi sedikit kendala di bagian jaket yang permukaan nya tidak rata atau lipatan di bagian tertentu mempunyai ketebalan lebih. Untuk mengakali supaya foot presser buttonholes #3C tidak 'ngambek', saya selipkan lipatan potongan kain jeans yang tidak terpakai di belakang/bagian bawah foot presser, untuk memberi keseimbangan tinggi permukaan jaket, supaya sensor di foot presser buttonholes bisa 'mengukur dan mendeteksi' ketebalan kain & kemudian foot buttonholes bisa "menarik" kain di bawahnya dan lubang kancing yang di hasilkan akan rapi. 🤔 bingung tak gambarannya ? 😅 Intinya, posisi kain di bawah foot presser harus rata antara sisi kain yang tepat berada di bawah jarum (foot presser) dan bagian kain yang berada di bawah sensor foot presser. Saya sempat membongkar aka dedel 😣buttonholes yang saya buat pertama di bagian paling atas jaket, satu sisi agak tebal karena ketebalan lipatan seam allowance di antara kain.
Benang saya pakai benang Gutermann jeans untuk top thread dan Gutermann regular polyester di bobbin, jarum jeans #90/12.  Model buttonhole #54 , foot #3C di mesin jahit yang saya pakai.

Topstitching
Saya pakai benang Gutermann no.30 ( dari Wawak) sebagai top thread dan Gutermann regular polyester di bobbin (bawah),  jarum Topstitch Schmetz #90/12, stitch width 3.5.
 Tension saat jahit bagian yang sangat tebal di setting ke angka 6.25.
Kalau untuk jahit normal, pakai tension standar ikut angka di screen mesin jahit 5.25.

Saat jahit topstitching ini saya menyempatkan untuk mencoba metode lap seam menggunakan lap-seam presser foot  #71. Proses jahit lancar dan rapi sampai kepada bagian yang sangat tebal tidak rapi - well, saya kesulitan mengatasi bagian lipatan kain yang sangat tebal untuk masuk di dalam lubang foot #71 yang saya gunakan itu. Sayangnya saya tidak ada foto/video saat proses ini. Hasilnya secara umum bagus, rapi dan cepat, mungkin saya harus mencoba lagi. Karena ini adalah pertama kalinya saya menjahit di mesin dengan menggunakan foot #71 dan di kain denim yang bisa jadi tebal saat di lipat.  Saya pikir kalau di kain katun biasa tidak akan ada kendala.

Saya cukup senang dengan hasil akhir jahit Hampton. Dengan model klasik seperti ini saya bayangkan bisa dijahit di jenis kain lain juga dan warna lain. aahh...jadi ingin jaket warna hitam model seperti ini, tapi tidak menggunakan kancing jeans. Mengkhayal dulu aah..

Note.
(tidak ada sponsor/promosi brand!) 😁 Semua brand yang saya sebutkan di atas kebetulan merupakan brand dari alat bantu yang saya punya dan pakai untuk kebutuhan menjahit).

Kamis, 14 Desember 2017

Danielle salopette RDC

aka overall aka dungaree alias salopette kata orang prancis.

Sewaktu Republique Du Chiffon  ( french indie pattern) launched pattern Danielle dungarees ini sebenarnya saya agak naksir. Mengingat dulu jaman  overalls lagi trend (tahun 90-an laah)  saya pun ikut-ikutan demam overalls - kormod gitu deeh 😛. Tapi memang suka juga modelnya, nyaman dipakai karena longgar dan bisa dikenakan dengan T-shirt, shirt atau blouse.  Itu overalls warna biru langit menjadi sangat belel dan kusam saking seringnya di pakai 😃,  beberapa tahun kemudian harus di-pensiun-kan paksa. aah...kangen masa-masa itu... 😍 *lhoo kok malah jadi curhat?

Kembali ke 👉 Danielle !
Keinginan untuk punya overalls ( harus warna bi-ru tu-a!) muncul kembali ketika cuaca musim gugur mulai dingin, membayangkan punya overalls untuk dikenakan di rumah pasti nyaman.
Bermodalkan kain denim cotton beli online di LCSP, 12 biji button jeans  PRYM 17mm  😶 ( 10 biji cukup sih), 2 boucle jeans, benang & jarum topstitch, benang polyester biasa & jarum jeans, dimulailah proyek menjahit overalls Danielle (red. Danielle). Yuk baca terlebih dahulu baca tulisan bestie saya tentang Tips menjahit jeans di sini untuk persiapan jahit jeans supaya  sukses menjahit  👖jeans.👌


Beberapa alteration dari pattern original:
  • shorten bodice front dan back 1.5cm,
  • bagian celana shorten 5cm, 
  • bagian strap shorten 1.5cm,  
  • bodice back kurangi wedge 1.5cm supaya tidak terlalu large > lupa untuk bagian depannya.
  • waistband kurangi lebar 1cm karena tidak ingin waistband terlalu lebar.
Proses jahit saya ikuti instruksi di booklet RDC, yang menurut saya kurang lengkap. Ada beberapa gambar, tapi tidak jelas buat saya, mungkin level jahit saya yang masih kurang mencukupi untuk jahit overalls (?)🤔  apalagi petunjuknya menggunakan bahasa prancis  mengharuskan saya membaca berulang-ulang supaya tidak keliru dan tidak membuat ( mengurangi) resiko salah jahit😄.
Di booklet tidak ada tahap jahit saku belakang, sehingga harus hati-hati bila akan membuat overalls lagi. Sebaiknya jahit saku sebelum proses penyatuan bagian depan dan belakang celana.
Karena saya hanya memiliki satu mesin jahit, proses jahit topstitch dan jahit biasa harus rajin bolak-balik mengganti jarum dan benang, untungnya karena Danielle saya jahit dalam tempo yang sangat slow sehingga tidak merasa capek gonta-ganti jarum dan benang. 
Untuk pemasangan button jean - yang banyak itu-,  menggunakan tool pliers Prym vario ( cara pakai) proses pemasangan 14 buttons jeans hanya sekejap.😍  Karena sebelumnya saat jahit Cleo, 'paku' button jeans bengkok saat di 🔨 😒. Di Cleo yang ke-dua tidak masalah pakai 🔨,  saya sempat menyalahkan kualitas button yang saya beli 😛, tapi mungkin teknik saya yang kurang tepat. Sebenarnya saat itu tidak jadi masalah untuk pasang button dan tidak perlu pake 🔨 seandainya ingat kalau punya tool Prym itu 🤦🏻‍♀️, yup saya lupa ada tool itu di laci. Selain pakai Prym vario saya menggunakan awl untuk membuat lubang sebelum pasang button jeans.


Awl selain untuk membuat lubang, saat jahit kain jeans dengan ketebalan tertentu karena lipatan, saya gunakan awl untuk mendorong  kain di bawah foot mesin jahit jadi benang tidak stuck karena kain jeans yang tebal tidak maju.
Faux fly front mengurangi keribetan jahit overalls Danielle- yaay -, tidak ada zipper 😁. Perhatikan & copy semua tanda dari pattern ke kain  yang di perlukan supaya tidak salah melipat fly front - seperti saya, awalnya salah melipat center front untuk fly front.
faux fly
10 buttonholes tidak menjadi momok kali ini dibandingkan saat jahit jeans Safran, karena tidak tebal kain denim yang saya pakai dan liningnya kain katun biasa, sehingga proses membuat 10 buttonholes berjalan sukses.

lining saku
Bagian dalam saku, saya pakai sisa kain  katun yang berbeda warna, motif boneka gitu 😺

Danielle nyaman dikenakan, begitu jadi langsung saya pakai tanpa cuci lagi. Untuk kegiatan di rumah sangat leluasa bergerak dengan Danielle. Jika ingin lebih 'fitted' bisa ✂︎ size down, tapi kok saya suka ya celananya yang large seperti itu 😉. Untuk celana 👖sebenarnya bisa dikurangi sideseam, karena waktu basting fitting saya sudah menyadarinya, sekali lagi saya lebih suka 👖loose fit seperti itu.
Ahhh... jadi pingin bikin tshirt merah biar seperti Super Mario 😁.

Senin, 18 September 2017

Sewing Cleo

wohoooo!
Cleo dungaree  kali ini bukan untuk saya, tapi request dari seseorang. Untungnya ukuran hampir sama, beda sekitar 2-3cm dan yang pasti dia lebih tinggi dari saya 😄. 
Pola saya pakai pola yang sama seperti Cleo versi pertama, tapi ditambah panjangnya 7cm.
Kain denim dari Mondial Tissu, awalnya saya niat untuk jahit celana jeans buat saya, tapi karena malas mencari denim lagi, sehingga Cleo saya jahit di kain denim ini. Lebar denim 150cm, sehingga untuk Cleo ini cuma membutuhkan kain sekitar 1m10. Irit !
Kesulitan sangat minim, karena dungaree ini termasuk mudah di jahit, tidak ada teknik khusus. Sedikit kendala saat pasang button jeans itu 😣 Sepertinya button jeans yang saya beli itu kualitasnya tidak terlalu bagus, saat saya 🔨 lubang di bawah kancing tsb ( bahan plastik keras), tidak terbuka aka paku nya tidak masuk. Setelah 2-3X saya 🔨, yang ada pakunya bengkok tanpa masuk ke bawah lubang button itu. 😤 Ini terjadi juga saat saya pasang button jeans di Cleo versi pertama saya.
Akhirnya saya ingat kalo saya punya stok button jeans beli di supermarket, eehh.. begitu di 🔨 1X, button tsb langsung nancap dengan manis dan rapi nya. 🙌 Horreeeee ! Aah, next time pakai button jeans yang dari supermarket aja aah..Karena yang saya beli di toko alat jahit lokal   dah sempat merusakkan sekitar 5 biji button jeans. Nanti saya akan beritahu pemilik toko jahit itu, kalau pengalaman saya dengan produk dari tokonya kurang sukses.


Jumat, 05 Mei 2017

Jamie Jeans, finally!

Saya 'ngidam' pola Jamie jeans by Named Clothing ini entah sejak kapan. Tapi karena harga polanya (printed version plus ongkir) lebih mahal dari pola indie yang lain dan saat itu pun saya belum memiliki ketrampilan yang baik dalam menjahit celana jeans, maka saya redam keinginan itu. Lalu saya melihat satu pola skinny pants (Black Magic) di majalah Ottobre akhir tahun 2014 yang membuat saya ingin mencoba menjahit celana jeans. Dari situ bergeraklah secara perlahan perjalanan dan proses belajar saya dalam menjahit pakaian favorit kami sekeluarga. Hingga sampailah pada Jamie jeans ini, akhirnyaaaa...

Jamie jeans ini didesain untuk jenis celana skinny jadi bahan kain yang disarankan adalah yang stretch, khususnya yang memiliki elastisitas 15-20%. Modelnya berbeda dengan skinny jeans yang ada di pasaran yaitu di bagian depan ada dua bagian yang dijahit satu, kemudian desain kantungnya yang unik. Secara umum, pola yang dikeluarkan oleh Named sesuai untuk orang yang berbadan tinggi. Tentunya tetap masih bisa untuk orang yang berbadan rata-rata atau di bawahnya asalkan kita tahu di bagian mana pola tersebut harus dimodifikasi.  


Berhubung anak sulung saya sedang membutuhkan celana jeans baru (urgent!), jadi Jamie jeans perdana dibuat untuk dia. Ukuran yang diambil adalah 36. Walau anak saya termasuk tinggi, namun demi mengantisipasi, saya menambah panjang 2 cm saat memotong kain. Bahan denim stretch yang dipakai sama dengan yang saya gunakan untuk membuat skinny jeans Black Magic. Pocket bag menggunakan kain motif bunga yang saya ambil dari rok anak saya yang sudah kekecilan (homemade sekitar 4 tahun yang lalu).

Tahapan konstruksi, saya banyak melihat sew-along di site Indie Sew.

Di awal-awal konstruksi, saya memperkirakan bahwa kesulitan hanya akan ada di bagian penjahitan kantung depan karena tidak sama dengan kantung celana jeans lain yang sudah pernah saya buat. Namun ternyata ada juga sedikit kebingungan pada urutan penjahitan fly front, crotch dan seam. Kalau dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, penjahitan dimulai dari bagian fly front dulu sampai selesai topstitching crotch, baru deh seam dalam dan samping. Tapi untuk Jamie ini terbalik, seam dalam dan samping dulu, baru deh fly front dan crotch. Hal ini sempat membuat saya 'kagok' dan kesulitan saat topstitching di bagian crotch karena saya merasa kurang lebar space jahit saya. Gawatnya lagi, saya memilih benang topstitching yang berbeda dengan warna bahan kain denim (akibat terlalu pede). Akhirnya satu dari 2 topstitching line yang dilakukan di bagian ini, saya menggunakan benang biru tua supaya satu line saja yang terlihat agak tak rapi (satu lagi tak kentara karena birunya sama dengan si denim). 

Metode fitting yang saya pakai di sini adalah baste and fit seperti yang dicontohkan di site Indie Sew. Bedanya adalah saya tidak mengikutsertakan waistband dalam proses pengepasan. Hasilnya, pinggang harus dikurangi 2 cm kanan dan kiri. Panjangnya justru pas (untung sudah ditambah 2 cm). Selebihnya tidak ada masalah.

Pemasangan waistband juga mengalami sedikit modifikasi tapi bukan karena ada masalah melainkan karena selera pribadi yaitu dengan memberikan bias binding pinky di bagian dalam.



Hasilnya setelah modifikasi, ternyata bagian depan (perut bawah) agak 'lega' ya. Kemudian, bagian kaki belakang agak memutar ke arah depan. Kenapee... Selebihnya sih oke-oke saja.



Secara keseluruhan, catatan saya untuk Jamie kedua nanti adalah:

  • Langkah konstruksi fly front-crotch-seam mengikuti Morgan jeans saja.
  • Khusus untuk topstitching bagian fly front lebih baik mengikuti cara di booklet Named, jangan ikut yang di site Indie Sew (hasilnya kurang bagus menurut saya).
  • Benang topstitching pakai yang biru tua saja. Lebih aman dan kalau melihat contoh yang dibuat Named juga tetap kelihatan bagus.
  • Bagian depan celana yang dekat dengan fly front dikurangi 2 cm (masing-masing kanan kiri) dari arah fly front-nya (belum tahu bagaimana tapi worth it untuk dicoba).

O iya, untuk celana jeans ini, untuk pertama kalinya saya menggunakan benang topstitching dan benang jahit khusus jeans yang satu paket dari Gutermann. Terus terang saya suka sekali dengan warna benang topstitching ini. Perfect di atas biru tua si denim. Lalu, untuk pertama kalinya juga saya menggunakan ritsleting YKK khusus untuk celana panjang (Tasca Trousers). Ritsleting ini cocok juga untuk celana jeans khususnya yang warna denimnya bukan biru muda. Untuk denim biru muda, YKK mempunyai produk ritsleting khusus yang tertulis "super jeans" (paling kanan dalam foto paling bawah).




Detil bahan material:

  • Kain denim stretch: Les Coupons de Saint Pierre
  • Kain lining: recycle dari rok 
  • Bias binding: sisa project batik anak
  • Benang jeans Gutermann: Mondial Tissus
  • Ritsleting YKK: Eurodif
  • Fusible interfacing untuk waistband: Vlieseline H200
  • Jarum jahit: Schmetz jean size 100
  • Jarum topstitching: Schmetz topstitching 100
  • Kancing: jeans ukuran 17mm dari Mercerie Carefil







Minggu, 11 Desember 2016

Little Skinny Jeans

Skinny jeans untuk anak-anak? Ayuk bikin! Polanya ada di majalah Burda edisi Agustus 2016 tapi saya membeli versi PDF-nya di website Burdastyle.com. Kebetulan waktu itu sedang ada Black Friday sale 50%. 

Ukuran yang diambil: untuk pinggang 116, untuk panjangnya 134 (pada akhirnya dipotong sekitar 2 cm). 

Bahan yang dipakai adalah denim stretch biru tua. Untuk kantong dalam serta aksen di pinggang dalam, saya menggunakan satu potongan kain katun berwarna dasar biru tua juga. Kain ini diberikan sebagai bonus sampel oleh salah satu toko kain online langganan saya. Daripada tidak dipakai, yuk ah menemani si denim untuk aksen dalam.



Pola ini tidak memberikan bagian kantong jadi saya membuatnya sendiri, demikian juga desain bintang di kantong belakang (dibuat secara santai jadi tidak persis sama antara kanan dan kiri). Bagian waistband hanya diberikan ukurannya jadi kita harus men-draft-nya sendiri. Saya tidak melirik sama sekali instruksi penjahitan yang diberikan oleh Burda karena celana panjang ini terbilang mudah. Sangat mudah bagi yang sudah pernah menjahit celana jeans standar. Karena apa? Karena tidak ada fly front dan closure. Semua diatur di elastik pada ban pinggangnya. Mudah kan?

Tips: Jangan lupa mengecek lebar elastik apakah bisa masuk ke case waistband apalagi kalau kita hanya ingin menggunakan stok elastik yang ada di rumah (tidak membeli khusus untuk project).

Untuk pertama kalinya saya menggunakan benang topstitching merah merk Coats yang dibeli sekitar September-Oktober tahun lalu di Craftsy shop. Hasilnya oke bangets! Untuk tips topstitching yang baik, di sini ada artikel yang lengkap.


Jahitan untuk hemming celana ini menggunakan jenis stitching bergelombang. Lucu juga ternyata. Jadi beda dengan biasanya.


Hasilnya: si kecil hepi! Keesokan harinya dia langsung pakai untuk ke sekolah. Kemudian lanjut ke tempat les. Ah, senangnya...


Untuk berikutnya, saya harus merubah sedikit pola kantong yang saya buat. Perubahan tersebut adalah memperpanjang facing kantongnya supaya jahitan obras tidak terlalu mendekati bukaan (memperkecil resiko kelihatan dari luar) -> ini catatan pribadi supaya tidak lupa :D


Note:

  • Kain denim stretch dari Les Coupons de Saint Pierre
  • Kain katun untuk aksen dari Sigrid
  • Benang topstitching jeans dari Craftsy
  • Elastik dari stok lama


Rabu, 30 November 2016

Tips Menjahit Celana Jeans 1

Berikut ini rangkuman dari pengalaman dan proses belajar menjahit celana jeans. Bila ada pertanyaan, silakan saja. Nanti kami akan coba bantu dari sumber-sumber yang ada.

Yang pertama-tama perlu dibahas adalah beragam jenis kain denim. Kain denim itu ada yang tebal dan ada yang tipis. Untuk tahu apakah ketebalan bahan sesuai dengan kebutuhan kita, sementara kita membelinya secara jarak jauh atau online, tanyalah bobot si kain (gram/meter2 atau ounce/square yard). Kalau mengutip dari site ini,
Traditionally, 12 - 16 oz. is used for denim jeans, and those weights can be divided in three categories:
  • Lightweight: 12 oz. or under
  • Mid-weight: 12 - 16 oz.
  • Heavyweight: anything above 16 oz.

Denim yang lightweight tentunya ringan dan cocok untuk cuaca panas. Model boyfriend jeans bisa menggunakan denim ringan ini. Dan satu lagi keuntungannya adalah: menjahitnya relatif lebih mudah karena ya itu tadi, tidak tebal. Jadi kalau mau memulai membuat celana jeans, pertimbangkan untuk menggunakan jenis denim yang light dulu.

Selain itu, kain denim juga ada yang stretch. Untuk beberapa model celana, misalnya skinny, denim jenis stretch tentunya lebih cocok. 

Jangan lupa untuk mencuci kain denim yang akan dijahit. Beberapa denim akan melunturkan warnanya pada saat pencucian dan bahkan ada beberapa kasus dimana warna biru si denim melekat di jari-jari kita saat kita menjahitnya.

Yang juga perlu diperhatikan adalah pola yang akan digunakan. Make sure bahwa polanya sudah fit di badan kita. Cara untuk fitting bisa dilihat di Closet Case Patterns.

Ok, sekarang kita ke tips terkait penjahitannya.


  1. Pertama-tama, siapkan semua material yang akan dibutuhkan untuk menjahit celana jeans. Jarum jahit! Sebaiknya gunakan jarum jahit khusus untuk bahan denim /jeans. Dan pilih ukuran yang sesuai dengan ketebalan kain denim kita. Bila tidak ada jarum khusus denim, kita bisa menggunakan jarum universal ukuran 90 atau 100 (sekali lagi, tergantung ketebalan kain). Jarum topstitching akan diperlukan juga tapi kalau tidak ada, ya jarum universal saja.
  2. Benang! Ingat bahwa jenis benang jahit yang digunakan sebaiknya yang kuat, misalnya Guterman Extra Strong atau Gutermann Spesial Jeans. Tapi beberapa orang ada juga yang menggunakan benang jahit all-purpose (biasanya polyester). Dan untuk benang jahit ini gunakanlah warna yang senada dengan warna kain denim. Dan ingat juga bahwa topstitching celana jeans umumnya menggunakan benang yang warnanya berbeda dengan benang jahit. Tapi bisa juga sama kok, tergantung selera saja. Untuk awal-awal, sebaiknya gunakan benang berwarna sama dengan warna kain denim supaya tidak kentara kalau ada yang tidak rapi. 
  3. Benang topstitching ada yang khusus dengan ketebalan di atas benang jahit biasa. Tapi bila kita tidak memilikinya, gunakan saja benang jahit yang ada. Di kemudian hari, bila ternyata kita suka sekali dengan pembuatan jeans, bolehlah investasi beli benang topstitching. Sekalian yang meternya besar yaa... Misalnya 500 meter. Benang topstitching Gutermann kalau tak salah hanya 50 atau 100 meter deh... 
  4. Ada cara lain untuk alternatif topstitching tanpa benang khusus. Menurut kelas jean dari Kenneth King di Craftsy, kita bisa juga menggunakan dua benang jahit biasa dimana keduanya ditujukan ke satu jarum yang sama. Jadi seperti menjahit dengan double benang. Sejauh ini kami belum mencoba namun tampaknya beberapa orang di luar sana sudah menjajalnya dan suka.
  5. Ingat, kalau kita menggunakan benang topstitching, benang di bawah (bobin bawah) tetap benang biasa. Karena sering kejadian kalau bobin bawah menggunakan benang topstitching juga maka hasil jahitannya tidak rapi (bawah).
  6. Apapun pilihan benang, tips paling utama adalah: trial dulu termasuk cek tension atas apakah sudah pas.
  7. Nah, kalau kita menggunakan dua macam benang yang berbeda (benang jahit dan benang topstitching), berarti kita harus mengganti benang atas berulang kali. Siapkan mental untuk itu ya. Cara yang lebih praktis dan hemat waktu adalah menggunakan dua mesin jahit (kalau ada). Jadi satu mesin untuk menjahit potongan jeans dan yang satu lagi untuk topstitching
  8. Jarak jahitan pada umumnya untuk celana panjang adalah 3 (kalau menurut satu kelas Craftsy). Sedangkan untuk topstitching, jaraknya antara 3.5 dan 4.
  9. Mesin obras sebaiknya ada untuk merapikan pinggiran kain. Tapi kalaupun tidak tersedia, kita bisa menggunakan jenis jahitan zigzag di mesin jahit atau kalau ada jenis jahitan overcasting, bisa juga digunakan (tentunya dengan overcasting foot). 
  10. Tahap pertama dalam proses penjahitan celana jeans biasanya adalah pemasangan kantong depan dan kantong belakang. Kantong belakang lebih gampang karena hanya patch pocket. Tapiii... kalau kita ingin menggunakan desain gambar tertentu, sebelumnya kita harus meluangkan waktu dalam membuat percobaan di kain yang sama (sisa kain). Jangan lupa memberikan kain pelapis (pislin) di bagian belakang pocket untuk menjaga kestabilan hasil. O iya, beberapa ide desain gambar kantong belakang bisa diunduh di sini.
  11. Kantong depan pada umumnya dijahit dengan cara yang standar. Tapi misalnya ada potongan yang kita tidak mengerti, ada baiknya cek ke beberapa celana jeans ready-to-wear (atau celana panjang lainnya) yang kita beli di toko. 
  12. Tambahan 23 Okt 2017: Zipper. Untuk celana jeans, zipper yang dipakai adalah yang bergigi metal dan biasanya khusus untuk menjahit celana jeans. Panjangnya sekitar 15-18 cm tapi kalau Anda hanya bisa menemukan yang lebih panjang, ada cara untuk memperpendeknya di artikel ini.
  13. Tambahan 23 Okt 2017: Kancing. Kalau celana jeans yang hendak kita buat menggunakan kancing untuk penutup (no zipper), carilah kancing yang memang diperuntukkan bagi jeans. Biasanya jenis kancing sama dengan kancing penutup paling atas, hanya saja ukurannya lebih kecil sedikit. Contoh gambar ada di bawah (foto dari Closet Case Patterns).
  14. Tambahan 23 Okt 2017: Rivet. Benda yang imut-imut ini biasanya dipasang di pinggiran kantung depan dan kantung belakang. Fungsinya? Menjaga si kantung supaya tidak mudah suwek karena tangan kita bolak balik menaruh benda ke kantung, apalagi kalau benda tersebut termasuk besar dan agak berat misalnya handphone dan dompet. Terkadang kita pun bergaya dengan dua tangan masuk ke kantung, iya kan? Jadi bagian kantung harus diperkuat dengan rivet. Selain itu, fungsi lainnya adalah untuk unsur dekoratif. Cara memasang rivet (dan kancing jeans) bisa dilihat di postingan Indie Sew ini. Siapkan palu ya!
  15. Tahap yang paling membutuhkan konsentrasi adalah pembuatan fly front. Jadi untuk project jeans pertama, kita bisa mengalokasikan waktu yang cukup banyak di bagian ini. Tips di sini hanya untuk hati-hati dalam menjahit zipper-nya karena ada bagian gigi metal kan. Jangan sampai kena jarum jahit kita. Trus juga hati-hati saat topstitching di bagian fly front karena kalau tidak rapi, kelihatan aja deh...
  16. Penjahitan yoke di bagian belakang jeans tidak terlalu sulit namun karena di bagian ini sudah ada topstitching, jadi pas penyambungan yoke kanan dan yoke kiri, garis topstitching tersebut sebaiknya bertemu. Ini cukup penting karena bagian tersebut cukup kelihatan (kecuali kalau kita pakai atasan yang menutupi bottom). 
  17. Ingat, supaya rapi, pada setiap tahapan penjahitan untuk menyatukan bagian-bagian jeans, kita sebaiknya menyetrika dan press bagian-bagian tersebut. Press, press, press...
Pic of Closet Case Patterns

Trial jahitan: atas - double benang, bawah - benang topstiching


Ok, sementara ini dulu yaa... To be continued!





Rabu, 23 November 2016

Bootcut Jeans


Sekitar tahun lalu saya mengetahui tentang satu merk celana jeans lokal yaitu 1083. Di site mereka, merk ini menawarkan beberapa pola jeans secara gratis dalam format PDF. Pola-pola ini, katanya, merupakan pola yang digunakan untuk memproduksi jeans mereka. Ada tiga model yang ditawarkan dan salah satunya adalah model jeans bootcut untuk wanita. Saya tertarik sekali tapi saat itu kemampuan menjahit saya belum sampai pada tingkat celana jeans. Sekarang, setelah ada pengalaman mengerjakan satu celana jeans skinny dan satu celana jeans boyfriend, saya merasa semakin percaya diri dalam membuat jenis pakaian ini.

Bulan ini kebetulan ada kelas menjahit khusus celana jeans 1083 di salah satu tempat kursus lokal. Kelasnya hanya satu hari dari jam 10 sampai jam 17 dan peserta bisa menggunakan peralatan mesin yang ada di sana (mesin jahit, mesin obras, mesin setrika press). Bahan kain dan material jahit lainnya harus membawa sendiri dan kainnya harus sudah dipotong ketika sampai di tempat kursus supaya menghemat waktu.

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih ambil kursus untuk menjahit celana jeans? Kan bisa coba sendiri dan sudah banyak tutorial di internet. Iya sih, tadinya saya ragu mau ikutan karena sebenarnya bisa saja dikerjakan sendiri apalagi sudah ada pengalaman. Tapi berhubung saya ingin sekali menguasai pembuatan jeans dari ahlinya langsung, jadi saya ambil saja deh. Toh celana jeans termasuk jenis pakaian yang dikenakan setiap hari oleh kami sekeluarga. Jadi ke depannya akan sangat berguna. Kebetulan juga jenis denim yang digunakan untuk bootcut jeans ini tergolong tebal untuk saya. Jadi saya berharap mendapat ilmu tambahan terkait dengan bahan setebal ini (pada akhirnya sih tidak ada yang spesial selain tips penggunaan palu untuk menipiskan lapisan denim di seam - saya sendiri kadang harus potong seam secara berlapis supaya lebih mudah dijahit).

Ok, untuk jenis jeans ini, bahan kain yang disarankan adalah denim non-stretch. Bobotnya gimana? Kalau saya melihat denim yang dijual oleh site 1083 dan digunakan untuk model bootcut mereka, denim tersebut termasuk kategori mid-heavy (di atas 250 gram/m2). Sebenarnya saya bisa membeli denim-nya saja di site itu tapi karena harganya termasuk tinggi (jenis organik dan Made in France), jadi untuk bootcut pertama saya cukuplah denim yang standar saja.

Problem pertama adalah di printing pola PDF-nya. Kenapa? Karena merk 1083 ini tidak memberikan test square dan printer saya belakangan ini mulai "sakit-sakitan" jadi suka berantakan hasil printingnya. Ada sedikit kekhawatiran bila ukuran pola yang tercetak tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Jadi untuk menghindari kesalahan dalam ukuran, saya membuat dulu muslin dari kain katun biasa. Ukuran yang saya ambil adalah 32 (american size - 42 untuk Perancis). Setelah yakin dengan ukurannya, baru deh saya potong denim di size tersebut. Saat membuat muslin ini, saya baru perhatikan bahwa ada bagian kain yang saya tidak tahu bagaimana dijahitnya dan di bagian mana. Kelihatannya untuk di kantong, tapi di sebelah mana. Sudahlah, toh muslin saya sudah cukup memberikan informasi bahwa ukuran yang saya ambil sesuai dengan badan saya. Detail tentang kantong pasti akan saya ketahui pas kursus.

O iya, kain untuk lapisan dalam kantong depan menggunakan kain katun biasa namun sebaiknya bukan yang jenis tipis. Kalau bisa jenis poplin. Di sini saya pakai sisa poplin motif bunga-bunga.

Foto kantong depan dengan poplin bunga (dengan potongan facing yang awalnya saya tidak tahu ditempatkan dimana)

Di tempat kursus, saya menggunakan mesin jahit Janome 8077. Mesin ini cukup oke dalam menangani bahan denim kategori tebal. Tapi tetap saya harus trial dulu di awal, terutama di panjang stitching dan tension atas. 

Janome 8077

Kantong belakang dijahit secara sederhana, tanpa desain yang khusus. Sang guru mengatakan bahwa jarak stitching pertama (paling pinggir) antara 2-3 mm. Yang berikutnya antara 5-6 mm.

Kantong belakang

Sayangnya waktu tidak mencukupi bagi semua peserta kursus untuk menyelesaikan celana jeans ini. Kami semua harus berhenti di saat konstruksi waistband. Tapi untungnya kami sudah mencoba fitting jeans di badan masing-masing dan kemudian membuat adjustment dibantu oleh sang guru. Saya pun melakukan penyesuaian saat fitting pertama yaitu di bagian yoke karena ada sway back. Untuk mengambil dari tengah, saya keberatan karena sudah topstitching euy... Setelah dicoba ambil dari kanan dan kiri, ternyata bisa juga. Sip...

Problem fitting kedua yang tidak saya deteksi saat di tempat kursus adalah lipatan belakang di bagian bawah bokong. Kalau menurut postingan Closet Case Patterns, masalah fitting ini memerlukan flat seat adjustment.

Banyak lipatan di bawah belakang

Nah, untuk memperbaiki masalah fitting yang ini, saya terpaksa membongkar lagi topstitching yang sudah dibuat di bagian bawah tersebut. Tentu tidak perlu dibuka semuanya, cukup di bagian bawah khususnya back legs dekat crotch. Setelah dibuka (topstitching, jahitan obras plus jahitan biasa, haish capek...), saya mengambil masing-masing 1.5 cm di back leg kanan dan kiri. Kemudian saya basting dulu, fitting lagi, dan setelah merasa cocok, saya baru deh menutup jahitan secara permanen. 

Problem berikutnya adalah, penggunaan bias binding untuk finishing waitsband. Saya kurang suka karena saat di-topstitching, hasilnya kurang rapi di bagian dalam waistband. Saya lebih suka dengan cara biasa yaitu lipat seam ke arah dalam, press, slip stitch pakai tangan, setelah itu baru deh topstitching.


Selain itu, ada masalah lain di bagian ini. Hasil topstitching waistband di bagian kanan khususnya di atas kantong depan kanan tidaklah bagus, terkesan tidak rapi seperti bergelombang ke satu arah (maaf tidak sempat foto karena saya keburu dedel). Memang waistband ini tidak ada lapisan interfacing sehubungan dengan bahannya yang sudah cukup tebal. Tapi ternyata memang tetap harus distabilkan. Jadi untuk menyelamatkan bentuknya, setelah dedel, saya membuat basting stitch diagonal di sepanjang waistband (lihat foto atas, bagian yang ada benang pink). Setelah itu saya copot bias binding, lipat seam, press, slip stitch dan topstitching lagi dengan pelan-pelan.

Akhirnya sampai pada hemming! Fiuh... Di polanya, panjang celana jeans ini ada dua pilihan: 34 atau 36. Saya memotong bahannya di batas garis 36 tanpa memberikan hem allowance. Setelah fitting,  kepanjangan, saya pun memotong hem sebanyak 4 cm, kemudian membuat double fold hem 1.5 cm. 

Beres! Saatnya pasang kancing dan rivets. Ini kerja keras banget deh karena lapisan yang mau dipasang rivets terlalu tebal, jadi bolonginnya setengah modar, heu... Akhirnya saya hanya pasang dua rivets saja di pojokan luar kantong depan. Oh iya, pola asli celana jeans ini tidak ada kantong koin yah. 


Voila! 

Keuntungan dari menjahit jeans ini dengan dibantu guru yang ahli adalah: 
  • jadi tahu piece kecil untuk kantong ditempatkan dimana
  • penempatan zipper pas, tidak ada bagian metal yang tertabrak saat dijahit
  • melihat langsung cara guru menyatukan dua bagian yang akan dijahit dengan menyatukan ujung terlebih dahulu, kemudian tengah, ke tengahnya lagi, dst. Jadi kalau ada ketidaksempurnaan saat cutting, bagian itu akan terbagi secara rata di semua bagian (bingung ngga?)
  • ada reminder bahwa kalau pasang jarum pentul itu harus betul supaya saat kita menjahit akan lebih mudah menarik si jarum
  • informasi bahwa kalau mau memendekkan seam allowance setelah dijahit, sebaiknya tidak menggunakan gunting cranteur (pinking shears) karena bisa beresiko kelihatan dari sisi luar


Apalagi yaa... Anyway, kalau Anda berminat untuk membuat celana jeans menggunakan pola dari 1083, selain model bootcut wanita - kode 202, ada juga model lurus untuk wanita - kode 201 dan model lurus untuk pria - kode 101. Sayangnya petunjuk untuk konstruksi dalam bahasa Perancis dan tidak detail. Namun Anda bisa coba cek sew-along jeans yang ada di internet (Ginger by Closet Case Patterns atau Jamie by Named Clothing) atau video tutorial menjahit jeans di YouTube yang dibuat oleh Angela Kane.

Selamat menjahit!


Denim: Tissus.Net
Poplin: Sepertinya dulu beli di Butinette
Benang topstitching: Bruneel
Benang jahit: Laser (tidak tahu jenisnya tapi yang jelas lebih tebal dari benang biasa) dari Tissus Jaures
Kancing dan rivets: Silvercoast (eBay)
Zipper: Mercerie Carefil 

Edit 30/11/2016: Jeans ini akhirnya diperpendek 3.5 cm karena masih kepanjangan. Kemudian ada satu lagi yang hendak ditambahkan di sini. Pembuatan lubang kancing pada jeans ini sempat mengalami kesulitan di mesin jahit elektronik saya (Brother NV30). Untuk itu, saya harus mengulanginya di mesin jahit mekanik Bernina jadul saya. Problem pada pembuatan lubang kancing ini terjadi pada project yang menggunakan bahan kain tergolong tebal (Yuzu coat, Coatigan Silvia, bootcut 1083). Tapi untuk project berbahan kain ringan sampai medium, proses berjalan tanpa hambatan. Masalah ini sedang diinvestigasi, ceile... :D


Selasa, 22 November 2016

Boyfriend Jeans in Light Denim

Morgan jeans by Closet Case Patterns

Boyfriend jeans merupakan satu model celana jeans yang sangat diminati oleh banyak orang dan beberapa celebrity internasional suka mengenakannya untuk kegiatan mereka sehari-hari. Modelnya sendiri ringan dan cocok digunakan dengan beragam jenis atasan maupun beragam jenis sepatu. 

Terus terang saya sendiri merasa nyaman menggunakan jeans jenis boyfriend ini, baik untuk kegiatan di luar rumah maupun di dalam rumah (maksudnya, bersih-bersih, beres-beres, masak, nyetrika, hehe...). Dan setelah berdiskusi dengan anak sulung, kami pun sepakat untuk membeli pola boyfriend jeans dari Closet Case Patterns. Nama polanya Morgan.

Untuk Morgan yang pertama, saya menggunakan jenis kain denim yang ringan/light. Bobotnya hanya 200 gram/m2. Di polanya sendiri tertuliskan saran untuk jenis kain denim non-stretch yang range-nya dari light sampai heavy. Saya pilih light dulu deh. 


Secara umum, review untuk polanya:
  • Instruksi jelas sekali. Dari tips-tips menjahit denim, cara memotong kainnya sampai dengan konstruksi/penjahitan. Kalau ada bagian yang kurang jelas pun kita bisa meluncur ke blog Closet Case Patterns karena ada beberapa panduan konstruksi jeans. 
  • Cutting polanya sendiri menurut saya pas. Mungkin lebih tepat dibilang bahwa polanya cocok dengan jenis badan saya. 
Modifikasi :
  • Hem: Sebelum memotong kain denim, saya mengecek panjang jean bagian depan dengan cara menempelkan kertas polanya ke badan saya. Merasa bahwa panjangnya tidak cukup (tinggi badan saya di atas 170 cm), saya menambah 2 cm saat memotong kain. Hemming menjadi sbb: lipatan pertama 1 cm, lipatan kedua 1.5 cm.
  • Waist: setelah fitting dan merasa pinggang kebesaran, saya mengambil masing-masing 2 cm dari sisi kanan dan kiri.
  • Belt loops: Bagian ini tidak saya jahit dua kali (kanan dan kiri) seperti halnya contoh di panduan. Yang saya lakukan hanya membuat satu jahitan di tengah (ini hasil 'ngintip' satu celana jeans milik suami, hihi...).
Selama konstruksi, pengalaman yang saya ambil:
  • Penggunaan dua mesin jahit sangat membantu. Satu untuk menyambung jahitan, satu untuk topstitching. Jadi banyak hemat waktu dalam proses penggantian benang (benang jahit dan benang topstitching).
  • Berhubung benang topstitching lebih tebal, jadi bobbin bawahnya menggunakan benang biasa saja. Kenapa? Karena dalam beberapa percobaan, bila bobbin bawah menggunakan benang topstitching juga, maka hasil jahitan bawah terlihat tidak rapi (dan ternyata bukan hanya kejadian pada saya saja tapi juga pada beberapa sewing blogger lainnya termasuk si bestie). Tapi tetap harus trial dulu untuk melihat hasil jahitan rapi atau tidak. Kalau tidak rapi, tension atas harus disesuaikan. Tips: Saya mendokumentasikan hasil trial di lembaran yang disediakan oleh satu kelas Craftsy dan kemudian saya simpan rapi di satu folder. 


Kantong belakang sedikit mendapat perhatian lebih yaitu:

Stay tape
Interfacing di desain gambar
  1. Diberikan stay tape di bagian atas supaya lebih rapi dan lurus saat dijahit. Sebenarnya ini tidaklah wajib tapi berhubung kain denim saya light, jadi saya ingin lebih terlihat solid di bagian itu.
  2. Desain kantong belakang yang kita lihat di pasaran ada beragam. Untuk membuat yang sederhana namun cukup cantik ternyata tidak terlalu sulit. Hanya bermodal penggaris dan pensil jahit, saya membuat model seperti foto di atas
  3. Untuk membuat jahitan desain kantong belakang cukup solid (seperti halnya embroidery), saya memberikan lapisan interfacing hanya sepanjang desain tersebut (di sini saya pakai Vilene G700). Saya sempat mencoba dengan jenis yang larut di air (Vilene Soluvlies) namun hasilnya kurang memuaskan.
Kantong depan, khususnya bagian lapisan dalam, saya menutup jahitan bawahnya dengan bias binding bunga-bunga berbahan dasar halus. Kemudian salah satu sisi dari fly juga saya berikan bias binding yang sama.


Topstitching fly front harus hati-hati karena ada bagian yang melengkung. Sementara bagian depan ini adalah bagian yang sangat visible saat kita mengenakan jeans-nya. Jadi maksudnya, kalau tidak rapi ya kelihatan gitu... So, buatlah topstitching di bagian ini dengan pelan dan hati-hati supaya hasilnya tidak mengecewakan.


Bagian ban pinggang bagian dalam saya jahit dengan tangan karena sudah terbiasa seperti itu. Setelah itu topstitching dengan pelan juga karena sama halnya dengan fly front, bagian ini akan kelihatan kalau tidak rapi.


Secara keseluruhan, proses pengerjaan boyfriend jeans ini tidak terlalu sulit karena selain instruksinya jelas, bahan kainnya pun ringan (bukan jenis denim tebal). Prosesnya memakan waktu lima hari dari pencucian kain denim sampai selesai topstitching akhir. Namun kemudian saya harus hunting kancing jeans dan rivets yang sesuai selera dan itu memakan waktu sekitar dua minggu (karena tidak dapat di toko terdekat, saya terpaksa hunting online dan berhasil menemukannya di satu seller eBay posisi di UK).


Voila, selesai deh si Morgan percobaan pertama. Sangat nyaman dikenakan tapi berhubung bahannya ringan, jadi agak kurang cocok untuk musim yang mulai dingin ini. Tetap bisa dipakai sih, misalnya untuk jemput anak ke sekolah atau untuk belanja ke supermarket. Tapi kalau untuk mengunjungi misalnya open air market dan mubeng-mubeng di situ selama dua jam... brrr... lumayan juga ya. Apalagi nanti kalau winter. Yo wis, dipakai di rumah wae... sambil nunggu spring summer.


Bahan denim: Tissus.Net
Bahan poplin (lapisan dalam kantong): sisa kain project terdahulu, dibeli dari Les Coupons de Saint Pierre
Benang topstitching: Bruneel
Kancing dan rivets: Silvercoast (eBay)
Bias binding: Salon Loisirs Créatifs Orléans
Stay tape: Marché du Tissus Strasbourg
Vlieseline G700: Patrons de couture

Sabtu, 12 November 2016

Safran jeans

Safran jeans/pants (14€) high waisted  merupakan satu-satunya pola koleksi Fall-Winter 2016 yang dikeluarkan oleh  Deer&Doe, salah satu indie pattern french favorit saya. Booklet pola terdiri dari dua bahasa, inggris dan prancis, dengan penjelasan yang lumayan detail.
Begitu pola ini di launching, saya langsung order karena penasaran ingin mencoba jahit toile  Safran skinny jeans.
tshirt Plantain -pola D&D
jeans Safran- pola D&D

Kain  yang di sarankan supaya memiliki kandungan elastisitas 20-30% saya beli online dari LCSP, yang cocok untuk jahit skinny jean.
Kain denim stretch dengan elastisitas 20% sepanjang 1m40 ( width 145cm) saya potong di size 40 (waist, hips) -38 (legs)  - ternyata kebesaran😥
Pola saya tracing di atas lembaran denim, tanpa di lipat kain tsb. Mengapa ? Menurut informasi yang saya baca, untuk mengurangi resiko kain twist ( keplintir?) saat potong. Bisa mempengaruhi hasil akhir jeans nantinya. Entah benar/tidak  atau seberapa besar pengaruh cara potong tsb saya tidak tahu :), tapi memutuskan untuk mengikuti saran yang ada saja ;).  Tracing pola harus secara miror, hadap-hadapan, jangan sampai keliru, bisa berakhir dengan potong kain bagian kaki kiri atau kanan 2X :D.
Safran jeans
Saya melakukan beberapa adjustments ( sebelum potong kain dan sesudah jahit)  guna mendapatkan jeans yang pas dari size awal 40, sbb:
  • mengecilkan waist dari pola asli ( kurangi 1,5cm) 
  • kurangi CB waistband 1,5cm
  • memperpendek celana 3cm
  • swayback 2cm
  • flat seat adjustment (fsa) 1,3cm ( back)
  • scoop back crotch 1,6cm (back)
  • kurangi -0,25 di inseam (back)
  • shorten front crotch -1,5cm
  • flat pubis 1cm(front)
Kebanyakan adjustments di atas saya berpedoman di postingan Heather-Closet Case  di sini. Sangat lengkap dan mencakup semua alteration pola yang saya butuhkan.Tentunya tiap individu akan berbeda adjustment yang dibutuhkan, sesuai dengan bentuk body dan kenyamanan yang di inginkan.
Di site designer pola nya sendiri terdapat banyak guide #Safran di bulan September untuk jahit Safran, karena saya jahit jeans sebelum ada postingan blog tsb, sehingga saya merujuk ke postingan Closet Case.
Mengamati banyaknya alteration yang saya lakukan, semakin mantap saya akan cut di size 38, tentunya tetap dengan sedikit alteration, yang akan tergantung pada jenis kain yang akan digunakan nanti.
Proses jahit mendapat tantangan pertama saat memilih benang yang cocok buat jahit jeans di kain denim stretch ini. Setelah mencoba ganti beberapa kali benang dan settingan mesin jahit, akhirnya saya menemukan settingan yang cocok ( menurut ukuran saya).

test benang

Untuk muslin wearable ini saya skip proses topstitching, untuk mempercepat dan mempermudah kalau ada adjustment/perubahan yang perlu di bikin setelah proses jahit.
Proses yang saya temukan sedikit membingungkan adalah saat jahit saku depan celana.
Ini membutuhkan konsentrasi lebih untuk mengerti teknik yang di gunakan dan cara menjahinya, supaya rapi saya basting terlebih dahulu.

Selain jahit saku depan, jahit lubang kancing di jeans ini juga menjadi tantangan, karena ketebalan jeans membuat agak sulit masuk di bawah foot mesin jahit. Seperti tips pada umumnya, di ratakan pakai palu,  belum berhasil masukkan pinggang jeans ke bawah foot button hole. Sempat curhat sama bestie, diberi ide jahit tangan. OMG! Sabarnya my bestie ;)





Akhirnya dengan bantuan tool 'aneh', berhasil sedikit meratakan ketebalan waist di bagian kancing, sehingga akhirnya saya bisa jahit lubang kancing dengan mesin. yaaay! Topstitch waistband saya terlihat kurang rapi :p, waktu itu saya tak sabaran untuk cepat menyelesaikan jeans Safran ;)
Berbicara tentang waistband, kali berikut saya akan menggunakan waistband utuh ( 1 piece) , seperti yang di pakai di Ginger jeans. Akan lebih memudahkan untuk alteration dan lebih gampang untuk menyesuaikan besar/kecil pinggang. Bedanya, di Ginger jeans ada back yoke, di Safran tidak ada back yoke.

Safran saya jahit akhir September kemarin, sampai sekarang sudah beberapa kali saya pakai, cuci dan setrika. Ada yang berubah ? iya. Kain denim menjadi lebih lemas dari sebelumnya, jeans terasa sedikit longgar, walaupun tidak sampai merubah shape nya itu sendiri. Tapi mungkin perlu saya ingat untuk proyek jeans berikutnya agar memperhatikan aspek pemilihan kain dan size yang tepat untuk Safran, sehingga tidak menemukan kejutan setelah di pakai dan cuci beberapa kali.
Sekarang saya jadi mengerti, di beberapa blog yang membahas tentang jahit jeans, mereka mencuci berulang kain yang akan di pakai sebelum di potong.
Voilà !

Kesimpulannya, saya cukup senang dengan hasil Safran jeans skinny stretch ini, sangat nyaman di kenakan. Full calf adjustment akan saya tambahkan di next jeans, karena di muslin ini tidak mungkin saya lakukan, adjustment ini harus di lakukan di pola sebelum kain dipotong. Sekarang Safran menjadi jeans favorit saya. Jahit lagi Safran yang baru untuk winter aahhh..