Pages

Selasa, 22 November 2016

Boyfriend Jeans in Light Denim

Morgan jeans by Closet Case Patterns

Boyfriend jeans merupakan satu model celana jeans yang sangat diminati oleh banyak orang dan beberapa celebrity internasional suka mengenakannya untuk kegiatan mereka sehari-hari. Modelnya sendiri ringan dan cocok digunakan dengan beragam jenis atasan maupun beragam jenis sepatu. 

Terus terang saya sendiri merasa nyaman menggunakan jeans jenis boyfriend ini, baik untuk kegiatan di luar rumah maupun di dalam rumah (maksudnya, bersih-bersih, beres-beres, masak, nyetrika, hehe...). Dan setelah berdiskusi dengan anak sulung, kami pun sepakat untuk membeli pola boyfriend jeans dari Closet Case Patterns. Nama polanya Morgan.

Untuk Morgan yang pertama, saya menggunakan jenis kain denim yang ringan/light. Bobotnya hanya 200 gram/m2. Di polanya sendiri tertuliskan saran untuk jenis kain denim non-stretch yang range-nya dari light sampai heavy. Saya pilih light dulu deh. 


Secara umum, review untuk polanya:
  • Instruksi jelas sekali. Dari tips-tips menjahit denim, cara memotong kainnya sampai dengan konstruksi/penjahitan. Kalau ada bagian yang kurang jelas pun kita bisa meluncur ke blog Closet Case Patterns karena ada beberapa panduan konstruksi jeans. 
  • Cutting polanya sendiri menurut saya pas. Mungkin lebih tepat dibilang bahwa polanya cocok dengan jenis badan saya. 
Modifikasi :
  • Hem: Sebelum memotong kain denim, saya mengecek panjang jean bagian depan dengan cara menempelkan kertas polanya ke badan saya. Merasa bahwa panjangnya tidak cukup (tinggi badan saya di atas 170 cm), saya menambah 2 cm saat memotong kain. Hemming menjadi sbb: lipatan pertama 1 cm, lipatan kedua 1.5 cm.
  • Waist: setelah fitting dan merasa pinggang kebesaran, saya mengambil masing-masing 2 cm dari sisi kanan dan kiri.
  • Belt loops: Bagian ini tidak saya jahit dua kali (kanan dan kiri) seperti halnya contoh di panduan. Yang saya lakukan hanya membuat satu jahitan di tengah (ini hasil 'ngintip' satu celana jeans milik suami, hihi...).
Selama konstruksi, pengalaman yang saya ambil:
  • Penggunaan dua mesin jahit sangat membantu. Satu untuk menyambung jahitan, satu untuk topstitching. Jadi banyak hemat waktu dalam proses penggantian benang (benang jahit dan benang topstitching).
  • Berhubung benang topstitching lebih tebal, jadi bobbin bawahnya menggunakan benang biasa saja. Kenapa? Karena dalam beberapa percobaan, bila bobbin bawah menggunakan benang topstitching juga, maka hasil jahitan bawah terlihat tidak rapi (dan ternyata bukan hanya kejadian pada saya saja tapi juga pada beberapa sewing blogger lainnya termasuk si bestie). Tapi tetap harus trial dulu untuk melihat hasil jahitan rapi atau tidak. Kalau tidak rapi, tension atas harus disesuaikan. Tips: Saya mendokumentasikan hasil trial di lembaran yang disediakan oleh satu kelas Craftsy dan kemudian saya simpan rapi di satu folder. 


Kantong belakang sedikit mendapat perhatian lebih yaitu:

Stay tape
Interfacing di desain gambar
  1. Diberikan stay tape di bagian atas supaya lebih rapi dan lurus saat dijahit. Sebenarnya ini tidaklah wajib tapi berhubung kain denim saya light, jadi saya ingin lebih terlihat solid di bagian itu.
  2. Desain kantong belakang yang kita lihat di pasaran ada beragam. Untuk membuat yang sederhana namun cukup cantik ternyata tidak terlalu sulit. Hanya bermodal penggaris dan pensil jahit, saya membuat model seperti foto di atas
  3. Untuk membuat jahitan desain kantong belakang cukup solid (seperti halnya embroidery), saya memberikan lapisan interfacing hanya sepanjang desain tersebut (di sini saya pakai Vilene G700). Saya sempat mencoba dengan jenis yang larut di air (Vilene Soluvlies) namun hasilnya kurang memuaskan.
Kantong depan, khususnya bagian lapisan dalam, saya menutup jahitan bawahnya dengan bias binding bunga-bunga berbahan dasar halus. Kemudian salah satu sisi dari fly juga saya berikan bias binding yang sama.


Topstitching fly front harus hati-hati karena ada bagian yang melengkung. Sementara bagian depan ini adalah bagian yang sangat visible saat kita mengenakan jeans-nya. Jadi maksudnya, kalau tidak rapi ya kelihatan gitu... So, buatlah topstitching di bagian ini dengan pelan dan hati-hati supaya hasilnya tidak mengecewakan.


Bagian ban pinggang bagian dalam saya jahit dengan tangan karena sudah terbiasa seperti itu. Setelah itu topstitching dengan pelan juga karena sama halnya dengan fly front, bagian ini akan kelihatan kalau tidak rapi.


Secara keseluruhan, proses pengerjaan boyfriend jeans ini tidak terlalu sulit karena selain instruksinya jelas, bahan kainnya pun ringan (bukan jenis denim tebal). Prosesnya memakan waktu lima hari dari pencucian kain denim sampai selesai topstitching akhir. Namun kemudian saya harus hunting kancing jeans dan rivets yang sesuai selera dan itu memakan waktu sekitar dua minggu (karena tidak dapat di toko terdekat, saya terpaksa hunting online dan berhasil menemukannya di satu seller eBay posisi di UK).


Voila, selesai deh si Morgan percobaan pertama. Sangat nyaman dikenakan tapi berhubung bahannya ringan, jadi agak kurang cocok untuk musim yang mulai dingin ini. Tetap bisa dipakai sih, misalnya untuk jemput anak ke sekolah atau untuk belanja ke supermarket. Tapi kalau untuk mengunjungi misalnya open air market dan mubeng-mubeng di situ selama dua jam... brrr... lumayan juga ya. Apalagi nanti kalau winter. Yo wis, dipakai di rumah wae... sambil nunggu spring summer.


Bahan denim: Tissus.Net
Bahan poplin (lapisan dalam kantong): sisa kain project terdahulu, dibeli dari Les Coupons de Saint Pierre
Benang topstitching: Bruneel
Kancing dan rivets: Silvercoast (eBay)
Bias binding: Salon Loisirs Créatifs Orléans
Stay tape: Marché du Tissus Strasbourg
Vlieseline G700: Patrons de couture

Sabtu, 12 November 2016

Safran jeans

Safran jeans/pants (14€) high waisted  merupakan satu-satunya pola koleksi Fall-Winter 2016 yang dikeluarkan oleh  Deer&Doe, salah satu indie pattern french favorit saya. Booklet pola terdiri dari dua bahasa, inggris dan prancis, dengan penjelasan yang lumayan detail.
Begitu pola ini di launching, saya langsung order karena penasaran ingin mencoba jahit toile  Safran skinny jeans.
tshirt Plantain -pola D&D
jeans Safran- pola D&D

Kain  yang di sarankan supaya memiliki kandungan elastisitas 20-30% saya beli online dari LCSP, yang cocok untuk jahit skinny jean.
Kain denim stretch dengan elastisitas 20% sepanjang 1m40 ( width 145cm) saya potong di size 40 (waist, hips) -38 (legs)  - ternyata kebesaran😥
Pola saya tracing di atas lembaran denim, tanpa di lipat kain tsb. Mengapa ? Menurut informasi yang saya baca, untuk mengurangi resiko kain twist ( keplintir?) saat potong. Bisa mempengaruhi hasil akhir jeans nantinya. Entah benar/tidak  atau seberapa besar pengaruh cara potong tsb saya tidak tahu :), tapi memutuskan untuk mengikuti saran yang ada saja ;).  Tracing pola harus secara miror, hadap-hadapan, jangan sampai keliru, bisa berakhir dengan potong kain bagian kaki kiri atau kanan 2X :D.
Safran jeans
Saya melakukan beberapa adjustments ( sebelum potong kain dan sesudah jahit)  guna mendapatkan jeans yang pas dari size awal 40, sbb:
  • mengecilkan waist dari pola asli ( kurangi 1,5cm) 
  • kurangi CB waistband 1,5cm
  • memperpendek celana 3cm
  • swayback 2cm
  • flat seat adjustment (fsa) 1,3cm ( back)
  • scoop back crotch 1,6cm (back)
  • kurangi -0,25 di inseam (back)
  • shorten front crotch -1,5cm
  • flat pubis 1cm(front)
Kebanyakan adjustments di atas saya berpedoman di postingan Heather-Closet Case  di sini. Sangat lengkap dan mencakup semua alteration pola yang saya butuhkan.Tentunya tiap individu akan berbeda adjustment yang dibutuhkan, sesuai dengan bentuk body dan kenyamanan yang di inginkan.
Di site designer pola nya sendiri terdapat banyak guide #Safran di bulan September untuk jahit Safran, karena saya jahit jeans sebelum ada postingan blog tsb, sehingga saya merujuk ke postingan Closet Case.
Mengamati banyaknya alteration yang saya lakukan, semakin mantap saya akan cut di size 38, tentunya tetap dengan sedikit alteration, yang akan tergantung pada jenis kain yang akan digunakan nanti.
Proses jahit mendapat tantangan pertama saat memilih benang yang cocok buat jahit jeans di kain denim stretch ini. Setelah mencoba ganti beberapa kali benang dan settingan mesin jahit, akhirnya saya menemukan settingan yang cocok ( menurut ukuran saya).

test benang

Untuk muslin wearable ini saya skip proses topstitching, untuk mempercepat dan mempermudah kalau ada adjustment/perubahan yang perlu di bikin setelah proses jahit.
Proses yang saya temukan sedikit membingungkan adalah saat jahit saku depan celana.
Ini membutuhkan konsentrasi lebih untuk mengerti teknik yang di gunakan dan cara menjahinya, supaya rapi saya basting terlebih dahulu.

Selain jahit saku depan, jahit lubang kancing di jeans ini juga menjadi tantangan, karena ketebalan jeans membuat agak sulit masuk di bawah foot mesin jahit. Seperti tips pada umumnya, di ratakan pakai palu,  belum berhasil masukkan pinggang jeans ke bawah foot button hole. Sempat curhat sama bestie, diberi ide jahit tangan. OMG! Sabarnya my bestie ;)





Akhirnya dengan bantuan tool 'aneh', berhasil sedikit meratakan ketebalan waist di bagian kancing, sehingga akhirnya saya bisa jahit lubang kancing dengan mesin. yaaay! Topstitch waistband saya terlihat kurang rapi :p, waktu itu saya tak sabaran untuk cepat menyelesaikan jeans Safran ;)
Berbicara tentang waistband, kali berikut saya akan menggunakan waistband utuh ( 1 piece) , seperti yang di pakai di Ginger jeans. Akan lebih memudahkan untuk alteration dan lebih gampang untuk menyesuaikan besar/kecil pinggang. Bedanya, di Ginger jeans ada back yoke, di Safran tidak ada back yoke.

Safran saya jahit akhir September kemarin, sampai sekarang sudah beberapa kali saya pakai, cuci dan setrika. Ada yang berubah ? iya. Kain denim menjadi lebih lemas dari sebelumnya, jeans terasa sedikit longgar, walaupun tidak sampai merubah shape nya itu sendiri. Tapi mungkin perlu saya ingat untuk proyek jeans berikutnya agar memperhatikan aspek pemilihan kain dan size yang tepat untuk Safran, sehingga tidak menemukan kejutan setelah di pakai dan cuci beberapa kali.
Sekarang saya jadi mengerti, di beberapa blog yang membahas tentang jahit jeans, mereka mencuci berulang kain yang akan di pakai sebelum di potong.
Voilà !

Kesimpulannya, saya cukup senang dengan hasil Safran jeans skinny stretch ini, sangat nyaman di kenakan. Full calf adjustment akan saya tambahkan di next jeans, karena di muslin ini tidak mungkin saya lakukan, adjustment ini harus di lakukan di pola sebelum kain dipotong. Sekarang Safran menjadi jeans favorit saya. Jahit lagi Safran yang baru untuk winter aahhh.. 

Rabu, 02 November 2016

Banksia Tunic in Linen Viscose

Mood menjahit saya agak menurun belakangan ini. Jadi paling saya hanya menyelesaikan beberapa permak baju untuk teman-teman dan keluarga. Namun akhir September lalu saya pelan-pelan berhasil membuat satu tunik menggunakan pola Banksia dari Megan Nielsen dan kain linen viscose yang sudah lama ada di stash.

Kain linen viscose ini lebih lemas dibanding linen katun atau linen murni. Dan lebih tipis. Jadi kalau ingin membuat dress, sebaiknya dilapis lagi. Tadinya saya pikir akan terlalu "summer" karena jenis kainnya terkesan seperti itu. Tapi setelah tunik ini jadi, ternyata bahannya cukup hangat di udara dingin (tapi September ya, belum winter). Kain ini seperti halnya linen yang lain juga mudah kusut saat dikenakan.


Kancing yang digunakan berdiameter 22 mm. Terkesan besar dan berat, namun karena bahannya bukan metal (walau terlihat seperti metal) kancing ini tergolong ringan. Penandaan lubang kancing menggunakan Flex Gauge by Nifty Notions (lihat foto di atas) dan terus terang alat ini membuat pekerjaan lebih mudah dan cepat.



Yang menarik dari hasilnya adalah, jahitan darts di depan kanan dan kiri. Jahitan tersebut terkesan seperti pleats ringan. Walau sudah disetrika sedemikian rupa, hasilnya masih seperti itu, tidak flat. Jadi saya anggap saja "aksen dekorasi" yang terjadi secara tak sengaja.

Tunik Banksia di bawah coatigan Silvia


Bahan:
  • Kain linen viscose dari Les Coupons de Saint Pierre
  • Kancing dari expo hobby and craft di Orléans

Dari project ini, ada satu kesalahan kecil yang harus saya ingat (makanya ditulis di sini, supaya kl lupa, saya ada catatannya nih...). Kesalahan tersebut adalah pada pembuatan lubang kancing. Tadinya saya pikir supaya kancingnya fleksibel bergerak ke kanan dan ke kiri saat baju dikenakan, saya membuat lubangnya horizontal. Tapi setelah jadi, pergeseran ke kanan dan ke kiri tersebut saat baju dikenakan (dan dengan kancing segede gaban) malah menampilkan kesan kurang rapi. Size yang membuat lebih visible. Lain kali: VERTIKAL saza. Sebenarnya di salah satu kelas jahit Craftsy pun sudah disebutkan bahwa untuk plaket atasan sebaiknya lubang kancing dibuat secara vertikal. 




Sabtu, 29 Oktober 2016

Archer button up shirt

Ini adalah kemeja Archer ketiga  yang saya jahit, terbukti pattern Archer dari grainline studio merupakan salah satu pattern kemeja loose-fit favorit saya ;)
Bila kesulitan mendapatkan paper pattern nya, ada versi digital yang bisa di print di rumah.
Di blog grainline ada sew along Archer yang sangat lengkap dan detail, sehingga sangat memudahkan buat pemula yang ingin sekali menjahit kemeja sendiri tanpa guru dan takut salah ;). Saya termasuk yang nekad menjahit kemeja di saat belum menguasai teknik-teknik menjahit, berbekal sew along Archer, di jamin lancar jaya.
Archer belum selesai
Suhu mulai menurun dan mendingin di akhir bulan Oktober ini. Di rumah saya suka pake kemeja dan legging/jeans, bisa pake cardigan di luar atau langsung pake jacket kalo mau ke luar rumah. Praktis. Iya, saya suka pakai pakaian yang praktis.
Archer ini kelar jahit awal bulan, sudah saya pakai dan cuci bolak/ik beberapa kali, terasa nyaman di kain katun yang saya beli di Mondial Tissu saat sale summer kemarin.
Seperti sebelumnya, saya potong di kain sepanjang 1m60 ( kali ini saya tambahkan panjang sekitar 4cm),  collar pakai interfacing H180 supaya tidak terlalu kaku, kancing sebanyak 8 buah beli di Toko Central ;) mursidah euuy!
Oh iya, salah satu feet mesin yang sering saya gunakan saat jahit Archer, adalah foot 1/4". Karena di petunjuk banyak seam allowence 1/4", sehingga dengan foot ini proses jahit jadi lebih mudah dan cepat.
Untuk jahit kancing, saya jahit tangan saja, walaupun bisa pakai mesin dengan foot button. Tidak lupa benangnya saya wax terlebih dahulu sebelum jahit kancing. WHAT ? di wax ? he'eh. Coba lihat sedikit penjelasan singkat di sini atau silahkan googling :) Beewax saya dari Merchand and Mills ini  hasil titip ke bestie saya tahun lalu saat trip nya ke sebuah salon creative di Paris (Thanks,bestie).

Beewax ini yang selalu saya pakai bila harus hand sewing. yaaay !


Senin, 24 Oktober 2016

Sewing Planner (free in PDF)

Berhubung suka lupa sama planning yang sudah dibuat, akhirnya saya ciptakan lembar Sewing Planner ini.




Apa sih gunanya Sewing Planner?

Pertama, tentunya untuk membuat perencanaan yang rapi untuk project menjahit yang akan kita kerjakan. 

Kedua, catatan ini akan berfungsi sebagai alat bantu ingatan, apalagi bila kita cenderung aktif dalam merencanakan banyak project.

Ketiga, bagian Notions akan membantu kita sebagai shopping list saat ingin berbelanja keperluan menjahit ke toko.

Keempat, lembar ini bisa dijadikan satu dalam folder dan dipasang berurutan sesuai pelaksanaan atau penyelesaian project. Ke depannya, folder tersebut akan menjadi acuan saat kita akan membuat project lain yang serupa (misalnya dengan pola yang sama, atau jenis pakaian yang sama).

Sewing Planner ini bisa digunakan baik untuk project menjahit dengan menggunakan pola jadi maupun pola kreasi sendiri (tinggal ditambahkan detailnya oleh Anda sendiri di bagian Pattern). Saya memang membuat lembar Sewing Planner ini lebih untuk kebutuhan menjahit yang terkait dengan pakaian. Namun bila Anda lebih ke arah craft sewing, bisa juga lho...

Dalam lembar ini, saya tidak mencantumkan notions yang berupa kebutuhan alat bantu jahit (seperti: jarum pentul, kapur jahit, meteran, dll) karena asumsi saya semua kebutuhan tersebut sudah seharusnya tersedia. Namun bila ada alat bantu khusus, misalnya, kertas pengamplas (sand paper) untuk distressing kain denim (pada proses pembuatan celana jeans), silakan tambahkan sendiri di bagian kosong pada Notions atau di bagian Notes.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan lembar ini dalam format PDF, silakan kirim email ke sewing.besties@gmail.com dengan judul email "Sewing Planner". 

Catatan: Semua permintaan yang masuk antara tanggal 28 Oktober - 2 November  2016 akan dijawab setelah tanggal 3 November 2016. 

Happy sewing!!!

Jumat, 21 Oktober 2016

Alas Mesin Jahit tanpa Organizer

Project ini sederhana sekali dan hanya menghabiskan sisa-sisa kain dari project serupa (lihat di sini dan di sini). Tekniknya lebih ke simple quilting dengan menggunakan batting jenis light. Pinggirnya menggunakan bias binding siap pakai berwarna kuning sangat muda.


Untuk project ini, walau lapisan batting tidaklah tebal, saya tetap menggunakan walking foot (tidak terlalu kelihatan dalam foto di atas). 

Mesin obras di atas alas yang sudah jadi


Sabtu, 24 September 2016

Back-to-school Culottes

Awal September, anak-anak kembali ke sekolah setelah libur sekitar dua bulan. Seperti halnya tahun lalu, saya membuatkan pakaian untuk si bungsu untuk dikenakan di hari pertamanya. Kali ini berhubung kekurangan waktu, saya hanya sanggup mengerjakan satu bawahan berupa kulot. 

Pola yang digunakan adalah Oliver+s Lunch Box Tee & Culottes yang sudah lama saya incar. Kebetulan si bungsu lagi suka dengan celana kulot karena sering melihat saya mengenakannya selama musim panas (pola Burda).

Untuk melengkapi penampilannya, saya memasangkan kulot tersebut dengan atasan hasil menjahit beberapa bulan yang lalu dengan menggunakan pola Oliver+s juga (Ice Cream Top & Dress).

Review secara umum: Saya penggemar pola Oliver+s walau hanya mempunyai tiga polanya plus buku Little Things to Sew. Pola-pola mereka tergolong simple namun keren modelnya. Instruksi mudah diikuti dan ada ilustrasi gambar. Pola kulot ini juga mudah. Kemudian modelnya yang menggunakan karet di pinggang semakin mempermudah kita dalam mengerjakannya (dibanding model yang menggunakan fly front). 




Menjahit Popok Kain

Selama liburan musim panas yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menjahit beberapa popok kain yang jenisnya All-in-Two (AI2) atau Tout-en-2 (TE2) in french. Jenis ini memiliki dua bagian terpisah yaitu diaper cover dan penyerap (soaker). Diaper cover berbahan PUL dan soaker berbahan terry bambu organik.

Pola yang digunakan merupakan copi dari satu model popok kain yang ada di pasaran. Kesulitan dari proses ini adalah ketidakakuratan pola karena mencopi produk berelastik tanpa mendedel aslinya tidaklah mudah.

Setelah pola ada, saya melakukan uji coba. Uji coba penjahitan diaper cover dilakukan dua kali (dengan satu kali revisi pola), sementara uji coba penjahitan soaker dilakukan satu kali (juga satu kali revisi pola).

Berhubung diaper cover ini memiliki pengaturan ukuran berbentuk kancing snap (bukan scratch), maka jumlah kancing yang dibutuhkan sangat banyak. Bila Anda ingin membuat diaper cover namun prefer lebih mudah dalam pengerjaan maupun lebih mudah dalam penyesuaian ukuran di badan bayi, pilihlah SCRATCH alias velcro. Dan kl ternyata Anda prefer kancing snap, hati-hati dalam proses pemasangannya (dgn alat KAM snap plier) karena bila salah pasang (stud seharusnya socket atau sebaliknya), maka Anda akan menghabiskan banyak waktu untuk mencopotnya, bila tidak mempunyai plier khusus untuk membuka snap plastik. Dan ini terjadi pada saya saat mengerjakan trial kedua diaper cover.

Tips dari internet: coba pakai palu, KAM plier yang sama, solder, gunting kuku. Tapi saya akhirnya berhasil dengan menggunakan wire cutter yang pada prinsipnya hampir sama dengan gunting kuku (digunting sedikit demi sedikit).



Catatan juga untuk penjahitan soaker menggunakan jenis kain terry. Biasanya kain jenis ini agak sulit dikendalikan saat dijahit karena ternyata melar. Jadi kalau Anda menjahit dua lapis kain terry bambu seperti yang saya lakukan, basting dulu keduanya (kalau bisa menyebar di semua bagian) supaya tidak banyak bergeser saat dijahit di mesin.

Berikut ini dua sampel hasil trial pola diaper cover:



Sementara itu, ini hasil akhir keseluruhan:


Secara lebih dekat untuk masing-masing diaper cover (namun di dua foto di bawah ini, kancing pengatur di bagian bawah belum dipasang): 





Kamis, 22 September 2016

Helmi Tunic dress


Ahaaa..Saya sudah jatuh cinta pada Helmi tunic dress dari Named clothing pattern begitu lihat launchingnya. Pattern ini ada dua model, kemeja dan dress.
Seperti biasanya, saya suka model baju kemeja seperti ini.😍

Ide awal mau buat toile wearable, tapi kemudian saya memutuskan untuk langsung potong di kain crepe (dari Mondial Tissu) yang ada di stok. Untuk dress ini saya pakai kain kurang lebih 1m60. Model kerah dari pattern asli saya kurang sreg 😑, jadi saya pakai collar dari model kemeja Helmi.
Pattern cut di size 40, saya pilih view B (dress) tapi pakai collar view A.
Beberapa modifikasi di pattern yang saya buat :
  • Shorten sleeve 2cm,
  • shorten bodice/torso 4cm, 
  • shorten bagian skirt 6,5cm ( pattern ini di buat untuk tinggi badan 172cm,hihihi..sedangkan saya tingginya jauh di bawah 172cm 😛).
Hasilnya, dress ini agak jadinya agak roomy😕 , terutama bagain waist ke bawah.Mungkin sebaiknya jahit size 38 akan lebih tepat.Bagian skirt yang akan saya kurangi lebarnya nanti. Secara umum, karena pattern Helmi banyak ease atau termasuk kategori loose fit, jadi memang size 40 jadi terlihat sangat longgar.

 
Seharusnya saya buat swayback adjustment (adjustment wajib buat saya), tapi saat jahit baju Helmi saya skip step ini, sehingga bagian belakang kurang asyik 😉
Secara teknik, seperti menjahit kemeja dan rok saja, jahit collar & bikin buttonholes adalah dua teknik yang bagi saya membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Untung nya booklet petunjuk jahit ( step by step) dari Named Clothing ini sangat detail dan lengkap, sehingga membantu proses jahit, terhindar dari kebingungan.
Kain crêpe cocok untuk style ini, tapi warna yang saya pilih kurang cocok untuk warna kulit saya😛.
Next time saya ingin jahit di kain bermotif dan down size tentunya.

Minggu, 04 September 2016

Aime comme mordue

ahaaaay..😄

Pattern ACM Mordue  (14€) saya beli kurang lebih setahun yang lalu, tepat saat ACM ganti "kemasan". Berharap lebih banyak "penjelasan" alias instruksi yang lebih detail dan mungkin hand drafted line pattern di ganti dengan digital drafted, ternyata....kenyataan berkata lain.  Bref! intinya, saya naksir pattern ini, saya sempat bikin toile wearable alias muslin wearable tahun yang lalu. Tidak begitu sempurna karena waktu itu saya masih belum tahu cara handle kain viscose yang 'bandel' itu. Bahkan  saya tidak pakai sepanjang summer tahun lalu ( karena lupa), dan baru summer tahun ini saya pakai😄.
Saat cuaca panas Agustus kemarin, saya ingat ACM Mordue dan timbul keinginan  untuk jahit lagi ACM Mordue secara "benar" :)


Kain viscose 1m30 ( beli di Mondial Tissu) , kancing 6 biji ( beli di toko central), thermocollant H180 dan pattern ukuran M, saya gunakan pattern yang sama seperti tahun lalu.
ACM Mordue 2016
Teknik yang di butuhkan, pasang collar, bikin buttonholes, gathering, that's all.
Instruksi di booklet yang "sngkat" dan "padat" 😛 ini membuat saya kadang-kadang harus membuka catatan juga supaya tidak salah jahit.