Pages

Sabtu, 02 Maret 2019

Oslo Coat

Proyek jahit pertama di tahun 2019 sudah selesai.Ya, sebagai proyek pembukaan awal tahun 2019 saya jahit Oslo coat,  dari Tessuti Pattern ( Australian indie pattern).
Saya sangat menginginkan coat simple  berwarna hitam, hangat, ada sakunya tapi ,tidak banyak kancing, bisa di kenakan kapan saja saat di butuhkan tanpa harus memikirkan atau memperhatikan dress code. halaah...😂😜


Intinya saya mau supaya bisa mengenakan coat ini dalam situasi yang informal atau formal sekaligus.
bref!


Pola saya pilih bikin size 10, tanpa buat toile terlebih dahulu. 🙈 Modal nekad. Padahal model coat seperti ini belum pernah saya jahit sebelumnya, pengalaman nol, apalagi di jenis kain seperti wool cashmere ini. Tapi saya pikir saya akan banyak basting sebelum menjahit permanen, saya akan sangat perlahan-lahan dalam proses mengerjakannya untuk menghindari kesalahan (fatal), saya akan membaca instruksi dengan cermat. Well, itu teori awal, pada saat proses jahit saya masih saja membuat kesalahan 😅, tapi tidak fatal sehingga tidak sampai merusak kain hanya membutuhkan kesabaran extra 🤕.
Kain wool cashmere blend ( wool 80% cashmere 20% ) warna hitam sepanjang 2,5m yang sangat tepat  dan cukup untuk dibuat Oslo Coat 😍. Saya memakai weft fusible interfacing untuk melapisi oslo coat sebanyak 2m. Saya ingin oslo coat tidak terlihat kaku dan karena jenis kain wool cashmere sudah cukup hangat, sehingga saya pikir tidak perlu untuk melapisi coat dengan interlining yang lebih tebal lagi, cukup hanya dengan weft interfacing dan kain satin polyester  1m50 sebagai lining Oslo coat.
alat-alat pendukung jahit coat
 Untuk pemilihan bagian kancing, saya pilih pakai dua biji button press sew in  karena tidak ingin "merusak" model pure oslo dengan pakai kancing yang keliatan dari luar ( seperti pola asli), selain itu juga tidak perlu bikin lubang kancing. Dengan jenis kancing ini, saya bisa merubah letaknya dengan mudah pada saat fitting.
Sejak saya selesai jahit akhir Januari, oslo coat ini menjadi coat favorit saya,sering saya kenakan apalagi di saat udara dingin.

*verylatepost


Rabu, 27 Februari 2019

Mint Green Light Top

Kain ini sudah lama ada di lemari saya, hasil dari sale di toko Mondial Tissus. Bahannya jenis knit dengan lapisan dalam bertekstur seperti handuk/terry tapi halus. Setelah berhasil mendapatkan rib knit dengan warna sama, saya mulai membuat atasan ini. Desainnya sederhana, model kimono sleeves namun lengannya agak panjang. Lalu bagian belakang dibuat juga lebih panjang dibanding depan. 




Secara umum hasilnya oke. Tapi rib knit yang dijahit di bagian bawah baju tampaknya agak membebani kain yang tergolong ringan. Mungkin juga karena modelnya yang melebar di bawah.  Next time, dibikin lurus standar saja. Rib knit akan memberi kesan melengkung ke dalam jadi sudah cukup manis.

Atasan ini cocok dikenakan di musim peralihan panas ke dingin atau sebaliknya. Namun bisa juga dipakai di musim panas. Kurang cocok dikenakan di musim dingin khususnya untuk saya yah.

Bahan kain :
  • Mint green knit dari Mondial Tissus
  • Rib knit dari Marché du Tissus




Gym Bag

Yuk, ke gym ! Yuk, bikin tas gym !

Ini adalah salah satu project yang menggunakan sisa kain.

Bahannya :

  • Kain pre-quilted untuk lapisan luar
  • Kain katun IKEA untuk lapisan dalam
  • Webbing tiga warna
  • Zipper plastik gigi besar
  • Hiasan label tertulis "C'est moi qui l'a fait" - artinya 'saya yang bikin' 
  • Hiasan kulit plus satu snap hook untuk penarik ujung zipper 


Desainnya sederhana saja, kotak standar dengan satu kantung di luar untuk botol minum dan tissu. Di bagian dalam tidak ada kantung sama sekali karena malas aja bikinnya, heu... Yang penting ukurannya sesuai dengan kebutuhan karena semua harus masuk. 



Little Pouch & Keychain Straps

Bulan November yang lalu, saya memanfaatkan lagi beberapa kain perca yang ada di rumah. Pertama-tama, kami membuat case untuk wadah alat tulis yang akan diberikan sebagai kado ultah kepada satu teman si kecil. Ceritanya untuk memberikan sentuhan homemade berhubung semua alat tulis kan hasil beli jadi.

Hasilnya, mini banget... hihi... Untung muat, semua bisa masuk. 

Bahannya cuma kain perca (di sini saya pakai katun linen dan denim untuk lapisan) dan zipper. Di bagian luar, saya dekorasi sedikit dengan label homemade siap pakai.





Berikutnya, gantungan kunci berbentuk kalung atau strap. Di project ini, si kecil berniat untuk menjahitnya sendiri karena memang dia yang meminta gantungan kunci seperti ini gara-gara melihat produk serupa di toko Sostrene Grenes.


Keuntungan dari gantungan kunci yang panjang seperti ini adalah, selain bisa dikenakan di leher, juga bisa memudahkan kita saat mencari di dalam tas apalagi kalau kainnya berwarna cerah. Kelihatan sedikit, tinggal tarik, dapat deh si kunci. Kita akan menghemat waktu dalam proses pencarian kunci di dalam tas (apalagi tas perempuan yah, isinya banyak banget). Dan tidak semua tas memiliki cantelan kunci yang dijahit di lapisan dalam tas. Jadi, lumayan nih, bahkan untuk anak-anak (asal jangan dipakai untuk bermain saat dikenakan di leher, berbahaya ! - tidak disarankan untuk anak usia 5 ke bawah).

Panjang strap bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Lebarnya juga. Lalu, selain kain, kita hanya butuh ring gantungan kunci. Sederhana tapi berguna.


Menjahit di 2019

Hello !


Selamat tahun baru 2019 ! Ahahai... Telat banget ya. Well, semoga di tahun 2019 ini kita semua dalam kondisi yang sehat lahir batin sehingga kita bisa selalu aktif berkarya.  

Berhubung dua bulan terakhir ini kami jarang mengisi blog, jadi tampaknya akan ada beberapa postingan yang tampil secara berurutan atau malah bersamaan. Sebelum itu, mungkin saya bisa melakukan review sedikit tentang kegiatan menjahit di tahun 2018 dan rencana pembelajaran di tahun 2019.

Di tahun 2018 yang lalu, target yang tercapai adalah :

  • Lebih banyak menjahit kebaya kutubaru
  • Belajar menjahit kamisol
  • Belajar menjahit baju renang (kelas Craftsy kelar tapi praktek pribadi belum kelar)
  • Belajar menjahit baju dalam (kelas Craftsy kelar, praktek simple underwear juga sudah, tapi yang serius belum nih, misalnya adult bra)
  • Belajar sulam tangan untuk dekorasi baju (melalui satu kelas embroidery tradisional dan beberapa kelas online)
  • Perbaikan atau permak baju, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain


Apa lagi ya...

Bref, eniwei, untuk tahun 2019 ini, saya hanya melanjutkan beberapa rencana tahun lalu yang belum tercapai atau belum selesai, misalnya :

  • Menjahit underwear yang serius
  • Menjahit baju renang
  • Menjahit blazer ! 
  • Menjahit rain coat (semua bahan sudah ada, tapi kok ndak jalan-jalan yaa...)
  • Belajar beberapa teknik sulam yang lain (sudah terlaksana satu, akan diposting terpisah)

Plus melanjutkan yang sudah berjalan (kebaya, rok wiron, perbaikan baju, dll)

Dan Anda sendiri, apakah Anda termasuk rajin membuat rencana dan/atau target pembelajaran terkait dengan jahit-menjahit ?


Senin, 17 Desember 2018

Berlin jacket

Brrrrr....
Suhu di luar mulai terasa menurun, bahkan dua hari belakangan ini saya kedinginan dan lihat temperatur yang sempat menyentuh  -2°C. 😓 Ahh..karena kedinginan mendorong saya untuk menjahit pakaian yang hangat... pisang goreng keleeuss 🤭😉, intinya saya jadi semangat untuk mencoba jahit salah satu pola jacket yang saya impikan. 

Model jacket seperti ini saya belum pernah punya, bahkan belum pernah mencoba jacket model drop shoulders dan over size , karena menurut saya pasti akan terlihat aneh di badan saya. Cukuplah bathrobe saya saja 😂  yang punya model seperti ini.  Tapiii...karena lama-lama suka lihat model jaket ini, marilah kita coba. 
Pola pilih dari Tessuti pattern, yaitu  Berlin Jacket, yang sudah launch sejak tahun 2016 , bisa di lihat di sini deskripsi pola.

Selain modelnya yang bikin saya tertarik, teknik jahit yang menurut saya lain dari lain itu jugalah membuat semakin ingin mencoba Berlin jacket. Menjahit jaket dengan pinggiran jahitan terlihat di luar.
Kebetulan beberapa tahun yang lalu saya beli kain online, karena penasaran bagaimana jenis kain  dan juga harganya yang murah 😉. Iya doong, belajar otodidak sayang kalau beli kain yang mahal-mahal (bagi kantung saya) untuk di pakai sebagai toile wearable.  Ketika kain ini sampai pada waktu itu, sejujurnya saya agak kaget lihat jenisnya, kecewa karena kain tidak seperti yang saya bayangkan dan bingung akan di buat apakah jenis kain laine bouille aspect vélour ini ??  Sehingga selama beberapa tahun kain tetap dalam bungkusannya yang saya simpan di sudut lemari yang tidak terlihat 😁. Sampai pada akhirnya bulan November kemarin saya cuci mata dan lihat pola Berlin jacket, saya ingat bisa memakai kain yang 'tersingkir' itu 😁. Setelah di prewash, kain sempat menyusut  sekitar 8-10 cm. Untung saja belum di jahit baru cuci. 

Saya hanya menggunakan 1m50 dari 3m kain yang ada untuk jaket ukuran S. Panjang jaket ikut seperti pola original supaya bisa menutup lutut, saya hanya memperpendek lengan -5cm saja.

Membaca instruksi dengan seksama 💆🏻‍♀️, saya sedikit khawatir membuat kekeliruan, karena ini pertama kalinya saya menjahit jaket dengan menyatukan bagian lengan, facing sleeve dan facing  neckline tidak dengan cara seperti biasanya,di mana bagian right side together kemudian jahit di seam allowance yang ditentukan. Tetapi Berlin jaket di jahit dengan cara overlap dua pinggiran sisi kain dan jahit di setengah dari seam allowance yang di berikan. Misalnya, seam allowance ⅜", sisi wrong side satu bagian A di tumpukan di atas  sisi right side bagian B dengan jarak ⅜", kemudian jarum jahit untuk menyatukan  kedua kain A dan B tsb jatuh di jarak setengah dari ⅜", sehingga logika nya seam allowance hanya separuh dari ⅜". Do you see what I mean ? 🤔 hihihi.. saya juga bingung bagaimana menjelaskannya 🙈😁

Kecuali bagian belakang dan depan jaket di jahit seperti biasanya, yaitu dengan menyatukan  kedua bagian right side together.
bagian dalam jaket
Pola Berlin  merekomendasikan memakai kain yang pinggiran benangnya tidak berjumbai, sehingga  tidak membutuhkan mesin obras untuk merapikan sisi pinggir dan salah satu sisi pinggir akan kelihatan di luar jaket.
Mengenai pola Tessuti Berlin jaket versi digital merupakan pola pertama yang saya coba, draft polanya manual drafting, instruksi terbilang correct🤔, saya menginginkan instruksi yang lebih detail dan di sertai gambar yang banyak 😊. Tapi jangan khawatir sebab pola ini sendiri di buat untuk penjahit pemula sampai yang berpengalaman, karena memang mudah dan cepat.

Menjahit Berlin jacket dengan kain aneh ini juga memberikan kesempatan buat saya untuk mencoba walking foot. aaaah.... what a happiness 💃! Jahit tanpa kesulitan sama sekali, karena walking foot menarik dengan tepat kain di atas dan di bawah secara bersamaan. 
Jaket Berlin  sudah menemani saya beberapa hari, hangat sekali dikenakan saat udara dingin 😍. Saya sedikit kaget, bagaimana mungkin kain 'aneh' ini ternyata bisa sehangat ini 🤭.
Kalau saya menemukan kain laine bouillie yang bagus, sepertinya saya akan menjahit lagi Berlin jaket ini.

Minggu, 09 Desember 2018

Fringe Dress

#very..*latepost 

Setelah mencoba jahit pola Fringe versi blouse, saya akhirnya jahit versi baju, menggunakan kain double gauze 1m50, salah satu jenis kain yang di rekomendasikan untuk pola ini.  Jenis kain lain yang di rekomendasikan adalah  cotton lawn, cotton voile, rayon challis, rayon voile, dan linen.
sebelum pengecilan, belum pasang kancing,
belum hemming
Saya memakai pola yang sama seperti pola blouse dengan memanjangkan bagian bawah (rok) sekitar 30cm, memaksimalkan panjang kain. Menjahit kain double gauze ini merupakan pengalaman pertama buat saya, ternyata sama saja seperti menjahit kain katun, tidak ada penanganan khusus kecuali saat mendedel jahitan ( ngelap keringat 😓).
Hasil awal baju ini longgar di pinggang 🤦🏻‍♀️.
Baju ini saya pasangi lining dari kain cotton voile di bagian rok.
Saya sadari jenis kain tencel buat blouse lebih drapey alias "jatuh", sehingga mengurangi kesan size yang kebesaran 😉 ( I don't mind). Tetapi di kain double gauze yang agak stiff , sangat terlihat ukuran yang besar itu, jadi lebar. Seharusnya untuk mendapatkan model yang fit, saya bisa mengurangi sekitar 10 cm total.
Tetapi karena saya agak malas untuk merubah total baju ini, usaha pertama saya adalah mengambil di bagian dart depan dan belakang sekitar 0,5cm X 4 dart  = 2cm saja yang saya kurangi. Jadi baju masih terlihat longgar. well, acceptable laah untuk summer seperti ini, mengenakan baju longgar.

Bagian saku terlihat agak 'aneh' menurut saya, mungkin saya tidak menjahit dengan benar atau kain untuk saku yang 'berat' ( saya pakai kain yang sama yaitu double gauze), sehingga memang terlihat agak berat di bagian saku. 😛 mending kalau berat karena berisi uang yang banyak 😎
Setelah mengenakan untuk beberapa acara termasuk untuk jalan-jalan, saya tetap merasa nyaman dengan kelonggarannya. Praktis sebagai jenis  grab and go dress di musim panas ini.
Saya pikir jika menjahit lagi pola ini wajib menurunkan 1 - 1,5 size dari ukuran yang saya pakai untuk Fringe dress and blouse ini.

Selasa, 20 November 2018

Jamie Jeans in Black

Rencananya saya ingin membuat lanjutan tips menjahit celana jeans yang dilengkapi dengan foto proses penjahitan. Namun berhubung saya tidak sempat mendokumentasikan secara detail, maka sampai detik ini postingan yang dimaksud masih belum tuntas. Maafkan... *sungkem*

Sambil menunggu, berikut ini saya tampilkan satu celana jeans yang belum lama saya jahit. Kali ini dalam kain denim berwarna hitam dari Mondial Tissus. Polanya masih sama, Jamie Jeans dari Named. Ini merupakan Jamie Jeans kedua dan masih bukan untuk saya, heu... Ukuran yang saya ambil masih sama yaitu 36. Kenapa? Karena saya melihat Jamie yang pertama masih kebesaran di bagian perut sang pemakai. Jadi saya ingin melihat untuk kondisi sekarang, dimana pemakainya tambah besar, apakah akan lebih pas di badan (walau source dan elastisitas kain denimnya berbeda).


 

Untuk kali ini, saya memberikan sedikit sentuhan personal di kantung belakang, yaitu bordir ala-ala glazig. Saya pikir kalau kain dasarnya hitam sementara benang bordirnya menyala, hasilnya akan kelihatan cukup indah. Top stitching menggunakan benang berwarna fuchsia supaya harmonis dengan benang bordir. O iya, motif bordir disesuaikan dan dimodifikasi sesuai kemampuan saya yang terbatas.


Nah, berikut ini penampakannya saat dikenakan. Not bad. Agak kerut di bagian yoke tapi tak apalah... 


Kebaya dan Dress Batik

September lalu, dalam satu minggu yang cukup padat, saya berhasil "kebut-kebutan" dengan mesin jahit untuk membuat dua pakaian anak ukuran 8-9 tahun. Yang satu berupa kebaya kutu baru, yang satu lagi berupa dress batik.





Pola bodice dibuat dengan menggunakan panduan dari buku Esmod (Children's Garments) yang kemudian dimodifikasi menjadi kebaya kutu baru. Secara umum, prosesnya hampir sama dengan pembuatan kebaya di postingan ini. Bedanya hanya di penambahan ukuran dan adanya kupnat belakang. Bahan kain adalah brokat biasa yang dibeli dari Indonesia. Warnanya salem kalem dan cocok dengan warna kulit pemakainya. Liningnya juga dari Indonesia yaitu kain satin salem. 

Kebaya ini dikenakan saat ada acara bertema Indonesia namun pemakainya memadukan kebaya tersebut dengan celana jeans (supaya bisa lari-lari, hihi...).


Sedangkan untuk dress batik, polanya masih menggunakan Metropolitan Dress by Lil Luxe Collection. Modelnya sama persis dengan yang ada di postingan ini, bedanya hanya di ukuran dan motif kain. Kain batiknya merupakan hadiah dari keluarga di Indonesia. Liningnya menggunakan kain silk cotton putih dari Les Coupons de Saint Pierre

Seperti biasanya, satu potong kain batik itu panjangnya sudah standard. Nah, untuk Metropolitan Dress kali ini, saya memakai ukuran 9 tahun untuk bodice namun memaksimalkan panjang dress-nya sesuai kain. Panjang lengannya juga disesuaikan dengan sisa bahan. Jadi, kalau Anda menggunakan satu potong kain batik untuk membuat dress anak umur 9 tahun, masih bisa lho dengan model lebar bawah seperti ini. 




Kamis, 15 November 2018

La Mia Boutique dan Patrones

Kalau jalan-jalan ke negara lain, suvenir apa yang kita beli? Biasanya sih hiasan magnet, gantungan kunci, bola salju, kaos, dll. Tapi kalau kita suka menjahit, bisa lho membeli majalah lokal yang isinya khusus tentang menjahit. 

Misalnya di Italy ada majalah La Mia Boutique yang cukup terkenal di kalangan home sewist. Di dalamnya ada beragam model pakaian dan pola untuk membuatnya. Menurut saya, model-model yang ditampilkan dalam La Mia Boutique ini tergolong stylish dan chic sehingga untuk beberapa model akan kurang cocok dikenakan untuk sehari-hari. Itu menurut saya lho ya, mungkin Anda akan memiliki pendapat yang  berbeda.  









Di Spanyol ada majalah menjahit yang bernama Patrones. Majalah ini kadang memuat model-model pakaian aktual dari beragam merk pakaian ready-to-wear misalnya American Vintage, IKKS, El Corte Ingles, Antik Batik, dll. Menurut saya, secara umum model-model yang ada di Patrones lebih kasual dan lebih cocok untuk dipakai sehari-hari atau ke pesta yang tidak terlalu resmi. Contoh untuk foto di bawah ini (cover) yang menampilkan jaket perfecto dari merk IKKS. 








Nah, apakah Anda jadi tertarik untuk mencari majalah menjahit lokal sebagai suvenir dari kunjungan di negara lain ? Bahasanya mungkin tidak kita pahami tapi kalau kita sudah cukup lama menjahit, pola yang ada tetap bisa kita gunakan. Atau ya, disimpan sebagai suvenir saja.

Berikut ini informasi tambahan tentang berbagai majalah menjahit busana yang ada di Perancis (per November 2018) :

  • Burda Style : ada beragam versi misalnya Burda biasa, Burda Plus (size besar), Burda Easy, Burda Kids, Burda Baby. Asal negaranya Burda, Anda tahu lah ya
  • La Maison Victor : dari Belgia, terbit dalam 3 bahasa (Perancis, Belanda dan Jerman), instruksi disertai ilustrasi
  • Ottobre : dari Finlandia, ada dua edisi yaitu dewasa perempuan dan anak, instruksi tidak disertai ilustrasi
  • Tendances Couture : isinya koleksi pola grup Simplicity, instruksi disertai ilustrasi
  • Fait Main : satu grup dengan Burda
  • Couture Actuelle : Patrones versi bahasa Perancis
  • Ma Boutique Perso : La Mia Boutique versi bahasa Perancis
  • Fashion Style : Knipmode (Belanda) versi bahasa Perancis
  • Elena Couture : dari Jerman
  • Diana Couture : dari Jerman
  • Modes et Travaux : ini asli Perancis dan sudah eksis sejak lama, tapi sebenarnya majalah ini bertema umum untuk wanita yang terkadang menyisipkan pola menjahit atau menerbitkan edisi khusus menjahit yang berisi full pola menjahit

Dan masih banyak lagi majalah menjahit yang terbit di Perancis. Beberapa di antaranya memiliki spesifikasi yang lain misalnya patchwork, quilt, craft atau bordir. Pokoknya kalau sempat mampir ke kios koran dan majalah, lihat semua majalah yang ditawarkan di bagian craft (loisirs). Pasti Anda akan betah dan kemudian bingung dalam memilih, hihi... Harganya berapa ? Antara 6 - 11 euros per majalah, tidak mahal kan. 

PS. Majalah Patrones di atas adalah edisi summer 2016, sementara La Mia Boutique terbitan Agustus-September 2018.