Pages

Rabu, 18 Oktober 2017

Toko Alat Jahit Primadona

Bagi yang tinggal di sekitaran Jakarta Timur, nama Pasar Sunan Giri tentunya sudah tidak asing lagi, apalagi kalau Anda pernah survey tempat menjahit kebaya pernikahan. Di pasar ini ada dua tempat menjahit yang populer akan keahlian mereka membuat kebaya pernikahan. Tapi saya tidak membahasnya di sini karena topik yang akan saya angkat adalah Toko Primadona. Yup, toko keperluan alat jahit yang juga populer itu.

Dengan bekal alamat yang memuat blok dll, saya mencari Toko Primadona dan syukurlah saya berhasil menemukannya. Toko ini ada dua dan bersebelahan atau tepatnya berseberangan, terpisah oleh lorong. Satu toko lebih kepada kebutuhan menjahit yang kecil-kecil semacam benang, zipper, kancing, dll. Sedangkan yang satu lagi lebih ke kain, keperluan membuat pola (penggaris, kapur, dll). Berhubung saya hanya ingin mencari benang dan zipper, jadi saya langsung ke bagian yang pertama. 

Untuk benang, saya hanya mencari Astra. Sedangkan zipper, saya hanya mencari YKK invisible 60 cm. Dan saat semuanya dihitung, harga total jauh lebih murah dibandingkan pembelian produk yang sama di Perancis. Ya iya lahhh... :D 

Sekilas foto-foto yang saya ambil, silakan dilihat.

Butik kebaya yang top itu

Butik yang lain

Primadona: Kancing dan zipper

Primadona: Benang sulam Merk DMC

Primadona: Benang Astra beragam warna

Primadona: Renda

Primadona: Penampakan 

Primadona: Pernak-pernik

Primadona: Benang yang lain

Primadona: Kain rubiah (?)

Primadona: Kain brokat

Alamat:
Pasar Sunan Giri
Los 1-2 Lantai Dasar 16-17

Senin, 02 Oktober 2017

Mirota Batik

Wah, ini pasti juga semua orang kenal. Mirota Batik atau Hamzah Batik. Setiap kali ke Yogyakarta, pasti saya ke toko ini untuk mencari oleh-oleh. Kali ini, saya pun mendatangi tempat populer tersebut tepat di hari pertama tiba di Yogyakarta.


Bagi saya, selalu menyenangkan untuk melihat demonstrasi proses membatik. Sang ibu pembatik terkesan amat sangat sabar dan tentunya sangat berpengalaman.


Di lantai atas ada cantolan baju dari kayu dan berbentuk mesin jahit. Lucu !


Sudut ini cukup menarik bagi saya karena sebagian besar kain batik berwarna sogan. Senang!




Dan kunjungan kali ini, saya melirik perlengkapan membatik. Rasanya ini saat yang tepat untuk mengadopsi beberapa malam dan canting, serta pewarnanya.

Ok, berikut ini beberapa kain yang ada di Mirota. Betapa beratnya menahan diri untuk tidak compulsive buying, heu...



*kain dari serat nanas*



Bagi pecinta batik dan saudara-saudaranya (lurik, jumputan), segala aya dah di Mirota... Cuma harus siap-siap mumet karena banyaknya pengunjung yang ada di dalam toko ini. Penuh sekalih... Paling enak memang pas jam buka (kalau tidak salah jam 9). Namun sekitar sejam-an kemudian, mulai ramai sekali.

Note. Bila Anda ingin alternatif toko yang menyediakan suvenir serta kain batik dkk, cobalah kunjungi :

Jl. Panembahan No. 58
Panembahan, Kraton
Yogyakarta
Tel. 0274-375208

Toko ini direkomendasikan oleh staf penginapan kami (kebetulan berlokasi di area yang sama). Saat saya mampir ke sana, terlihat beberapa kain batik, lurik, jumputan dan yang lainnya. Saya mengadopsi sebuah angkin jumputan seharga Rp. 60.000,- dengan kualitas yang bagus.

Sekilas di Beringharjo

Pasar Beringharjo, siapa yang tidak kenal? Pasti Anda semua tahu pasar ini, tempat belanja batik di Yogyakarta yang merupakan salah satu tempat favorit para wisatawan yang berkunjung ke kota pelajar. Bahkan sangat favorit bagi mereka yang pandai dan senang menawar harga, hihi... Lokasinya yang dekat pusat kota, terutama dekat Jalan Malioboro, membuat saya tidak berpikir panjang untuk singgah.

Kesempatan pertama, saya tiba pagi sekitar jam 8. Masih sepi (ya iya lahh... :D ). Jadi akhirnya saya foto-foto sedikit (padahal ada tanda dilarang foto - maap yak). 



Bagi yang suka batik siap pakai, tentu ada beberapa pilihan yang bisa dilihat. Dari model yang sederhana seperti daster rumahan, gamis sampai dengan pakaian kantor. Beberapa modelnya cukup modern tapi harus jeli mencari. Saya menemukan dress pendek dengan bagian pundak berlubang, seperti yang sedang jadi trend itu.




Bagi saya yang lebih memilih kain panjang, akhirnya pilihan jatuh pada kain batik semi sutra yang meteran di toko Roroys Textile. Kalau saya tidak salah ingat, harganya Rp. 40.000,- per meter. Sayangnya waktu saya tanya "semi sutra itu artinya campuran sutra dengan serat apa? dan persentase komposisinya bagaimana?", penjual tidak bisa menjawab. 

Dugaan saya, dengan harga itu, kandungan sutra-nya pasti sedikit. Atau, mungkin saja sutra buatan atau yang kita kenal dengan nama rayon. Bisa juga, sutra sintetik dari polyester karena saya merasa kehalusan bahannya sama dengan kain polyester silk yang saya beli di Les Coupons de Saint Pierre (sekitar 15 euros / 3 meter). Yang jelas, beda dengan scarf sutra milik saya, baik yang batik hadiah pernikahan, maupun yang dari pusat kerajinan sutra di Lyon.








Hari kedua, saya mampir sekitar jam 10-11, dan itu sudah ruame tenan... Wisatawan lokal maupun asing sudah memadati kios-kios batik. Oleh karena itu, saya hanya melihat satu toko yang tidak jauh dari Roroys (lupa namanya) karena pilihan kain cukup banyak dan harga cukup kompetitif, misalnya kain batik cap warna cerah harganya sekitar Rp. 60.000,-.


Rasanya lain kali kami ke sana lagi sambil bawa koper beroda ya.

Kunjungan Singkat ke Kauman Solo

Di Solo, salah satu kampung batik yang terkenal adalah Kauman. Menurut hasil survey, motif batik Kauman Solo lebih ke arah klasik dan warna-warnanya cenderung gelap dibandingkan dengan hasil batik di Kampung Batik Laweyan. Sebagai pencinta batik, saya pun menyempatkan diri untuk mampir ke tempat ini, sekedar untuk melihat dan menikmati karya batik di sana. 

Lokasi yang dituju tergolong mudah dicari namun padat oleh kendaraan. Untuk masuk ke dalam, pengunjung lebih baik berjalan kaki karena bentuk jalanan berupa gang. Beberapa bangunan memiliki desain atau elemen dekorasi yang unik sehingga mata kami serasa dihibur oleh karya seni.


Beberapa toko menjual pakaian jadi sehingga bagi pengunjung yang memang berniat membeli pakaian, tinggal pilih. Ibu saya pun mencari beberapa oleh-oleh baju batik untuk beberapa cucunya. O iya, kita bisa menawar harga (penting bagi yang ahli menawar :D ).




Saya sendiri ingin melihat kain panjang alias kain batik yang belum dijahit. Namun berhubung cuaca yang panas, saya tidak bisa berlama-lama di kampung batik ini. Jadi akhirnya saya hanya bisa menikmati kain-kain batik di satu tempat terdekat dari jalan masuk yang kami ambil, yaitu Rumah Batik Soekandar.








Menurut saya, batik-batik di toko ini sangat variatif. Ada yang warnanya gelap, ada juga yang cerah. Dan setelah ditanya, beberapa kain batik bukanlah produksi lokal. Jadi ada yang dari Yogya juga misalnya. 

Sebenarnya ada peta yang menggambarkan posisi toko-toko yang menjual batik di kawasan ini. Namun berhubung kami tidak memiliki cukup informasi (toko atau workshop mana yang disarankan untuk dikunjungi), juga tidak ada cukup waktu, plus kendaraan kami tidak parkir di tempat yang tepat, jadi akhirnya saya memutuskan untuk segera pulang.


Kapan-kapan kita ke sana lagi yuk!

Belajar Membatik di Kampung Batik Giriloyo

Suatu hari di bulan Juli 2017, kami sekeluarga mengunjungi Kampung Batik Giriloyo di daerah Imogiri Bantul Yogyakarta. Tempat ini terkenal akan hasil karya batik tulisnya yang menggunakan pewarna alam. Selain itu, Kampung Batik Giriloyo juga dikenal sebagai tempat yang memberikan pelatihan singkat bagi yang hendak mempelajari cara membatik dengan canting. Tempat ini memiliki beberapa gazebo dan area berumput yang bisa menampung grup besar. Oleh karena itu, tempat ini sering menerima rombongan baik pelajar maupun umum.

O iya, berhubung kami belum pernah ke daerah ini, maka kami sempat bingung karena ternyata banyak juga tempat membatik di sekitaran situ. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami tiba di lokasi. Kata kunci untuk mencari tempat ini adalah nama desanya, "Wukirsari", serta nama "Kampung Batik Giriloyo" (sekarang ditambah nama "Pertamina" karena ada kerjasama dengan pihak perusahaan tersebut).


Di kesempatan ini, sesuai rencana kami mencoba membatik dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara workshop. Biaya kursus singkat ini adalah Rp. 50.000,- per orang dan satu grup minimal 5 orang (kalau kurang dari itu, biaya tetap dikenakan untuk 5 orang, atau peserta digabung ke grup lain). Waktunya kurang lebih 1.5-2 jam dari pembatikan sampai pengeringan kain yang sudah diberi pewarna. 

Kami diberi selembar kain putih yang sudah didesain gambar motif floral, sebuah canting, serta lilin malam yang kemudian dilelehkan di wajan kecil. Lalu mereka mengajarkan kami bagaimana menggunakan canting tersebut. Berhubung sebelumnya tidak pernah membatik, kami menemukan kesulitan dalam menggunakan canting terutama terkait dengan kontrol keluarnya malam dari ujung canting. Namun hal ini tidak mengurangi semangat kami dalam menyelesaikan lembar batik tersebut. 


Setelah kain selesai dibubuhkan malam di sisi yang ada gambar desainnya, proses selanjutnya adalah  mengulang proses yang sama di bagian belakang kain. Hal ini umum dilakukan pada kain batik tulis  jadi kedua sisi akan terlihat sama. Tahap selanjutnya, pewarnaan. Proses pewarnaan ini diawali dengan perendaman kain di larutan air dan naptol yang gunanya untuk memperkuat warna. Lalu kain tersebut direndam di larutan pewarna. Pewarna ada dua macam, pewarna alam dan pewarna sintetik. Pada kursus ini, pewarna yang dipakai adalah sintetik dengan alasan prosesnya tidaklah lama untuk memunculkan warna. Kalau pewarna alami, proses pencelupan bisa sampai tiga kali sampai warna keluar sesuai yang diharapkan. Setelah pewarnaan, lilin malam harus diluruhkan dengan menggunakan air panas. Proses ini dinamakan nglorod. Tahap selanjutnya adalah menjemur kain.



Kurang lebih seperti itulah proses membatik. Tapi itu baru untuk satu warna saja. Kalau desain batik menggunakan banyak warna, maka tahapan proses di atas harus diulang lagi dari membatik dengan canting. Nah, karena prosesnya yang panjang itulah maka kain batik tulis harganya mahal. 

Sambil menunggu kainnya kering, kami melihat-lihat hasil karya para pengrajin Kampung Batik Giriloyo yang dipajang di galeri. Sebagian besar merupakan batik tulis dan menggunakan pewarna alam. Namun pengunjung juga bisa menemukan beberapa kain yang menggunakan campuran cap dan/atau menggunakan pewarna sintetik. Selain itu, ada beberapa kain yang dikerjakan oleh pengrajin berusia lanjut dimana motif tidaklah terlalu reguler. Selain kain panjang, ada juga hasil karya pengrajin yang sudah berbentuk syal. 





Salah satu hasil karya kami (anak usia 8 tahun):



Secara umum kami terkesan akan pengalaman hari itu, yaitu belajar membatik langsung di satu kampung batik di Yogyakarta. Selain itu, sudah lama saya ingin mengunjungi Kampung Batik Giriloyo. Jadi kesempatan tersebut sangat berharga bagi saya pribadi. Pihak Kampung Batik Giriloyo sendiri sangat ramah dan sabar. Bolak balik kami menemukan kesulitan saat menggunakan canting, mereka dengan sabar membantu. Tambahan lagi, kunjungan kami itu termasuk dadakan. Saya mengirim message ke mereka untuk reservasi tempat di hari yang sama. Dengan cepat mereka membalas dan untungnya hari itu bukan Sabtu atau Minggu sehingga kami masih bisa dapat waktu untuk belajar membatik di hari itu. Di akhir pekan, Kampung Batik Giriloyo ini sering menerima reservasi dari grup besar yang mana jumlahnya bisa ratusan. Jadi kalau Anda ingin dadakan belajar membatik ke tempat ini, jangan hari Sabtu atau Minggu ya.