Pages

Selasa, 25 Agustus 2015

Jean Paul Gaultier Expo 2015

*tulisan serius, hm, hm...*

Pada tanggal 2 Agustus yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi expo atau pameran karya-karya dari satu perancang busana terkenal dunia, Jean Paul Gaultier. Expo ini digelar di Grand Palais, Paris dari tanggal 1 April sampai dengan 3 Agustus 2015. Expo Jean Paul Gaultier di Paris ini merupakan satu rangkaian acara The Fashion World of Jean Paul Gaultier yang dibuka di Montreal, Kanada. 

Adapun karya-karya yang dipamerkan di expo tersebut merupakan beragam koleksi Jean Paul Gaultier sejak awal karirnya yang berhasil dikumpulkan oleh penyelenggara acara tersebut. Pengunjung pun dapat mengetahui sejarah perjalanan karir Jean Paul Gaultier yang diawali dengan minatnya mendandani boneka kesayangan pada saat ia masih kecil. Untuk mengetahui program dan detail mengenai expo ini, silakan mengunduh booklet expo tersebut dalam versi PDF di sini

Berikut ini beberapa foto dari karya Jean Paul Gaultier yang dipamerkan di expo:

Busana yang bahan utamanya dari kantong sampah hitam


Busana berbahan anyaman dari Filipina


Gaun bertema Sirene atau Mermaid


Salah satu hiasan yang terpajang di dinding expo


Jahitan yang mengagumkan dalam menyatukan kotak-kotak dan menghasilkan pleats yang juga menawan


Korset hitam


Busana bertema Paris yang menampilkan gambar Eiffel


Busana-busana yang pernah dikenakan penyanyi Perancis Mylene Farmer dalam konsernya


Korset rose


Image karya korset yang dipajang di dinding


Gaun yang dibuat dari rangkaian pita satin


Keindahan brokat hitam dan coklat menjadi jumpsuit


Gaun rajutan


Gaun bertema army dungeon detail menarik di dada


Busana bertema Mongolia


Busana bertema macan


Beberapa busana pengantin


Keindahan detail salah satu busana dalam tema Sirene/mermaid


Beberapa busana bertema Paris at Night


Para pengunjung berdecak kagum menyaksikan karya-karya Jean Paul Gaultier di expo ini. Sebagian besar dari mereka mengabadikannya dalam foto atau video. Namun tidak hanya karya Jean Paul Gaultier yang menarik dilihat. Konsep acaranya pun menarik. Mereka tidak menggunakan model hidup dalam memperagakan busana yang ada. Jadi semua menggunakan mannequin boneka. Namun, yang membuat pengunjung berdecak kagum adalah teknologi yang mengiringi tampilan beberapa mannequin boneka tersebut. Beberapa mannequin diproyeksikan wajah yang membuat boneka seolah-olah hidup (karena proyeksi videonya merupakan wajah yang mengedipkan mata, berbicara bahkan ada yang bernyanyi kecil). Dan ada satu mannequin boneka pria yang mewakili Jean Paul Gaultier yang berbicara mengenai karyanya. Sayang sekali saya tidak mengabadikan satu pun dari mannequin berwajah tersebut karena keterbatasan memori handphone saya. Namun, Anda bisa menyaksikan sedikit di sini. Bila dalam video tersebut Anda melihat mannequin berkedip atau berbicara, percayalah bahwa mereka bukan model hidup walaupun terlihat sangat hidup.


Rabu, 19 Agustus 2015

Pia Dress

Masih edisi musim panas, mari kita membuat dress yang lain. Kali ini pola dari Tessuti Australia yaitu Pia Dress yang disarankan untuk menggunakan kain linen, katun medium weight atau light denim. Susah atau tidak sih membuatnya? 

Pola ini tergolong mudah namun kita perlu memahami secara mendalam tahapan konstruksi kantungnya. Kenapa? Karena kantungnya memang didesain tidak umum, lebih lebar bagian dalam dibanding bagian luar. Di luar itu, semua sederhana saja. 



Namun ada bagian lain yang mungkin agak membingungkan. Paling tidak itu yang terjadi pada saya. Begini, pada tahap awal, kita harus melapis bagian neckline dan armhole dengan kain pelapis yang tertulis di instruksinya "tear-away vilene". Tujuannya untuk mempertahankan bentuk neckline dan armhole, tidak mudah tertarik sana sini saat dijahit. Karena saya tidak memiliki (dan tidak menemukan) tear-away vilene ini, jadi saya menggunakan pelapis vilene yang lain yaitu G700. Hasil akhir sih oke tapi karena vilene G700 bukan tear-away, maka pelapis itu tetap "stay happy forever" di bagian dalam (wrong side) Pia Dress saya sepanjang dan selebar pola aslinya. Kalau menggunakan tear-away vilene, pelapis ini pada tahap akhir bisa kita tarik/robet dan kita buang. Jadi kelihatan bersih lah bagian dalam baju. Pelapis G700 saya tidak kelihatan dari luar sih... Tapi rasanya akan lebih baik kalau pelapis ini tidak ada. Tear-away vilene ini mungkin tidak terlalu dibutuhkan bila kita menggunakan bahan katun yang masuk kategori medium weight seperti kain yang saya pakai. Entahlah... Pola ini berhak mendapatkan kesempatan kedua dengan menggunakan kain linen *celingak celinguk cari kain linen diskonan*.

Pia Dress ini bisa digunakan bersama ikat pinggang kecil namun bisa juga tanpa ikat pinggang (jadi seperti daster :D ).

Bahan: kain katun dari Les Coupons de Saint Pierre
Size: L tanpa modifikasi

Short Stone

Sekali-kali kita menjahit untuk pria yuk! Short Stone ini merupakan celana pendek pria yang sesuai untuk musim panas. Polanya dari majalah La Maison Victor edisi Mei-Juni 2015. Reviewnya sebagai berikut:

Short ini menggunakan button fly sebagai penutup (bukan fly front zipper). Bagi saya ini merupakan pengalaman pertama dan sempat membuat deg-degan. Tapi ternyata instruksi di majalah La Maison Victor sangatlah jelas. Memang saya sempat bingung tapi mungkin karena waktu itu sudah terlalu malam sehingga saya lelah, tidak dapat mencerna instruksi pembuatan dengan baik. Keesokan harinya, saya membaca lagi dan ternyata mudah (ingat-ingat, kalau capek ya istirahat dulu daripada hasil jahitan tidak memuaskan).

Jadi, konsentrasi penuh dibutuhkan hanya di bagian konstruksi button fly dan kantong. Selebihnya mudah dan simple. Hanya saja, hampir semua jahitan diberikan double stitching untuk efek hiasan seperti layaknya celana pria di pasaran. Jadi, harus diingat juga bahwa tahapan double stitching cukup penting bila kita ingin hasilnya lebih indah.


Di model aslinya, ada bagian untuk menyisipkan tali/pita pengikat di depan (lihat foto asli dari majalah di atas - pita hitam di bagian depan perut). Saya pun membuat lubang masuk dan keluar tali tersebut. Tapi kemudian saya melihat bahwa ikat pinggang biasa sudah cukup untuk mengencangkan short (dan lebih terlihat normal/standar dibanding ikatan pita di depan). Jadi lubang pita tidak dipergunakan. Namun yang perlu saya ingat untuk ke depannya (kalau mau bikin lagi) adalah: lubang ikat pinggang diperbesar supaya belt suami bisa masuk :D Memang karena hal ini (lubang tidak cukup besar), suami saya harus membeli ikat pinggang baru yang lebarnya lebih kecil. Tadinya saya pikir ada kesalahan di proses konstruksi. Tapi sewaktu saya cek di Instagram dengan hashtag #ShortStone, saya melihat bahwa semua celana dari pola ini memiliki lubang ikat pinggang dengan lebar yang mirip (agak lebih kecil dari standar).

Jadi, suka atau tidak? Saya suka, suami juga suka. Tahun depan saya rencana bikin satu lagi dengan warna yang berbeda (dan lubang belt lebih besar) :D

Bahan: gabardine beige dari Les Coupons de Saint Pierre



Bahan: gabardine beige dari Les Coupons de Saint Pierre
Size: XXL tanpa modifikasi


Toko Maju

Bagi yang tinggal di Jakarta, tentu sudah mengenal Pasar Mayestik di wilayah Jakarta Selatan. Dan bagi yang senang menjahit, tentu tidak asing lagi dengan nama Toko Maju yang ada di pasar ini. Sebagian isi dari Toko Maju tertangkap melalui beberapa foto di bawah ini.






Isi toko ini tidak hanya kancing dan pita, tapi juga ritsleting, benang, alat bantu menjahit, aksesoris membuat tas, kain, dan banyak lagi. Bagi sebagian penggemar dunia menjahit, toko ini bak surga karena segala ada.

Yang perlu diingat kalau berencana ke toko ini adalah: perhitungan waktu perjalanan karena biasanya daerah Mayestik cukup padat. Selain itu, sediakan waktu yang panjang juga untuk memilih beragam keperluan menjahit yang ada di toko. Sebaiknya tidak mengajak orang yang tidak memiliki minat pada urusan menjahit dan/atau craft karena bagi mereka akan sangat membosankan untuk berlama-lama di toko ini. Sebaliknya, bila Anda mengajak orang yang sangat berminat dengan menjahit dan/atau craft, maka siap-siaplah untuk dua kali lebih lama di toko ini, hihi...


Alamat:
Toko Maju
Jl. Tebah V No. 3 Pasar Mayestik


Minggu, 09 Agustus 2015

Chataigne short #1

Pattern short chataigne dari Deer and doe ini sudah ada di stash sejak tahun 2013.  Selalu tertunda untuk jahit short dengan alasan yang tidak jelas  takut karena belum pernah jahit pants/short :p. Saya pernah buat toile short chataigne setahun yang lalu, sehingga kali ini saya langsung potong pattern di size 40.
Beberapa alteration yang saya bikin :
  • menambah panjang celana 2cm - karena saya menghilangkan cuff dari pattern asli.
  • menambahkan front  crotch length 1cm ( read : here, here, here , here  sebagai referensi untuk jahit celana panjang/pendek) . Bagi saya, crotch depth /length adjustments merupakan salah satu kunci fitting celana yang penting. Kadang celana RTW (ready to wear) yang kita beli di toko pas di pinggang,tapi di bagian crotch depan/belakang agak 'nyempil' :p atau sempit atau longgar, di bagian belakang terkadang banyak kerutan ke arah dalam atau ke luar dari crotch. 
Kain yang saya pakai adalah kain linen 1m saja ( hohoho... keuntungan jadi orang pendek,tidak butuh banyak kain :D,dengan lebar kain 150cm, sisa dari jahit dress vanessa.
Proses jahit mengalami sedikit kendala saat jahit  waistband/ban pinggang bagian belakang celana. Saya jahit  bagian yang seharusnya 'curve' di bagian atas, saya jahit terbalik di bagian bawah, sehingga setelah selesai, bagian tengah( center back) ban pinggang belakang ada banyak gap ( longgar) dari yang seharusnya. :D Setelah di balikan seperti yang seharusnya, beres deh. ( lesson : Baca petunjuk di pattern yang benar & jangan terburu-buru alias perlahan & sabar ;) ) 
Selain kesalahan tsb, saya tidak mengalami kendala lain yang bikin pusing kepala.
Tapi pada saat jahit front waistband & facing (ban pinggang depan)yang berbentuk segitiga di bagian perut, sedikit challange di sini untuk mendapatkan hasil yang  rapi dan tidak berkerut di titik itu. Saya kurang sabar saat itu, sehingga membiarkan saja hasil yang ada :p .
Did you see?? point segitiga terlihat kurang rapi :)
Teknik lain yang di pakai pada proses jahit short ini adalah jahit saku, jahit side zipper, handsew (option)  di facing dan satu yang baru pertama kali saya jahit adalah faux (flap) pocket. Di bagian belakang celana ada 2 penutup saku, yang kenyataannya adalah tidak ada saku aka cuma 'hiasan' penutup saku saja. Kuncinya ada di topstitch yang rapi ;) Dengan menggunakan edge stitch foot Brother, saya tidak khawatir dengan hasilnya ;) Ini adalah salah satu foot favorit saya, membantu hasil jahitan yang rapi untuk topstitch,understitch , edgestitch dan selalu saya pakai untuk jahit label baju ;). yaaaay ! Pokoknya segala bentuk jahitan yang mepet letaknya sangat dekat dengan pinggiran dan supaya lurus jahitannya karena ada guide di edge  foot (terlebih  lagi karena saya masih belum sukses jahit lurus ). Bagi anda yang tidak memiliki masalah jahit lurus tentu akan lebih cepat karena tidak perlu ganti foot saat jahit.

Hasil akhir proses jahit cukup memuaskan. Hasil akhir fitting,huummmhh... setelah di pakai & cuci 2-3 kali,  celana pendek ukuran 40 ini jadi agak sedikit longgar di pinggang saya :p. Harus di kecilin sekitar 1,5 cm di samping kiri dan kanan, total 3cm. Hiayaaah.


Setelah lihat di sini dan di sana, di celana pendek berikut saya akan coba potong di ukuran 38 saja biar lebih fit & menambahkan sedikit panjangnya atau pasang cuff.

Minggu, 26 Juli 2015

Free Indie Sewing Patterns (Part 1)

Berikut ini kami tampilkan beberapa indie sewing pattern yang mengeluarkan pola gratisan untuk busana wanita dewasa. Yak, gratisan! Lumayan kan. Dan sementara ini kami hanya menampilkan delapan saja walau sebenarnya ada lebih dari itu. So, ke depannya bakalan ada part two, hihiy! O iya, delapan pola ini adalah model pakaian sehari-hari. Namun tentunya untuk beberapa model tersebut dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan, misalnya t-shirt basic menjadi dress.


Dari kiri atas, searah jarum jam:

Untuk mencari tahu karya-karya jadi dari delapan pola di atas, silakan googling sendiri ya. Banyak kok yang sudah membuatnya, apalagi untuk pola Sorbetto, Plantain dan Hemlock.

Selasa, 21 Juli 2015

Bettine dress

Ada email menarik dari Tilly and the Buttons, launching dua pattern baru. Dan salah satu nya langsung menarik hati saya, yaitu Bettine dress. Baju model simple yang saya suka. Langsung saya beli digital pattern nya - 13€-an ( mehong juga nih). Di print dulu, potong pinggiran kertas, selotip sana sini, jadilah bentuk pattern yang sesungguhnya.

Untuk versi pertama, pilihan kain jatuh pada viscose, butuh sekitar 1m70 untuk ukuran saya ( Haaahh ?!) . Pattern saya potong di size 4, memendekkan bodice 2,5cm ( pada akhirnya agak menyesal, seharusnya tetap seperti pattern original saja, karena agak pendek di bagian pinggang), memendekkan rok 2cm,selain itu tidak ada adjustment lain aka ikut pattern original. Saya jahit yang versi ada saku.
Facing di kasih interfacing favorit H180 seperti biasanya ( paling ringan/tipis yang bisa saya temukan di mercerie).

H180

neckline depan & belakang

senang kalo neckline & facing bisa rapi begini :)

rok dan saku nya
Bettine dress ini sangat nyaman di pakai, saya yakin akan jahit beberapa bettine lagi di kemudian hari dengan bahan kain yang berbeda.
Kesulitan hampir tidak ada, karena tidak ada teknik khusus yang di perlukan untuk jahit baju ini. Tapi, di sini saya belajar jahit casing elastic, ternyata gampang. Bettine versi pertama ini saya skip bagian tab di lengan, karena menurut saya kain viscose yang saya pilih akan lebih bagus gampang tanpa tab, bisa di pake untuk acara semi-formal. hiayaaah :p
tadaaaa ! 1st bettine done !

hihihi..habis jahit langsung di pake pergi

2 hari kemudian, saya ingin jahit bettine lagi karena suka sekali dengan kenyamanan baju versi pertama. Tapi, kali ini saya tambahkan kembali bodice yang saya kurangi di versi pertama ( akhirnya mengikuti total pattern original, kecuali skirt yang tetap kurang 2cm), Selain itu, di versi kedua saya tambahkan tab di lengan dan pakai kancing "nacre".
Pada saat jahit elastik, hati-hati supaya tidak terbalik kedua ujung elastik, bertemu dalam posisi yang sama, supaya nyaman di pinggang.

pasang karet

lengan, tab dan kancing

handbag di ganti 2 saku
Versi kedua , pilihan kain jatuh di kain "look-liked chambray" blending cotton-polyester 2€/m saya beli 2 tahun yang lalu di Marchè du Tissus. :)
Proses jahit versi kedua lebih cepat karena masih ingat semua langkah jahit dengan tepat :)
Habis jahit langsung di pakai ke taman,  cuaca  di luar sangat panas sekitar 35°C, walaupun demikian tapi saya tetap nyaman dalam bettine dan apalagi tanpa perlu bawa handbag karena ada saku yang siap menampung..;)  yeessss ! praktis !

Seminggu kemudian, kembali saya ingin jahit Bettine yang ke-tiga ! Kali ini jahit di kain viscose dari Bennytex. Proses jahit tidak memakan waktu yang lama, karena saya menggunakan pattern yang sama. Kali ini sya hilangkan tab dari lengan, karena viscose cukup light dan drapery,sehingga menurut saya tanpa tab akan lebih aman bagus :)

Akan adakah Bettine ke-empat ? ;) OMG ! How can I stop to sew Bettine ?!





Selasa, 14 Juli 2015

Scout Tee

Ahhaaaa..
Yang saya suka dari Grainline studio adalah semua model yang di keluarkan sarat dengan petunjuk, gambar dengan instruksi yang sangat detail untuk setiap model nya, di tambah pula ada sew alongs di blognya Jen ini.
Jen, designer Grainline mengeluarkan printed pattern dan PDF pattern. Sejauh ini saya selalu membeli yang PDF pattern, harga lebih murah dan tidak perlu ongkos kirim yang aduhai itu :) Biasanya saat launching pattern baru ada potongan harga sampai 20% - saya selalu memanfaatkan moment ini untuk isi stash pattern.

Sekarang lagi musim panas, bahkan cuaca sempat sangat panas, saya perlu blouse yang simple dan cepat jahitnya karena untuk makan malam bersama teman ingin pakai sesuatu yang "berbeda" .. haiiizzz :p . Menengok stash pola yang ada, saya pilih  blouse Scout tee.

Kain katun polkadot 1m saja :D , biais bikin dari sisa kain untuk jahit necklinenya.
Potong size 4, modifikasi tambah panjang lengan 1,5cm.
Model ini hanya ada 3 potong pieces di tambah biais strip. Simple, cepat, dalam 1 jam blouse selesai.
Sehingga bisa dikatakan Scout tee termasuk 1 hour sewing project - dengan catatan pattern nya sudah di copy duluan ;) Scout tee tingkat kesulitannya di kategori paling kecil aka untuk beginner. So, jangan takut untuk coba kalau tertarik sama model ini.
Suatu waktu saya ingin mencoba jahit jadi dress, tinggal menambah panjang dari blouse jadi dress.

Blouse Nadine

Lagi-lagi jatuh cinta pada pattern keluaran Prancis dari Republique de Chiffon (RDC)  :) yang menurut saya mudah, dengan instruksi cara jahit yang lengkap bersama gambar petunjuknya, bila ada yang kurang jelas dapat menghubungi designer RDC, Géraldine - lewat e-mail dan pasti akan di jawab. Selain itu karena model dari RDC simple dan termasuk 'selera' saya.

Kali ini pilihan jatuh pada blouse Nadine ( PDF pattern 8€). Blouse klasik, tanpa lengan, yang bisa di padukan dengan hampir semua celana model panjang atau pendek, rok panjang/mini dan bahkan bisa untuk pelapis bagian luar dress saja. Pilihan bahan kain akan menentukan penampilan blouse ini.
Proses jahit tidak mengalami kendala, hanya butuh kain 1m saja - yaaaaay !! Tapi, tergantung panjang blouse yang di inginkan, kebetulan untuk ukuran saya cukup dengan hanya 1m, mungkin untuk kalian butuh kain lebih ataupun kurang dari 1m.
Mungkin lain kali saya akan coba jahit di kain batik atau viscose.





Pattern saya potong di size 38, tanpa perubahan apapun, kain gingham stok lama, kancing beli di Bali waktu liburan, interfacing di collar saya pake vlieseline H180 karena tidak ingin collar nya terlalu kaku.

Untuk jahit collar, seperti biasanya saya selalu mengikuti petunjuk di blog ini, karena setelah mencoba 3 versi jahit collar yang berbeda, saya lebih suka cara seperti di blog tsb.
Yang selalu saya ingat dan harus ingat adalah, untuk blouse atau kemeja wanita, lubang kancing berada di bagian kanan depan bodice dan kancingnya di jahit di bagian kiri bodice. :p *pengalaman pernah jahit terbalik bagian ini :D

Hasil jahitan menyenangkan :)  mungkin karena saya sudah beberapa kali  jahit kemeja yang sedikit lebih rumit dan bikin mumet kepala, sehingga untuk Nadine semuanya lancar.

Sabtu, 11 Juli 2015

La Maison Victor: Veste Mona

Majalah La Maison Victor (LMV) adalah majalah pola menjahit dan merajut dari Belgia. Majalah ini terbilang baru, terbit pertama kali di musim semi 2014. Awalnya mereka menerbitkan per musim (spring, summer, fall, winter). Namun sejak tahun 2015, LMV terbit per dua bulan. 

Berhubung negara Belgia menggunakan tiga bahasa (Belanda, Jerman dan Perancis - tergantung area ya), maka majalah ini pun mempunyai tiga versi bahasa. Terbitan yang masuk ke negara Perancis tentunya adalah yang berbahasa Perancis. Dan saat ini terbilang mudah untuk mendapatkannya. Bisa di kios majalah dan koran, atau di supermarket besar seperti Carrefour dan Auchan (bagian majalah dan koran). Bagaimana bagi konsumen yang lebih memakai bahasa Inggris? Saat ini LMV memang belum mengeluarkan versi berbahasa Inggris. Namun suatu hari nanti, siapa tahu?

Majalah LMV memiliki model-model pakaian yang lebih simple dibandingkan dengan majalah Burda. Namun kesederhanaan ini justru banyak menarik hati para pembaca (dan penjahit). Sebagian penjahit rumahan lebih memilih model pakaian yang bisa dikenakan sehari-hari. Oleh karena itu LMV berhasil masuk di pasaran dengan cepat. Apalagi bentuk fisiknya pun menarik dan menggunakan kertas yang tidak terkesan murahan. Memang dari segi harga, majalah ini lebih mahal daripada Burda. Namun dari sisi instruksi menjahit, LMV ini lebih jelas.



Dalam tulisan ini, saya akan membahas tentang "kontak" pertama dengan satu pola LMV. Jadi first trial nih ceritanya. Pola yang saya pilih adalah veste (vest) Mona dari terbitan Januari-Februari 2015. Kenapa saya memilih pola ini? Karena level kesulitannya rendah dan modelnya basic sekali, bisa dipadupadankan dengan mudah. Jaket pendek yang ringan ini cocok untuk dikenakan sehari-hari khususnya pada musim semi dan panas. Terkadang cuaca di musim panas itu tidaklah terlalu panas. Bahkan berangin sekali. Untuk itu, saya menilai bahwa veste Mona ini sesuai dengan kebutuhan sekarang. Ditambah lagi, saya memiliki sisa kain gabardine hitam kurang lebih satu meter. Saya sempat membaca di satu blog bahwa kain satu meter (lebar antara 140 dan 150 cm) bisa digunakan untuk membuat veste Mona. 



  • Kain: Gabardine katun semi stretch warna hitam dari Les Coupons de Saint Pierre
  • Size: 40


Review di bawah ini akan banyak menggunakan perbandingan dengan majalah Burda Style karena majalah Burda ini lebih banyak dikenal di pasaran.

REVIEW Kertas Pola




Kertas pola LMV terbilang lebih simple dibanding milik Burda karena model yang ditampilkan dalam majalah ini memang tidak sebanyak Burda. Jadi tumpukan gambar dan garis di kertas pola tidaklah terlalu melelahkan di mata dan tidak pula membuat takut (yah, banyak yang takut dengan kertas pola majalah Burda lho). Selain itu, bahan kertasnya sendiri sangat solid. Tidak seperti bahan kertas koran yang digunakan untuk pola majalah Burda. Di bagian sisi kertas pola ada petunjuk tentang nama pola yang ada di tiap lembaran. Jadi ini pun lebih memudahkan kita.

REVIEW Instruksi

LMV ini tidak pelit instruksi. Plus, ada beberapa ilustrasi yang menggambarkan bagian mana yang dikerjakan sesuai petunjuk tertulisnya. Oleh karena itu proses konstruksi menjadi lebih menyenangkan dibandingkan bila kita bekerja dengan pola majalah Burda.

REVIEW Konstruksi

Selain hal yang sudah dibahas di atas, bagian review ini juga memfokuskan pada ketepatan garis pola pada saat konstruksi. Menurut saya, ada bagian yang kurang pas saat dijahit untuk pola veste ini. Saya sempat berpikir bahwa kemungkinan saya yang tidak meng-copy pola secara tepat sehingga ada bagian-bagian yang tidak sesuai. Hal ini tidak dapat dikonfirmasikan sekarang karena tentunya saya membutuhkan second trial yang dimulai dari nol (copy pola lagi). Namun, saya tidak pernah mengalami hal seperti ini dengan pola di majalah Burda.

REVIEW hasil akhir

Terus terang, saya kurang puas dengan teknik dan instruksi pemasangan lengan. Hasilnya pun menjadi kurang pas. Setelah didedel dan dijahit lagi, hasilnya menjadi lebih baik. Ke depannya harus menggunakan teknik memasang sleeve yang baku.

SUMMARY

Secara umum, pola LMV cukup sederhana dan jelas. Tapi mungkin karena model pakaian veste Mona ini terbilang mudah. 


NEXT STEP : Membuat lining/furing. Tapi jadi PR nih karena saya (selalu) bingung kalau memilih kain lining yang bermotif. Untuk sementara ini, saya memakai veste Mona tanpa furing.


Note: Kalau kamu ingin melihat hasil jadi dari para sewing blogger untuk veste Mona, coba googling dengan keyword "veste mona la maison victor". Beberapa karya mereka lebih bisa menampilkan kesederhanaan dan keindahan veste ini.