Pages

Kamis, 15 Maret 2018

Handy Stitching Organizer

Tahun ini, saya mulai belajar bordir dengan tangan. Niatnya sih hanya untuk menghias pakaian yang saya buat, misalnya sedikit bordir di kerah, di kantung atau di dada. Lalu bulan ini ada kelas dasar yang saya ikuti untuk persiapan kelas bordir tradisional Brittany di bulan Mei. Semua kebutuhan stitching untuk kelas tersebut dimasukkan ke satu pouch yang harusnya untuk kosmetik. Cukup memadai, tapi setelah dipikir-pikir, saya merasa butuh satu organizer ber-pocket yang bisa menampung beberapa kebutuhan dasar dan bisa dibawa-bawa. Maka dibuatlah organizer ini.


Kain yang digunakan adalah sisa-sisa dari project menjahit sebelumnya kecuali kain utama (dulu beli di garage sale - jadi itu sisa kain yang aslinya punya orang lain). Bias binding juga dari sisa project  yaitu selimut patchwork quilting di postingan ini. Kebetulan warnanya "nyambung" dan panjangnya pas dengan kebutuhan. Pelapis dalamnya adalah Decovil Light dan kain batting yang suka dipakai untuk project patchwork (bukan yang fusible ya, kebetulan saya ada sisa yang ukurannya pas). Jadi organizer ini cukup solid untuk menampung kebutuhan saya, namun tidak kaku. Soft organizer lah...

Detail di dalam organizer :
  • Pocket besar berkancing untuk menaruh apa saja. Di sini saya memasukkan beberapa benang bordir yang sedang digunakan untuk project bordir
  • Lalu di pocket berelastik di bawah, saya memasukkan needle threader, gunting bordir, jarum bordir & jahit dan benang untuk basting. Kantung ini memang terbatas ukurannya jadi benang basting disisipkan saja di elastik tanpa masuk ke pocket. Di pocket ini bisa dijepitkan beberapa clip (merah) dan kebetulan saya butuh dua saja
  • Karena kadang sewing pins juga dipakai, maka saya membuat 2 fitur tambahan, yaitu kain putih (sisa fleece) untuk menyimpan pin serta satu mini pincushion yang dipasang kancing (jadi bisa dilepas dan disimpan di pocket besar bila perlu
  • Di sisi sebelah pincushion, saya menaruh D-ring untuk menggantung satu thimble karena kadang berguna juga untuk bordir tangan


Jadi kalau Anda ingin membuat personalized & customized organizer untuk menjahit, sesuaikan desain dengan kebutuhan Anda. Listing dulu semua kebutuhan dasar yang diperlukan. Lalu nanti saat mendesain, Anda lihat lagi list itu.



Lumayan deh, saya sekarang kalau membordir atau menjahit tangan di depan tivi atau di perjalanan, saya bisa ambil organizer ini dan mulai bekerja. Paling saya tinggal menambah lampu & kaca pembesar saja, maklum mata tua.

Sekilas tentang project bordir saya ada di foto di bawah ini. Nanti Insya Allah akan diposting lagi kalau sudah jadi. Ini bakal lama karena, hiks, kecil-kecil stitching-nya. 


Sabtu, 03 Maret 2018

Rok Batik Wiron

Salah satu kesulitan kami yang tinggal jauh dari ibu pertiwi adalah saat kami memerlukan pakaian bernuansa tradisional untuk acara-acara tertentu. Karena kalau kami pesan ke kampung halaman, ongkos kirimnya jadi mahal. Belum lagi kalau ada kesalahan ukuran. Untuk itu, saya pribadi merasa harus bisa membuat sendiri pakaian bernuansa tradisional walaupun sederhana dan simple. Salah satunya adalah bawahan batik berwiron yang tentunya sekarang ini sudah banyak yang dibuat menjadi rok ber-zipper.

Niatan untuk membuat rok batik wiron sudah muncul sejak tahun 2016 namun akhirnya saya merealisasikannya tahun lalu saat seorang teman meminta bantuan untuk membuatkan satu. Dengan modal informasi terbatas dari internet, satu rok batik wiron milik teman sebagai contoh, plus satu lagi milik ibunda saya, akhirnya saya pun mencoba. Sejauh ini, saya sudah membuat 5 bawahan batik wiron. Dua di antaranya untuk saya sendiri, sisanya pesanan teman-teman (contohnya di bawah ini).



Beberapa panduan dasar yang saya temukan adalah:
  • Untuk wiron Yogya, bagian pinggirannya (tumpal) kelihatan dari depan, jadi dilipatnya ke arah luar. Sementara untuk wiron Solo, bagian pinggirannya itu dilipat ke dalam, jadi tidak kelihatan
  • Jumlah lipatan wiron ganjil
  • Wiron untuk perempuan, lipatannya di bagian kiri. Sementara untuk lelaki, lipatannya di bagian kanan. Bingung ndak? 
  • Lebar lipatan wiron sekitar 2 jari untuk perempuan, 3 jari untuk laki-laki
Lalu penerapannya, untuk lebar lipatan wiron, saya sendiri menerapkan 2-3 cm, tergantung panjang kain dan jumlah lipatan yang saya mau. Lalu jumlah lipatannya antara 5-9, juga tergantung panjang kainnya. Katanya, semakin banyak lipatan, penampakannya akan terlihat makin cantik. Tapi capek juga ya bok melipatnya...

Cara membuat rok batik wiron di sini adalah hasil dari observasi saya terhadap dua rok yang sudah jadi (seperti yang sudah saya mention di atas) dan beberapa modifikasi seperlunya. Jadi kalau memang cara saya tidak sesuai dengan pakem yang asli, mohon dimaafkan yaa... Yang jelas, pembuatan rok wiron di tulisan ini tidak memotong kain sama sekali. Jadi suatu hari, jahitan bisa dibuka dan kain batik bisa kembali utuh. Ya paling ada lubang-lubang kecil bekas jahitan :)

Pertama-tama, yang harus dipersiapkan adalah:
  • Kain batik panjang (perhatikan motifnya karena biasanya ada bagian atas dan bagian bawah, jangan sampai terbalik)
  • Zipper warna senada dengan kain, panjang 20 cm
  • Benang warna senada dengan kain
  • Kancing jepret (atau kancing kait seperti yang dipakai di rok dan celpan)
Lalu, yang harus diukur adalah:
  • Lingkar pinggang
  • Lingkar pinggul
  • Panjang rok (kalau panjang rok yang ingin dibuat ternyata lebih dari lebar kain yang tersedia - biasanya ini terjadi pada orang yang tinggi- maka kainnya harus ditambah dengan kain yang lain, umumnya polos, sebelum proses pembuatan lipatan wiron)
  • Panjang belahan wiron (ini sesuai preferensi saja, saya pakai sekitar 30 cm dari bawah)
Lalu, mulai lipat wiron sebanyak yang dimau. Gunakan setrika untuk menghasilkan lipatan yang rapi. Kalau sudah jadi, jepit wiron supaya tidak terbuka lagi. Penjepitan bisa menggunakan jepit rambut atau wonderclip-nya Clover. Atau, bisa juga diamankan dengan peniti.



Kembali ke ukuran panjang rok, bila ternyata kainnya kepanjangan, di tahap ini kita bisa melipatnya ke arah dalam. Setrika supaya rapi, jelujur sedikit untuk menjaga lipatan (atau bisa juga diberi pin, tapi saya pribadi lebih suka menjahit jelujur). Bagian yang terlipat wiron juga ikutan dilipat ke dalam ya. 


Sekarang kita akan membentuk kainnya menjadi rok dan dimulai dengan ukuran lingkar pinggung. Jadi misalnya:



  • Lingkar pinggul 94 cm
  • Lebar lipatan wiron 3 cm dimulai dari sisi kiri (garis-garis merah)
  • Lipatan dua kali di sisi kanan dengan lebar antara 3-5 cm (garis-garis hijau) - ini tidak wajib, saya hanya suka dengan adanya lipatan ini di sisi yang berlawanan dengan wiron, terkesan rapi cantik dan juga bisa membantu memperpendek panjang kain (bila terlalu panjang, sementara badan pemakainya kecil sekali)
Lalu, ujung sisi kiri akan menimpa ujung sisi kanan sebanyak 2 - 3 cm dan bagian yang tertutup akan dijahitkan zipper di sisi atas.



Optional: Saat melipat sisi kiri ketemu sisi kanan, kita bisa membuat agak miring ke atas. Tujuannya supaya hasil akhir bawah kain agak mengecil/menyudut. Tapi kalau kita mau membuat lurus-lurus saja juga tidak apa. Malah hasil akhirnya, kita lebih mudah untuk melangkah.

Di tahap berikutnya, kita bisa mulai memasang zipper di bagian sisi kain yang tidak ada wironnya. Cara penempatan zipper bisa langsung di ujung kain atau agak turun sedikit. Nanti bagian kosong antara ujung kain dan zipper diberi kancing jepret. 

Ini contoh pemasangan zipper di ujung atas kain

Di tutorial ini, cara kedua yang saya pilih karena kain terlalu panjang dan harus dilipat sehingga ada bagian lekukan lebih tebal (yang berwiron) dan akan membuat sulit dalam pemasangan zipper. Jadi saya menurunkan posisi zipper sampai ke bagian yang tidak kena lekukan wiron.

Ini pemasangan zipper yang turun dari atas sesuai posisi lipatan wiron (lihat di atas telunjuk saya)

Mari ke tahap berikut:
  • Ujung atas zipper dilipat sedikit dan dijelujur terlebih dahulu ke kain sebelum dijahit permanen dengan mesin
  • Jahit zipper ke bagian yang tidak ada lipatan wiron, dalam hal ini sisi kanan kain (jelujur dulu, baru kemudian dengan mesin)
  • Jahit zipper ke bagian yang satu lagi (jelujur dulu, baru lanjut dengan mesin), dengan melibatkan satu lipatan wiron yang paling bawah - maksudnya, lipatan terakhir itu yang dijahit dengan zipper (lihat foto di bawah). Lipatan terakhir itu sebaiknya menutupi keseluruhan zipper sehingga tidak terlihat dari luar setelah jadi
  • Buat jahitan untuk menutup bagian bawah zipper, lalu menyambung ke bawah sampai ke bagian bukaan belahan (dalam gambar di bawah, belahan adalah 30 cm dari bawah, namun panjang ini bisa disesuaikan dengan keinginan)

Lipatan terakhir menutup zipper

Setelah kedua sisi dijahit

Penjahitan di akhir zipper lalu turun ke bawah sampai ke batas belahan 30 cm dari bawah

Ilustrasi 30 cm dari bawah

Jahitan dari zipper sampai belahan ditandai dengan pink seam ripper dan panda tape measure 

Tampilan keseluruhan 



Tahap selanjutnya adalah membuat jahitan kupnat. Cara yang paling mudah adalah dengan mencobakan kain yang separuh jadi itu di badan calon pemakainya. Karena dari situ, kita tinggal menandai bagian yang akan dijahit kupnat plus pinggang yang mengecil. Tapi, kalau calon pemakai tidak ada di dekat kita, berikut ini cara yang saya pakai.

Lingkar pinggul dikurang lingkar pinggang, hasilnya didistribusikan untuk :

  • 2 kupnat depan
  • 2 kupnat belakang 
  • 2 pinggang kanan kiri

Secara umum, lebar kupnat adalah 3 cm. Jika lingkar pinggang adalah 70 cm, maka hitungannya :
94 - 70 = 24
24 - ( 4 kupnat x 3 cm) = 12
12 ini dibagi dua untuk pinggang kanan dan kiri = 6
Kalau saya perhatikan satu contoh rok wiron milik teman, jahitan kupnatnya ada 5, bukan 4. Jadi maksudnya, hitungan di atas hanya untuk panduan saja. Pada akhirnya kita bisa menyesuaikan sendiri.

Panjang kupnat, saya memakai 12 cm seperti di buku Bapak Soekarno. Semua saya tandai dengan kapur jahit, lalu saya jelujur dahulu. Setelah jahit jelujur, kita bisa mencobakan ke calon pemakai. Nanti penyesuaiannya dapat dilakukan lagi di situ.

Setelah jadi kupnat dkk, jangan lupa pasang kancing jepret (atau kancing kait) bila diperlukan. Saya lebih suka kancing jepret yang ukurannya agak besar, minimal diameter 12 mm. Jumlahnya tergantung kebutuhan. Di tutorial ini, saya pasang dua kancing jepret berukuran diameter 13 mm.


Optional tapi essential: Lipatan wiron perlu dijaga supaya tetap rapi dan tidak mengganggu kita saat menjahit. Jadi  kita bisa mengamankannya dengan jahitan kecil seperti di foto berikut. Jahitan kecil seperti itu bisa dibuat beberapa buah dari atas ke bawah.



Jahitan kecil seperti titik di atas jempol saya


Ok, sekian dulu ya... Kalau ada yang bingung, silakan tanya saja. Anda bisa juga merujuk kepada rok batik wiron yang ada di pasaran. Perhatikan cara penjahitannya dan sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Happy sewing !


Rabu, 07 Februari 2018

Nicole bolero

Pola Nicole bolero dari Coralie Bijasson sudah nangkring di container sejak Juni 2016 di antara koleksi pola. Seharusnya saya jahit dua tahun lalu untuk sebuah acara,tapi..tidak dijahit 😛
Awal bulan ini tiba-tiba saya teringat dan ingin mencoba jahit pola ini, mengingat ada potongan kain lurex  wool like  sekitar 1M30 di stash yang sangat cukup untuk jahit Nicole bolero.

Model Nicole bolero yang simple ini mirip model Chanel jacket . Gampang di padu padankan dengan dress basic atau di padankan dengan blouse/tshirt dan jeans.
Kalau mengikuti instruksi dari pola asli (yang menurut saya sedikit membingungkan di step pasang lining di bagian depan bolero🤔), tidak ada petunjuk untuk menambahkan interfacing dan sleeve head di kain yang akan digunakan. Tapi saya memilih menggunakan interfacing dan sleeve head di bolero ini sekaligus untuk latihan membuat jacket semi-tailor. Kainnya bahan polyester termasuk heavy weight 420gr/m², yang agak susah di ajak 'kerjasama 🤦🏻‍♀️, kainnya yang berjuntaian itu lho. Jadi cocoklah saya kasih interfacing, sedikit membantu supaya menjaga helaian benang kain tidak rontok , ujung-ujungnya bisa hilang seam allowence. Lihat detail di photo !
Saya pakai dua jenis interfacing, H180 dan G785. Pinggiran kain saya pasang stay tape fusible. Terlebih karena kain ini agak sedikit stretch, dengan stay tape menjaga supaya kain tidak 'melebar'.
click photo utk zoom


 Pola saya tambahkan panjang bodice 1,5cm, supaya tidak terlalu pendek karena saya kurang suka bolero jatuh di atas waist. Lengan saya kurangi 1,5cm dan lupa menambah sedikit width di ujung lengan akibatnya lengan bolero jadi agak ngepas di tangan saya. Noted, next time tambahkan sekitar 1cm di masing-masing ujung lengan.
Bolero ini menurut saya very well draft ! Fit nya nyaman di badan, jadi ingin mencoba jahit pola-pola lainnya dari Coralie Bijasson yang ada di stash.


Kamis, 01 Februari 2018

Ruri sweatpants

#latepost 
 Butuh celana panjang  h i t a m  - yang hangat untuk dikenakan di musim dingin.
Pilihan jatuh ke Ruri Sweatpants, salah satu koleksi Fall/Winter 2017 "Earth Science" dari Named Clothing Pattern, indie pattern Finlandia. Ruri merupakan satu-satunya pattern yang saya suka saat pertama lihat koleksi FW17.

Kebetulan kain sudah di potong, sehingga pagi tadi langsung di jahit, prosesnya tidak banyak memakan waktu, hanya bagian saku dan waistband yang memerlukan mesin jahit, sisanya bisa pakai serger saja.. yaaay ! 💃
Kain beli di Self Tissus, 1m20 cukup untuk Ruri ukuran saya  (sometimes I love being petite 👏😜), karena waktu beli kain ada kelebihan, sepertinya sisa kain akan cukup untuk jahit rok.  Jenis kain nya agak susah di describe, pokoknya seperti bahan knit , agak tebal,  tapi bukan jogging sweat 💆. Double face, salah satu sisinya berstruktur seperti kain crepe warna hitam, sisi satunya seperti kain knit warna abu-abu. Menurut keterangan kain  namanya jersey yogi 17€/m, baru kali ini saya lihat kain seperti itu. Apakah mungkin di sebut juga Crepe Scuba  fabric? whatever ! Pokoknya saya suka.
Dari pattern asli, satu-satunya alteration yang saya bikin hanya shortening pant -6cm 🙊, selain itu ikut pola aslinya. aaahh....Saara dan Laura pintar sekali bikin draft pattern yang kebetulan buat saya tidak perlu banyak modifikasi 😍.
Tingkat kesulitan Ruri sweatpants masuk di kategori Simple.  I y a ! Benar sekali, jahit Ruri dengan mengikuti instruksi jahit dari booklet yang lengkap dan jelas, menjadikan Ruri sangat fun di jahit. 
Saat selesai jahit, saya membiarkan tanpa snap button di bagian pergelangan kaki. Lebih suka modelnya seperti itu.  Pakai snap button juga bagus sih ( sudah sempat coba pakai pin), tapi saya lebih suka lihat model tanpa snap button. Selain itu, bagian outside seam saya ambil (kurangi) sekitar 0,5cm masing-masing side.
﹏﹏﹏﹏﹏
  • setelah beberapa kali di cuci karena sering mengenakannya, saya akan mengecilkan lagi pinggang celana yang sedikit kebesaran; karet di pinggang belakang  harus saya kurangi.
    next Ruri mungkin bisa size down sekalian.

Jumat, 26 Januari 2018

Bikin Petal pouch

hohoho...
Tahun baru, need booster baru !
iyuuup... pingin jahit dan di mulai dengan bikin pouch aja aah.
Kali ini untuk memanfaatkan kain yang ada di stok, pilihan jatuh di pola Petal pouch dari Noodle head pattern.
Large size
Untuk pouch yang ukuran small, saya pakai kain sisa saat bikin Maker's tote. Untuk size Large, pakai kain yang ada dan liningnya recycle apron  warna merah bahan canvas 😛
Zipper ada di stock compartment, intinya memanfaatkan bahan yang ada, warna gak matching, ya di matching-in aja 😛.
Small size

 
 

Untuk molleton ( pelapis empuknya), saya gabung dua jenis pelapis,  pakai vilene H180 dan H630. Sebenarnya lebih ingin pakai H640 saja, tapi tak ade di stok, yasuuud.
Proses jahit terbilang cukup mudah, dengan mengikuti petunjuk dari Noodle head yang sangat jelas.

Jumat, 12 Januari 2018

Lurex Dress

Sebelumnya, Selamat Tahun Baru 2018 ! Semoga di tahun yang baru ini kita semua selalu sehat dan makin kreatif.

Untuk acara tahun baru, saya membuat gaun sederhana dengan menggunakan pola baju Laurel dari Colette Patterns. Ini ketiga kalinya saya membuat baju dari pola Laurel ini. Semua dibuat sesuai pola yang sudah dimodifikasi sebelumnya di bagian darts. Namun kali ini saya memperpanjang sampai sedikit di atas lutut dan meniadakan lengan karena bahannya tidak cukup, hiks... 

Kain dengan lurex memiliki tekstur yang agak kasar. Jadi agar baju jatuhnya nyaman di badan, baju ini diberi full furing dari satin. Finishing neckline dan kerung lengan menggunakan bias dari satin dan kemudian diselesaikan dengan tangan. Hemming juga dilakukan dengan tangan (blind stitch).





Understitching kali ini pun dilakukan dengan tangan karena lebih mudah dibanding dengan mesin. 

Bahan:
  • 1 m poly lurex dari Mondial Tissus (lebar 150)
  • 1 m satin dari Jakarta
  • Ritsleting jepang YKK dari Jakarta
  • Bias satin coklat tua dari stok lama

Rabu, 20 Desember 2017

Sloane sweatshirt

Lagi-lagi pilihan jatuh ke pattern Sloane untuk jahit sweatshirt musim dingin ini.
Setelah menjahit dua sweatshirt Sloane yang kerap saya kenakan, kali ini jahit di kain pre-quilted biru navy France duval stalla.
Jahit Sloane sweatshirt cukup mudah & cepat,  hanya menggunakan mesin obras/serger. 2 pieces depan dan belakang, 4 pieces band, that's all !

*efek cahaya warna jadi aneh
Jarum di mesin serger saya ganti dengan jarum stretch. Why ? Dunno 😀 Need ? Dunno.
Bestie saya juga pernah jahit Sloane ini, kami pakai kain yang sama pula karena nyaman, walaupun warnanya waktu itu agak tidak seperti yang dibayangkan 😛 ( efek belanja online).

Kamis, 14 Desember 2017

Danielle salopette RDC

aka overall aka dungaree alias salopette kata orang prancis.

Sewaktu Republique Du Chiffon  ( french indie pattern) launched pattern Danielle dungarees ini sebenarnya saya agak naksir. Mengingat dulu jaman  overalls lagi trend (tahun 90-an laah)  saya pun ikut-ikutan demam overalls - kormod gitu deeh 😛. Tapi memang suka juga modelnya, nyaman dipakai karena longgar dan bisa dikenakan dengan T-shirt, shirt atau blouse.  Itu overalls warna biru langit menjadi sangat belel dan kusam saking seringnya di pakai 😃,  beberapa tahun kemudian harus di-pensiun-kan paksa. aah...kangen masa-masa itu... 😍 *lhoo kok malah jadi curhat?

Kembali ke 👉 Danielle !
Keinginan untuk punya overalls ( harus warna bi-ru tu-a!) muncul kembali ketika cuaca musim gugur mulai dingin, membayangkan punya overalls untuk dikenakan di rumah pasti nyaman.
Bermodalkan kain denim cotton beli online di LCSP, 12 biji button jeans  PRYM 17mm  😶 ( 10 biji cukup sih), 2 boucle jeans, benang & jarum topstitch, benang polyester biasa & jarum jeans, dimulailah proyek menjahit overalls Danielle (red. Danielle). Yuk baca terlebih dahulu baca tulisan bestie saya tentang Tips menjahit jeans di sini untuk persiapan jahit jeans supaya  sukses menjahit  👖jeans.👌


Beberapa alteration dari pattern original:
  • shorten bodice front dan back 1.5cm,
  • bagian celana shorten 5cm, 
  • bagian strap shorten 1.5cm,  
  • bodice back kurangi wedge 1.5cm supaya tidak terlalu large > lupa untuk bagian depannya.
  • waistband kurangi lebar 1cm karena tidak ingin waistband terlalu lebar.
Proses jahit saya ikuti instruksi di booklet RDC, yang menurut saya kurang lengkap. Ada beberapa gambar, tapi tidak jelas buat saya, mungkin level jahit saya yang masih kurang mencukupi untuk jahit overalls (?)🤔  apalagi petunjuknya menggunakan bahasa prancis  mengharuskan saya membaca berulang-ulang supaya tidak keliru dan tidak membuat ( mengurangi) resiko salah jahit😄.
Di booklet tidak ada tahap jahit saku belakang, sehingga harus hati-hati bila akan membuat overalls lagi. Sebaiknya jahit saku sebelum proses penyatuan bagian depan dan belakang celana.
Karena saya hanya memiliki satu mesin jahit, proses jahit topstitch dan jahit biasa harus rajin bolak-balik mengganti jarum dan benang, untungnya karena Danielle saya jahit dalam tempo yang sangat slow sehingga tidak merasa capek gonta-ganti jarum dan benang. 
Untuk pemasangan button jean - yang banyak itu-,  menggunakan tool pliers Prym vario ( cara pakai) proses pemasangan 14 buttons jeans hanya sekejap.😍  Karena sebelumnya saat jahit Cleo, 'paku' button jeans bengkok saat di 🔨 😒. Di Cleo yang ke-dua tidak masalah pakai 🔨,  saya sempat menyalahkan kualitas button yang saya beli 😛, tapi mungkin teknik saya yang kurang tepat. Sebenarnya saat itu tidak jadi masalah untuk pasang button dan tidak perlu pake 🔨 seandainya ingat kalau punya tool Prym itu 🤦🏻‍♀️, yup saya lupa ada tool itu di laci. Selain pakai Prym vario saya menggunakan awl untuk membuat lubang sebelum pasang button jeans.


Awl selain untuk membuat lubang, saat jahit kain jeans dengan ketebalan tertentu karena lipatan, saya gunakan awl untuk mendorong  kain di bawah foot mesin jahit jadi benang tidak stuck karena kain jeans yang tebal tidak maju.
Faux fly front mengurangi keribetan jahit overalls Danielle- yaay -, tidak ada zipper 😁. Perhatikan & copy semua tanda dari pattern ke kain  yang di perlukan supaya tidak salah melipat fly front - seperti saya, awalnya salah melipat center front untuk fly front.
faux fly
10 buttonholes tidak menjadi momok kali ini dibandingkan saat jahit jeans Safran, karena tidak tebal kain denim yang saya pakai dan liningnya kain katun biasa, sehingga proses membuat 10 buttonholes berjalan sukses.

lining saku
Bagian dalam saku, saya pakai sisa kain  katun yang berbeda warna, motif boneka gitu 😺

Danielle nyaman dikenakan, begitu jadi langsung saya pakai tanpa cuci lagi. Untuk kegiatan di rumah sangat leluasa bergerak dengan Danielle. Jika ingin lebih 'fitted' bisa ✂︎ size down, tapi kok saya suka ya celananya yang large seperti itu 😉. Untuk celana 👖sebenarnya bisa dikurangi sideseam, karena waktu basting fitting saya sudah menyadarinya, sekali lagi saya lebih suka 👖loose fit seperti itu.
Ahhh... jadi pingin bikin tshirt merah biar seperti Super Mario 😁.

Selasa, 12 Desember 2017

November Mélilot

Bulan lalu saya mendapat kesempatan untuk mencoba pola Mélilot Deer and Doe Patterns milik Elle (Yihuy! Terima kasih sekali lagi ya, Bestie!). Dan akhirnya terwujud dua potong kemeja Mélilot bermotif yang bisa saya kenakan di musim dingin ini, tentunya di bawah pull atau sweater. Duluuu sekali saya suka memakai kemeja dan saat ini pun masih ada sekitar 5 kemeja lama di lemari. Tapi sudah pada sempit euy dan dilungsurkan ke anak. Jadi bikinlah ya yang baru... O iya, project kemeja sebenarnya adalah salah satu target belajar 2017 yaitu: membuat kemeja dengan standing collar, sleeve cuffs dan french seam. Dan saya senang karena target ini akhirnya terwujud berkat Hermes dan Mélilot.

Kedua Mélilot saya berukuran 42 dan sama-sama berlengan panjang. Perbedaannya ada di kerah dan button placket. Yang pertama, dengan kerah kemeja, hidden buttons (cuma kelihatan satu paling atas) dan satu kantung, sementara Mélilot yang kedua dengan kerah berdiri, penempatan kancing normal (kelihatan, tidak ngumpet) dan 2 kantung. Bahan kain untuk kemeja pertama dari katun Jepang, sementara yang kedua dari katun serupa dengan voile (vintage, lebar 90 cm).

Modifikasi:
  • posisi darts, diturunkan sesuai puncak dada
  • memperpanjang sleeves 2 cm
Rasanya saya tidak perlu bercerita banyak tentang pola ini karena Elle sendiri sudah membuatnya beberapa kali (misalnya di sini dan di sini). Secara umum, instruksi pada polanya jelas bagi saya kecuali di proses penjahitan sleeve placket & slit dimana saya harus googling ke sana kemari untuk lebih bisa memahami prosesnya. Kenapa? Karena metodenya lebih kompleks dibanding waktu saya membuat Hermes. Tapi setelah membuat dua potong Mélilot, saya mulai lebih paham.

Proses penjahitan hem yang curved juga jelas. Dibandingkan dengan Hermes yang tidak detail di bagian ini, Melilot memberikan informasi cara penjahitan yang bisa menghasilkan lengkungan yang lebih rapi.











Setelah jadi, perbedaannya yang terlihat:
  • Kemeja pertama lebih enak dilihat, jatuhnya ok. Mungkin juga karena warnanya yang cenderung gelap.
  • Kemeja kedua terlihat agak kaku di bagian lengan. Mungkin karena bahannya yang kurang cocok. Tapi warnanya cerah dan bahannya terasa adem di kulit (lebih cocok untuk spring summer).
Saya jadi penasaran ingin membuat satu lagi dari bahan yang jatuh, misalnya viscose atau crepe.  Kalau bisa warna gelap dan lengan pendek. Kapan ya...

Bahan:
  • Kain katun Jepang dari Toko Suryadi Textil Tanah Abang
  • Kain voile katun vintage dari mertua
  • Kancing dari stok (yang hijau dari Ps Sunan Giri)
  • Pelapis untuk kerah, plaket kancing dan cuff: Vlieseline G740 hitam untuk Mélilot pertama, Vlieseline G785 untuk Mélilot kedua - Note: G740 harusnya diganti G700 atau G710 (salah ambil di stok)

Senin, 11 Desember 2017

Kemeja Hermes

Kali ini saya mulai serius untuk mempelajari proses penjahitan kemeja style klasik. Yang pertama saya coba adalah Hermes. Ini bukan tentang merk Hermes yang tersohor itu lho ya. Yang saya bicarakan di sini adalah pola kemeja Hermes dari I am Patterns. Kemeja ini tergolong klasik tapi oversized. Bisa dibuat pendek atau panjang seperti shirt dress.


Size yang saya ambil adalah 42 dan bahan yang digunakan adalah viscose/rayon motif crab besar. Modifikasi yang saya lakukan :

  • Memotong kain dengan panjang bodice di antara versi pendek dan versi panjang (karena kainnya tidak cukup kalau hendak dibuat sesuai rencana semula yaitu versi panjang)
  • Memodifikasi posisi darts
  • Meniadakan kancing depan karena saya memotong kainnya tidak tepat bila dilihat dari motifnya yang besar. Keputusan ini membuat tampilan akhir motif crab terlihat "lebih baik" dibandingkan bila tertutup oleh kancing. 


Instruksinya sendiri cukup jelas kecuali di bagian finishing hem yang curved shape. Tentunya saya  ingin hasil lengkungan yang bagus tapi di instruksinya tidak dijelaskan sama sekali tentang detail ini. Jadi ya akhirnya saya berusaha semaksimal mungkin dengan bantuan setrika (lipat, setrika, lipat lagi, setrika lagi) dan memanipulasi dengan jari saat jarum menjahit bagian hem yang melengkung.

Pembuatan sleeve placket and slit cenderung mudah karena metodenya memang mudah, tidak seperti pada kemeja klasik yang umum (coba deh cek ke kemeja Pak Suami, nah itu biasanya lebih rumit cara pembuatan sleeve placket-nya). Tutorial untuk pembuatan placket versi mudah bisa dilihat di blog Grainline.

Hasilnya, lumayan juga untuk kemeja outer tanpa kancing. Pasti kepakai deh di musim panas nanti karena bahannya juga adem.